14 Agustus, 2008


Pengunjung Perpustakaan Keliling

Didominasi Pelajar

Pengunjung Perpustakaan Keliling (Perpusling) di Kulon Progo didominasi pelajar SD hingga SLTA. Di beberapa titik pelayanan suasanannya hampir sama. Sebagian besar pengunjung menggunakan seragam sekolah. Sedangkan pengunjung umum dapat dihitung dengan jari.

Seperti yang terjadi saat dilakukan pelayanan perdana di halaman studio Radio Komunitas (Rakom) ’Swaradesa’ Brosot, Galur, Rabu (13/8). Pelayanan yang dilakukan pukul 11.00 – 12.00 WIB itu hampir semua pengunjungnya adalah siswa SDN Brosot yang kebetulan sedang istirahat.

Sekitar 40 anak tampak cukup antusias memanfaatkan layanan Kantor Perpustakaan Umum Kabupaten Kulon Progo tersebut. Mereka berebut untuk mendapatkan buku cerita atau jenis lain. Kemudian, dibaca di bamper belakang mobil Perpusling dan tempat duduk yang disediakan petugas.

Wikan Darmasanti, 12, mengaku senang dengan adanya layanan Pepusling itu karena. bisa menambah bahan bacaan yang disukainya. Buku yang tersedia di perpustakaan sekolah, kata dia, hanya sedikit dan sebagian besar merupakan buku teks pelajaran. Padahal, siswa kelas VI SDN Brosot itu mengaku senang membaca buku cerita dan ilmu pengetahuan.

Hal senada dituturkan teman sekelas Wikan, Galuh dan Rifka Arisanti. Kedua siswa itu juga menyukai buku cerita, terutama cerita anak-anak. ”Di sini buku ceritanya bagus-bagus dan saya belum pernah membacanya,” ujar Galuh, sambil membil membaca sebuah buku cerita petualangan.

Namun mereka kecewa karena pada layanan perdana itu petugas belum meminjamkan buku. Mereka pun rame-rame mendaftar kepada 2 petugas Perpusling yang dengan sabar melayaninya. Pada layanan perdana tersebut ada 39 pendaftar, semuanya siswa SDN Brosot.

”Sayang hari ini belum boleh pinjam dan masih harus menunggu 1 minggu lagi. Padahal saya kepingin membaca buku yang saya lihat tadi. Kalau bukanya bisa tiap hari akan sangat menyenangkan,” ujar Wikan.

Menurut salah seoarang petugas Perpusling, Subarini Amd, hampir semua titik layanan yang ia lakukan berada di sekitar lokasi sekolah. Di 18 titik layanan yang ia lakukan hanya ada 1 lokasi yang relatif jauh dengan sekolah, yakni di balai desa Ngentakrejo, Lendah.

”Kalau tidak di dekat lokasi sekolah pengunjungnya hanya sedikit. Seperti di balai desa Ngentakrejo, yang datang hanya warga yang rumahnya dekat dan perangkat desa setempat. Kalau di sekolahan lebih ramai, kami sering kewalahan untuk melayaninya,” ungkap alumnus Jurusan Perpustakaan UGM itu.

Lebih jauh Subarini menjelaskan, setiap hari rata-rata di seluruh wilayah Kulo Progo dilakukan layanan di 6 lokasi dngan 2 unit mobil. Di Kecamatan Samigaluh, Girimulyo, Kalibawang dan Naggulan dilakukan di kantor kecamatan. Sedang lainnya kebanyakan di sekolah-sekolah.

”Waktunya disesuaikan dengan jam istirahat sekolah, dengan waktu pelayanan sekiatar 1 jam. ”Itu waktu yang paling efektif bagi pengunjung, khususnya para pelajar,” tuturnya.

Tidak ada komentar: