06 September, 2008

MANUNGGAL FAIR DIGELAR AKHIR OKTOBER

Pendaftaran Dibuka Setelah Lebaran

Pameran Manunggal Fair 2008 dalam memeriahkan Hari Jadi Kabupaten Kulonprogo akan digelar akhir bulan Oktober atau tepatnya mulai (25/10) sampai (2/11) di jalan Seputar Alun-alun Wates. Sementara pendaftaran peserta akan dibuka setelah lebaran Idul Fitri 1429H mendatang.

Kepala Kantor Humas Kabupaten Kulonprogo selaku Ketua Umum penyelenggara Drs.R.Agus Santosa,MA didampingi Kasie Penerangan Masyarakat Kantor Humas M.Ettik Dwiwulanjari,SIP,MSi, Sabtu (6/9) menjelaskan pelaksanaan pameran Manunggal Fair 2008 mendatang, sebagai event dalam memeriahkan Hari Jadi Kulonprogo akan digelar selama 9 hari mulai (25/10) sampai (2/11), sementara bagi peserta pameran, panitia akan membuka pendaftaran setelah lebaran. Pendaftaran bagi instansi /dinas,kelompok binaan ,ormas,orpol dan LSM mulai (8/10) sampai (13/10) biaya gratis dengan fasilitas kavling 3X4 meter,tenda dan listrik 100 watt, sedangkan bagi peserta swasta mulai (14/10) sampai(18/10) fasilitas kavling 3X4 meter dengan harga disesuaikan lokasi, untuk kelas A di Selatan Alun-alun Rp.400.000,_, kelas B di Timur dan Barat Alun-alun Rp.350.000,- dan kelas C di Utara Alun-alun Rp.300.000,-.

Agus menambahkan dalam setiap pelaksanaan Manunggal Fair selalu terdapat mascot, dan untuk penyelenggaraan tahun ini untuk menyongsong selesainya pembangunan Pelabuhan Samudra di Karangwuni menggunakan mascot Perahu sekaligus merupakan symbol aktualisasi potensi sumberdaya kelautan di Kulonprogo. Sehingga tema yang diangkat adalah Kita Kembangkan Semangat Bahari Menuju Kulon Progo Go Internasional.

Dalam membangkitkan semangat bahari bagi warga masyarakat, Bupati Kulonprogo H.Toyo Santoso Dipo telah memerintahkan kepada para PNS dan para pelajar baik tingkat usia dini (PAUD),TK/SD,SMP dan SLTA untuk memasyarakatkan lagu Pelaut.

04 September, 2008


Menepis Krisis Melalui Puasa Ramadhan

Perilaku umat muslim di bulan suci ramadhan cenderung lebih konsumtif dan boros. Hal ini tidak sesuai dengan tujuan dan dan hikmah puasa, dimana seorang muslim harus mampu untuk mengendalikan diri. Baik mengendalikan makan, minum maupun hawa nafsunya. Permasalahan ini sangat umum terjadi dan tidak disadari. Karena tindakan yang dilakukan seperti sudah menjadi tuntutan agar seseorang tetap merasa nyaman dalam menjalankan puasa.

Sesungguhnya hal demikian tidak perlu dilakukan jika kita benar-benar menyadari akan arti dan hikmah berpuasa. Dengan demikian kita bisa belajar menyikapi permasalahan hidup dengan lebih baik. Seperti, menyikapi keadaan ekonomi kita yang dikatakan mengalami krisis dan cenderung menyebabkan pemenuhan kebutuhan hidup menjadi lebih sulit. Hal ini dapat kita hadapi dengan pola hidup yang lebih terkendali seperti menyisihkan harta yang kita miliki untuk ditabung (saving). Karena puasa juga mengajarkan kita bagaimana kita harus berperilaku hidup hemat seperti, menabung.

Demikian dikatakan Dr. Harwanto Dahlan Rabu (3/9), yang menjadi penceramah dalam acara pembukaan safari tarawih pemkab Kulon Progo di Gedung Kaca, Wates. Pembukaan safari juga diikuti oleh Bupati Kulon Progo H.Toyo Santoso Dipo, Wabup Drs. H. Mulyono, Ketua DPRD KUlon Progo Drs. H. Kasdiyono, Muspida, para pejabat eksekutif Kulon Progo, anggota DPRD Kulon Progo dan yang lainnya. Bertidak selaku imam tarawih adalah KH. Hamdiri dari Demen, Temon.

Perilaku hemat dengan menabung adalah cerminan bagaimana kita memikirkan masa depan kita maupun generasi penerus. Karena dengan menabung kita akan mampu membiayai kebutuhan hidup kita dan anak-anak kita terutama untuk masa-masa mendatang. “Pola hidup hemat dengan menabung (saving) juga dapat kita lihat di negara-negara maju seperti, Amerika Serikat, yang selalu memiliki tabungan untuk menjaga kestabilan perekonomiannya.” kata Harwanto.

Di sisi lain, kedatangan bulan ramadhan hendaknya bisa disambut dengan segala kebahagian karena sebagai bulan yang penuh rahmat, ramadhan juga mengajarkan kepada kita bagaimana kita berperilaku dan menjalani hidup. Dibulan ini kita bisa bersama-sama menjalankan ibadah ataupun melakukan amalan kebajikan yang lain. Setelah itu kita juga diajarkan untuk bisa saling memaafkan agar kita mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat, lanjutnya.

Sementara itu, menurut laporan Ketua Penyelenggara Ir. Agus Anggono, safari tarawih untuk tahun 2008 (1429 H) akan dilaksanakan sebanyak 14 kali. Yaitu, pembukaan yang dilaksanakan di Gedung DPRD Kulon Progo, 12 kali di 12 kecamatan se-Kulon Progo dan penutupan yang akan dilaksanakan di Rumdin Bupati Kulon Progo. “Safari ramadhan akan menjadi media untuk bersilaturahmi dan mempererat persaudaran dengan masyarakat di Kulon Progo. Selain itu, melaui dana infaq dan sodaqoh yang telah dikumpulkan, pemkab juga akan memberikan bantuan kepada beberapa tempat ibadah,” katanya.

01 September, 2008


Ribuan Warga Ikuti Nyadran Agung

Ribuan warga Kulon Progo, Sabtu sore (30/8) mengikuti upacara Nyadran Agung yang dilgelar di depan rumah dinas bupati. Upacara didahului dengan kirab gunungan dari gedung DPRD yang dipimpin oleh Assek II Ir Agus Anggono. Tiga gunungan nasi uduk, apem dan uba rampe itu diringi bregada kelompok kesenian dari 10 Desa Budaya di Kulon progo.

Dari gedung DPRD, kirab berjalan menuju rumah dinas bupati yang berjarak sekitar 0,5 km melalui depan kantor Pemkab dan alun-Alun wates. Peserta lain yang terdiri dari perangkat desa dan PNS di lingkunag Pemkab Kulon Progo melakukan kirab dati tirik lain, Ykni teteg kulon dan perempatan SGO. Kemudian masing-masing bertemu di kompleks rumah dinas bupati.

Bupati H Toyo Santoso Dipo yang telah menunggu bersama Wabup Drs H Mulyono dan Muspida Plus menyambut kedatangan peserta kirab yang hadir diikuti penampilan kelompok kesenian. Penampilan mereka berlangsung sekitar 1 jam.

Usai penampilan kelompok kesenian, dilakukan doa yang dipimpin oleh ulama setempat KH Abdullah Syarifudin, yang dilanjutkan pemotongan tumpeng oleh Bupati dan diserahkan Wakil Ketua DPRD Drs Sarwidi. Usai pemotong tumpeng 3 gunungan langsung diperebutkan oleh warga yang hadir. Sementara peserta nyadran termasuk warga perantauan makan bersama dengan Bupati Toyo dan seganap pejabat Pemkab.


PT KRAKATAU STEEL BERHARAP

Industri Pasir Besi Kulon Progo Segera Beroperasi

Manajemen PT Krakatau Steel (KS) berharap agar industri pasir besi di Kulon Progo dapat segera beroperasi. Sebab industri besi baja terbesar di Indonesia itu bermaksud untuk membeli pig iron (besi kasar) sebagai bahan baku. Pig iron dari Kulon Progo dinilai berkualitas tinggi, lebih bagus dibanding dari Amerika Selatan.

Demikian dikatakan Wabup Kulon Progo Drs H Mulyono di kantor Pemkab, Senin (1/9) menjelaskan hasil studi banding ke PT Krakatau Steel dan Pemkot Cilegon awal pekan lalu. Studi banding itu diikuti oleh beberapa pejabat di lingkungan Pemkab, dan berlangsung selama 3 hari.

Menurut Mulyono, pihak KS telah melihat sampel yang dikirim oleh PT Jogja Magasa Minning, hasil dari olahan percontohan yang dilakukan di Trisik. Dari sampel itu KS berpendapat bahwa kualitasnya lebih baik dibanding pig iron impor yang harus dibeli beli dengan harga berstandar intrenasional.

Kalau Kulon Progo sudah berproduksi, otomatis KS bisa membeli bahan baku dengan harga lebih murah, dDan jelas kualitasnya lebih baik, ujar Mulyono.

Lebih jauh Wabup menjelaskan, dengan studi banding itu ada 2 hal penting yang bisa dipelajari dari KS, untuk mengantisipasi bila industri pasir di Kulon Progo telah terealisasi. Yakni sharing antara Pemkab dengan investor untuk mengelola Cost Social Responbility (CSR) dan pengelolaan lingkungan. Dalam kedua hal ini, kata dia, yang dilakukan oleh KS dan Pemkot Cilegon cukup bagus.

“Dana CSR dikelola oleh lembaga independen, dan Pemkot hanya berperan sebagai fasilitator dan regulasi. Ini bisa dicontoh di Kulon Progo nanti, karena dana CSR nilainyua sangat besar. Direncanakan di Kulon Progo sebesar 3 % dari nilai produksi,” katanya.

Mulyono mengungkapkan, keberadaan PT KS di Cilegon mampu meningkatlan kesejahteraan daerah dan masyarakat setempat. Daerah yang dulunya berupa lahan tandus itu telah berkembang menjadi kawsan industri yang mampu menyerap banyak tenaga kerja. Dengan dibangunnya PT KS di jaman Presiden Soekarno, kemudian muncul industri-industri baru di sekitarnya.

Untuk pengelolaan lingkungan, menurut Mulyono, di KS juga dilaksanakan dengan baik. dimana telah terbentuk lembaga pengawas independen yang mengawasi seluruh proses industri dan dampaknya terhadap lingkungan. Baik lingkungan fisik, ekonomi, sosial dan budaya budaya bagi masyarakat sekitarnya.

“Beberapa hal yang kami pelajari dari KS, dipersiapkan untuk bisa diterapkan di Kulon Progo. Saya optimistis dalam waktu dekat industri pasir besi dapat segera terealisir, karena banyak warga masyarakat yang mengharapkannya. Secara teknis tinggal beberapa hal yang harus diselesaikan,” katanya.

30 Agustus, 2008

MUJAHADAH NYADRAN AGUNG DI RUMAH DINAS BUPATI

Semalam di rumah dinas bupati Kulonprogo berlangsung mujahadah. Kegiatan ini merupakan rangkaian Nyadran Agung yang digelar Pemkab Kulonprogo, Sabtu (30/8) sore nanti di halaman rumah dinas bupati atau di sebelah utara Alun-alun Wates. Mujahadah dipimpin oleh ketua NU Kulonprogo KH.Abdullah Syarifudin diikuti perwakilan 30 pondok pesantren. Turut serta Bupati Kulonprogo, H.Toyo Santoso Dipo, Wakil Bupati Drs.H.Mulyono, Sekda Drs.H.M.So'im,MM, Asisten Pembangunan Ir.H.Agus Anggono dan kepala SKPD dilingkup pemkab.
Sementara kegiatan Nyadran Agung hari ini, akan diawali dengan ngarak tumpeng dari Gedung DPRD yang dimeriahkan dengan kesenian dari desa budaya. Sedangkan peserta dari dinas/instansi , kecamatan serta kelurahan yang membawa tumpeng berangkat di titik yang telah ditunjuk meliputi Tetek Barat, halaman pemkab, perempatan UNY.
Menurut Yudono Hindriatmoko, selaku panitia, kegiatan yang dipusatkan di halaman rumah dinas bupati dengan peserta berbusana jawa, menurut rencana akan dihadiri Gubernur DIY, dan juga warga perantauan asal Kulonprogo.

PUASA, JAM KERJA PNS DIKURANGI

Berkenaan dengan datangnya bulan suci Ramadhan 1429 H/2008, maka dalam rangka lebih meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT dalam kehidupan sehari-hari, khususnya bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Pemkab Kulonprogo, jumlah jam kerja dikurangi.

Sekretaris Daerah Kulonprogo,Drs.H.M.So'im,MM, Sabtu (30/8) mengatakan, dengan tidak mengurangi keutamaan bulan suci Ramadhan serta tidak mengabaikan kelancaran tugas dan efektifitas kerja, maka jam kerja selama bulan suci Ramadhan, hari Senin sampai Kamis pukul 08.00 WIB s/d 14.00 WIB, hari Jum'at pukul 08.00 WIB s/d 11.00 WIB dengan ditiadakan kegiatan SKJ/senam, dan Sabtu pukul 08.00 WIB s/d 12.30 WIB.

"Kepada para PNS yang beragama Islam agar dapat menunaiakan ibadah puasa sesuai syariat agama islam dan memperbanyak amalan-amalan keutamaan bulan suci dengan dilandasi iman dan taqwa serta semangat pengabdian yang tinggi sebagai cerminan akhlaqul karimah sebagai unsure aparatur Negara," pinta So'im.

Sementara kepada PNS yang beragam lain agar dengan semangat toleransi dan kerukunan hidup antar umat beragama tidak menampakkan makan, minum dan atu merokok pada waktu siang hari di kantor maupun di tempat umum.

29 Agustus, 2008

Religi

BUPATI DAN MUSPIDA SAFARI TARAWIH

Bupati Kulonprogo H Toyo Santoso Dipo beserta Muspida plus , kepala dinas/badan/kantor/bagian/instansi di lingkungan pemkab Kulonprogo akan melaksanakan Safari Tarawih 1429 H yang diselenggarakan 14 putaran. Safari tarawih di mulai Rabu (3/9) di Gedung DPRD, dilanjutkan 12 putaran di wilayah kecamatan dan penutupan di rumah dinas bupati.

Dikatakan Kepala Kantor Humas Kulonprogo,Drs.R.H.Agus Santosa,MA, Jum’at (29/8), kegiatan safari tarawih tahun ini tidak dijadwalkan di kantor-kantor Muspida dan BUMD/BUMN, namun lebih diperbanyak mendekatkan dengan masyarakat, sehingga pelaksanaan di masjid-masjid yang ditunjuk oleh pemerintah kecamatan, termasuk di dalamnya acara peringatan Nuzulul Qur’an yang dijadwalkan Senin (15/9) di Masjid Al Husna desa Pandowan Kecamatan Galur. “Dalam kegiatan ramadhan, Bupati dan rombongan untuk safari tarawih ke wilayah kecamatan-kecamatan, ada yang didahului dengan buka puasa terutama yang lokasinya jauh yakni di Samigaluh dan Kalibawang, sedangkan yang dekat tanpa buka puasa,”kata Agus.

Sedangkan jadwal selengkapnya, Rabu (3/9) di Gedung DPRD, Kamis (4/9) di Masjid Baiturrohim Trayu,Ngargosari Samigaluh, Senin (8/9) Masjid Al Hidayah Dlaban Sentolo, Selasa (9/9) Masjid Al Hidayah Karangwuluh Temon, Kamis (11/9) Masjid Al Huda Jetis Pendoworejo Girimulyo, Jum’at (12/9) Masjid At Taqwa Pundak Tegal Kembang Nanggulan, Senin (15/9) Masjid Al Husna Pandowan Galur, Selasa (16/9) Masjid Baitul Al Fath Sremo Lor Hargowilis Kokap, Kamis (18/9) Masjid Al Iman Kulwaru Wates, Jum’at (19/9) Masjid Bairurohman Tonegoro, Banjarroya Kalibawang, Senin (22/9) Masjid Nurul Huda Mirisewu Ngentakrejo Lendah, Selasa (23/9) Masjid Al Muttaqien Krembangan Panjatan, Kamis (25/9) Masjid Nurul Iman Karangtengah Kidul Margosari Pengasih dan Jum’at (26/9) di Rumah Dinas Bupati..

28 Agustus, 2008

tradisi


WARGA PEDUKUHAN KALANGAN
Menggelar Tayub Sebagai ‘Tolak Bala’

Bagi warga Pedukuhan Kalangan, Desa Bumirejo, Kecamatan Lendah, menggelar kesenian tayub merupakan tradisi tahunan yang sudah dilakukan sejak jaman dulu. Bukan hanya sebagai hiburan semata. Namun merupakan ritual ‘tolak bala’ untuk menghindari berjangkitnya berbagai jenis penyakit.
Tahun ini tradisi itu dilaksanakan Kamis (28/8) di kompleks makam Kemuning, yang merupakan makam cikal bakal warga Kalangan, Nyi Ebrek. Sebelumnya kesenian tayub digelar, dilakukan kirap sesaji berupa nasi uduk, ‘ingkung’ dan jajan pasar dari rumah dukuh setempat, Sri Hastuti. Kemudian dilakukan doa oleh sesepuh pedukuhan Ny. Pujo Suwito di cungkup makam Nyi Ebrek.
Selain sesaji, di cungkup makam terkumpul 48 uba rampe dari warga yang melepas nadar karena keinginanya telah terkabul. Uba rampe juga berupa nasi uduk, ingkung dan jajan pasar dengan wadah pengaron (Jw : tempayan) berukuran sedang. Usai pergelaran tayub uba rampe tersebut dibagikan kepada warga yang hadir.
Menurut salah seorang sesepuh warga Kalangan, Noto Suwarno (70), Nyi Ebrek adalah seorang tokoh sakti yang berasal dari keluarga kraton Mataram. Suatu saat, karena berkonflik dengan keluarga kraton ia pergi dari lingkungan karaton dan hidup mengembara.
Selain sakti, tutur Noto, Nyi Ebrek juga punya kemampuan untuk menyembuhan berbagai penyakit. Dalam pengembaraannya itu Nyi Ebrek berupaya untuk meningkatkan kemampuan dan kesaktiannya dengan bertapa di Pandan Segegek, sebuah tempat keramat di pantai selatan Kulon Progo.
“Setelah bertapa dan ilmunya semakin tinggi, Nyi Ebrek kemudian menetap di Desa Kalangan. Ia mampu menyembuhkan berbagai penyakit, dan kemudian menjadi tabib terkenal. Banyak warga dari desa lain yang terkena penyakit berat datang berobat kepadanya, dan bisa disembuhkan,” papar Noto.
Dikatakan Noto, selain pandai mengobati penyakit, Nyi Ebrek mempunyai kegemaran untuk nanggap ledhek (tayup). Pada waktu-waktu sengang ia sering memerintahkan pembantunya, Ki Bagus Sugiman, untuk mengundang penari tayub. “Saat akan meninggal ia berpesan kepada warga Kalangan agar kegemarannya untuk nanggap tayub itu dilestarikan. Kalau tidak, warga akan terkena pagebluk berupa berjangkitnya berbagai jenis penyakit,” katanya.
Sejak saat itu, ujar Noto, secara rutin warga Kalangan melaksanakan tradisi nanggap tayub setiap tahun. Waktunya setiap tanggal 25 bulan Ruwah, sesuai kebiasaan Nyi Ebrek. Namun sejak kapan tradisi itu mulai dilakukan, Noto mengaku tidak tahu. “Tidak ada warga yang tahu. Setahu saya sejak jaman simbah tradisi tayub sudah ada,” katanya.
Menurut warga lain, R Supadyo (45), pada malam Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon di makam Kemuning sering ada warga yang nenepi dengan tujuan agar cita-citanya terkabul. Yang nenepi, kata dia, bukan hanya warga Kalangan saja namun juga dari luar desa, bahkan ada yang dari luar daerah. Keperluannnya bermacam-macam, ada yang minta diberi keselamatan, penyakitnya sembuh, agar mendapat pekerjaan dan lain-lain.
“Kebanyakan yang nenepi di sini kemauannya bisa terkabul. Terbukti mereka kemudian menyerahkan uba rampe sebagai wujud untuk melepas nadar,” imbuhnya.

lingkungan

Lahan Kritis Berkurang 700 Hektar

Selama 3 tahun terakhir, lahan kristis di wilayah Kulon Progo mengalami penurunan seluas 700 hektar (ha). Dari seluas 7.396,2 ha pada tahun 2005, di tahun 2007 berkurang menjadi 6.696,2 ha atau sekitar 9,4 %. Diperkirakan, setiap tahun lahan kritis akan mengalami penurunan sebagai hasil dari upaya konsevasi dan rehabilitasi yang dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat.

Demikian dikatakan Kepala Seksi (Kasie) Rehabilitasi dan Konservasi Lahan pada Dinas Pertanian dan Kelautan Kabupaten Kulon Progo Basir Amry STp, Kamis (27/8) di ruang kerjanya. Penurunan tersebut, kata dia, salah satunya merupakan hasil dari pelaksanaan Gerakan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (Gerhan) yang dicanangkan pada tahun 2003 lalu.

Menurut Basir, Gerhan memiliki pengaruh cukup besar untuk memotivasi masyarakat dalam melakukan konservasi dan rehabilitasi lahan. Secara kelompok masyarakat melakukan penanaman berbagai jenis tanaman kayu-kayuan maupun Multy Porpuse Trees Species (MPTS) di areal hutan rakyat (HR) serta areal percontohan, ujarnya.

Saat ini, tambahnya, di Kulon Progo terdapat 44 kelompok tani (Klomtan) yang mengelola lahan seluas 1.100 ha. Seluruh areal berada di kawasan Pebukitan Menoreh yang meliputi 7 kecamatan, yakni Kecamatan Samigaluh, Kalibawang, Girimulyo, Nanggulan, Sentolo, Kokap dan Pengasih. “Luas areal yang tergarap itu masih relatif sedikit dibanding luas hutan rakyat di Kulon Progo yang mencapai 17.031 ha, dengan lahan potensi kritis seluas 8.864,” terangnya.

Namun ia opotimistis lahan potensi kritis itu bisa segera tergarap. Karena respon masyarakat terhadap Gerhan cukup baik. Setiap klomtan telah menginventarisir lahan potensi kritis di wilayahnya dan mengajukan permohonan bantuan bibit tanaman. “Setiap tahun permintaan bantuan bibit dari masyarakat jumlahnya ratusan ribu batang,” tuturnya.

Disamping itu, jelas Basir, keberhasilan pemeliharaan tanaman oleh masyarakat juga sangat bagus. Dari hasil monitoring tim Satuan Tugas (Satgas) Gerhan Provinsi DIY dinyatakan bahwa angka pertumbuhan tanaman di areal pelaksanaan Gerhan untuk jenis kayu-kayuan mencapai 87,28 % dan MPTS 84,19 %, ujarnya.

Namun demikian, mantan Kepala Cabang Dinas (KCD) Pertanian dan Kelautan Kecamatan Temon itu menyatakan bahwa pelaksanaan Gerhan masih menghadapi masalah klasik. Yaitu adanya keterlambatan Daftar Isian Pagu Anggaran (DIPA) dari Pemerintah Pusat. Keterlambatan itu menyebabkan pengadaan dan distribusi bibit tanaman kepada masyarakat juga terlambat.

“Idealnya bibit tanaman bisa didistribusikan sebelum musim penghujan. Namu karena DIPA terlambat dan sering harus dilakukan revisi dulu, pengadaan dan distribusinya baru bisa dilakukan pada akhir musim penghujan dan ditanam di awal musim kemarau. Kami selalu dikritik masyarakat tentang hal ini, tetapi tak mampu berbuat banyak,” keluhnya.

SABTU DIGELAR RITUAL NYADRAN AGUNG

Seperti tahun-tahun sebelumnya, setiap bulan Ruwah atau menjelang bulan puasa ramadhan Pemkab Kulonprogo menyelenggarakan kegiatan ritual Nyadran Agung. Khusus bulan ruwah kali ini akan berlangsung Sabtu (30/8), yang didahului dengan Tahlilan Jum'at (29/8) malam di halaman Rumah Dinas Bupati.
Menurut Kepala Kantor Humas Kulonprogo,Drs.R.Agus Santosa,MA, Kamis (28/8)menjelaskan kegiatan Nyadran Agung tahun ini berbeda dengan tahunlalu. Dulu peserta berkumpul di Gedung DPRD Kulonprogo baru berangkat berurutan menuju lokasi Nyadran Agung di kompleks Rumah Dinas Bupati. Kali ini akan disebar dititik-titik lokasi.
Namun rombongan yang dari gedung DPRD tetap ada, yang terdiri kelompok -kelompok seni budaya yang berasal dari desa budaya.
Sedangkan yang lain akan diberangkatkan dengan titik yang telah direncanakan meliputi halaman kantor pemkab, teteg kereta api barat, perempatan UNY.
Nyadran akan dihadiri perwakilan warga Kulonprogo diperantauan yang berasal dari beberapa kota besar. Dalam Nyadran Agung tetap ada tumpeng gunungan palawija dan apem. Semua peserta baik dari instansi hingga desa menggenakan busana jawa.