11 Mei, 2008

SEMINAR KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA

Setiap Tahun Terdapat 2 juta Kasus Aborsi

Pada usia remaja secara biologis fungsi seksual sudah mulai bekerja dan mulai muncul ledakan-ledakan emosional seksual. Disisi lain sebenarnya organnya sendiri belum sempurna. Sehingga pada usia ini terjadi ketidakseimbangan antara keinginan aktifitas seksual dan keadaan fisik. Bila terjadi pemaksaan –pemaksaan dini dalam menjalankan fungsinya, maka keadaan ini sangat membahayakan keselamatan fungsi dan fisik organ reproduksi itu sendiri, khususnya bagi remaja perempuan. Dan kejadian inilah yang sering dijumpai di masyarakat remaja.

“Salah satu sumber masalah seks remaja secara biologis sebagai factor internal adalah pemaksaan dini dalam menjalankan fungsinya yang keadaan ini sangat membahayakan keselamatan fungsi dan fisik organ reproduksi itu sendiri khususnya remaja perempuan yang semestinya hal ini diberikan dan diajarkan kepada remaja dalam bentuk pendidikan kesehatan reproduksi, sehingga mereka mengenali dirinya sendiri, banyak remaja tersesat karena tidak tahu,”kata dokter penanggung jawab unit pelayanan reproduksi dan kontrasepsi RSUP Dr.Sardjito Yogyakarta dan staf bagian Kebidanan dan Kandungan Fakultas Kedokteran UGM, Dr.H.Hasto Wardoyo SpOG,KFER, ketika menjadi narasumber dalam acara Seminar Kesehatan Reproduksi Remaja yang diselenggarakan kerjasama K3M FK-UGM, Dinkes, YKI dan Subdin KB Kulonprogo di Gedung Kaca Pemda, Sabtu (10/5). Seminar dibuka Wakil Bupati Kulonprogo, Drs.H.Mulyono, dengan peserta perwakilan dari siswa sekolah menengah di wilayah Kulonprogo.

Bayaknya remaja tersesat karena belum tahu, lanjut Hasto kalau remaja putri tahu bahwa melakukan hubungan seks pada usia dini (15 tahun) atau kurang maka besok 5 sampai 10 tahun yang akan datang yang bersangkutan sangat beresiko terkena kanker mulut rahim, yang merupakan salah satu penyakit berbahaya menyerang kebanyakan perempuan, tentunya akan berfikir seribu kali untuk melakukannya.

Ia juga mengemukakan bahwa menurut catatan Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi, diperkirakan setiap tahun terjadi 2 juta hingga 2,6 juta kasus aborsi, sepertiganya dilakukan perempuan usia 15-24 tahun. Angka kasarnya setiap 100 kehamilan ada 43 kasus aborsi. Khususnya di Yogyakarta, data Perhimpunan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) terdapat remaja yang berkonsultasi mengenai kehamilan tidak dikehendaki di program Lentera Sahaja (sahabat remaja) rata-rata setiap bulan berkisar 30-50 remaja.

“Pendidikan seks harus segara dimulai sejak usia dini dilingkungan keluarga, yang diawali dengan memperkenalkan bahwa laki-laki perempuan itu berbeda, entah dari pakaiannya, tempat tidurnya dan teman pergaulannya. Pada tingkat remaja lebih ditingkatkan pendidikan seksual yang mengacu pada kepentingan memelihara adab perilaku dan masalah kesehatan reproduksi,”tuturnya.

Sementara Wakil Bupati Kulonprogo, Drs.H.Mulyono mengatakan sebenarnya penjelasan-penjelasan tentang kesehatan reproduksi remaja ini dapat diperoleh dari lingkungan keluarga, apabila pada keluarga tersebut ada keterbukaan dan hubungan yang harmonis. Namun ada perasaan malu kepada orang tua untuk menanyakan, atau ada keluarga yang menganggap tabu untuk membicarakan, bahkan ada anggapan yang mengatakan ketika tiba saatnya akan tahu sendiri. Sehingga tidak sedikit kejadian yang telah kita dengar dan saksikan dari berbagai media tentang kejadian yang menimpa para remaja kaitannya dengan kesehatan reproduksi remaja.

Tidak ada komentar: