18 Juli, 2008

AGENDA
Turnamen Sepak Bola Toyo S Dipo Cup

Digelar 22 Juli sampai dengan 13 Agustus 2008 di Alun-Alun Wates setiap hari mulai pukul 15.00 WIB. Khusus tanggal 26 Juli kan digelar di 2 tempat, Alun-Alun Wates dan stadion Cangkring.

17 Juli, 2008

DIGELAR SETELAH LEBARAN

Perahu Maskot Manunggal Fair 2008

Perahu menjadi maskot dalam Pameran Manunggal Fair 2008 yang rencananya akan digelar setelah Hari Raya Idul Fitri mendatang atau tepatnya mulai Sabtu (25/10) hingga Minggu (1/11). Sedangkan tempat penyelenggaraan masih seperti tahun-tahun sebelumnya yakni di jalan lingkar seputar Alun-alun Wates.

Kepala Kantor Humas Kabupaten Kulonprogo Drs.R.Agus Santosa,MA , Kamis (17/7) mengatakan kegiatan rutin tahunan Manunggal Fair tahun 2008 akan berlangsung setelah Hari Raya Idul Fitri mendatang, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yang digelar sebelum bulan Ramadhan. “Manunggal Fair 2008 waktu penyelenggaraan berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang digelar dalam rangka menyongsong Hari Jadi Kulonprogo yakni sebelum bulan puasa dan bersamaan dengan kegiatan Nyadran Agung, tahun ini pelaksanaannya dalam memeriahkan Hari Jadi karena setelah peringatan Hari Jadi 15 Oktober, dengan maskot Perahu, sedang tempat di jalan seputar Alun-alun Wates,”jelas Agus.

Ditambahkan Agus, dipilihnya Perahu sebagai maskot dalam Manunggal Fair 2008 mendatang, untuk memasyarakatkan semangat cinta bahari, terlebih lagi pembangunan pelabuhan perikanan Glagah akan segera beroperasi setelah dibangunnya pemecah gelombang di muara sungai Serang yang menjadi pintu masuk pelabuhan tahun ini.

Menyongsong pelabuhan perikanan Glagah yang telah siap operasi dalam waktu dekat, saat ini Pemkab Kulonprogo sangat gigih membangkitkan kembali semangat cinta bahari bagi warganya. Selain mendirikan tempat pendidikan berupa SMK Kelautan di Temon, melalui Surat Edaran (SE) Bupati Kulonprogo warga masyarakat Kulonprogo dihimbau menyanyikan lagu ‘Pelaut’ dan ‘Perahu Layar’ dalam setiap acara di lingkungan kerja pemerintahan, mulai dari tingkat kabupaten sampai desa, dan anak –anak di Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), SD,SMP,SMA/SMK.

Agenda Kegiatan-kegiatan

1. Hari/Tanggal : Sabtu, 26 Juli 2008
Jam : 15.00 WIB
Tempat : Lapangan Brosot, Galur
Acara : Pembukaan kegiatan pemberdayaan potensi lokal

2. Hari/Tanggal : Sabtu, 26 Juli 2008
Jam : 20.00 WIB
Tempat : Balai Desa Tawangsari
Acara : Wayang Kulit dalam rangka syukuran bersih desa, dengan Dalang Ki Timbul Cermo Manggolo

3. Hari/Tanggal : Minggu, 27 Juli 2008
Jam : 09.00 WIB
Tempat : Pendopo Kecamatan Temon
Acara : Wisuda Santri BADKO TKA - TPA Rayon Temon

4. Hari/Tanggal : Senin, 28 Juli 2008
Jam : 09.00 WIB
Tempat : Gedung Kesenian Wates
Acara : Peringatan Hari Anak Nasional

5. Hari/Tanggal : Selasa, 29 Juli 2008
Jam : 19.30 WIB
Tempat : Kadus Prangkokan, Purwosari, Girimulyo
Acara : Wayang Kulit dalam rangka syukuran bersih dusun Prangkokan, dengan Dalang Ki Rubiyanto

6. Hari/Tanggal : Kamis dan Rabu / 7 dan 13 Agustus 2008
Tempat : Desa Budaya Jatimulyo, 7 Agustus 2008 pukul 09.00 - 10.30 WIB
Desa Budaya Pagerharjo, 7 Agustus 2008 pukul 11.30 - 12.30 WIB
Desa Budaya Banjarharjo, 7 Agustus 2008 pukul 14.00 - 15.00 WIB
Desa Budaya Sendangsari, 13 Agustus 2008 pukul 09.00 - 10.00 WIB
Desa Budaya Hargomulyo, 13 Agustus 2008 pukul 11.00 - 12.00 WIB
Acara : Festifal Desa Budaya Tingkat Provinsi DIY

16 Juli, 2008

PANEN PADI DILAKUKAN MALAM HARI

Untuk Hasilkan Jerami Maksimal

Warga Desa Karangsari Kecamatan Pengasih sudah beberapa tahun terakhir ini melakukan Panen Padi pada malam hari disaat orang lain sedang tertidur lelap. Hal ini dilakukan oleh sebagian warga Karangsari sebelah utara meliputi warga Dusun Blumbang, Kamal, Kedungtangkil dan Ringin Ardi yang lokasi sawahnya di bulak Kamal dan Ngrancah. Saat padi Musim Tanam (MT) II kali ini telah menguning dan siap panen, kembali warga keempat dusun melakukan panen malam hari, usai matahari terbenam hingga tengah malam.

Beberapa warga merasa nyaman dengan panen yang dilakukan malam hari. Disamping tidak merasa cepat lelah hasil yang dicapai lebih banyak dibanding saat siang hari yang cepat lelah karena kepanasan. Namun dibalik itu, alasan yang utama sebenarnya untuk memperoleh Jeramiyang banyak sebagai makanan pokok ternaknya, karena disiang hari banyak warga yang mencari Jerami untuk pakan ternak, sehingga sering terjadi yang punya padi tak kebagian Jerami hanya membawa pulang gabahnya saja.

Seperti yang dikatakan Suwidi warga Blumbang, yang setiap panen selalu dilakukan malam hari bersama keluarga dan tetangga. “Panen malam hari lebih banyak hasilnya, ndak cepat lelah, namun yang penting dapat membawa pulang Jerami dalam jumlah yang banyak untuk stok makanan ternak, karena setelah panen sudah ganti Palawija, terlebih sekarang Jerami sudah sekelas dengan rumput Kolonjono maupun Tebon Jagung yang harganya seikat sekitar Rp.10 ribu bahkan lebih,”katanya.

Hal senada di katakan Rubiyo dan Suwaji yang melakukan panen padinya, Selasa (15/7) kemarin hingga pukul 12 malam. Panen yang dilakukan warga umumnya dilakukan bertepatan dengan datangnya bulan purnama sehingga warga menghemat biaya penerangan dan kondisi tanahnya sudah sedikit mengering. Namun untuk mengantisipasi cuaca apabila mendung dan gelap warga menyiapkan lampu minyak /petromak.

HARI KRIDA PERTANIAN KE-36

Wagub Menjamin Warga DIY Tak Kelaparan

Wakil Gubernur DIY, Sri Paku Alam IX menjamin bahwa warga masyarakat Yogyakarta tidak akan mengalami kelaparan disebabkan kekurangan pangan seperti terjadi di negara-negara Afrika karena tidak mampu lagi mencari bahan makanan. Meskipun ada sebagian warga yang teriak-teriak mahalnya harga beras, masih banyak yang bisa dimakan selain beras dengan memanfaatkan pangan lokal berupa umbi-umbian seperti Gembili, Ketela, Uwi, Jagung dan Pisang.

Hal tersebut dikatakan Wagub DIY, dalam acara Peringatan Hari Krida Pertanian ke-36 sekaligus Gerakan Konsumsi Pangan Lokal Makanan Khas Nusantara di Kantor Desa Salamrejo, Kecamatan Sentolo, Rabu (16/7). Turut hadir Bupati Kulonprogo,H.Toyo Santoso Dipo, Ketua DPRD Kulon Progo Drs.H.Kasdiyono, Kadinas Pertanian Propinsi DIY, Ir.Nanang Iswandi,MMA, Kadinas Pertanian dan Kelautan Kabupaten Kulonprogo Ir.Agus Langgeng Basuki, Camat Sentolo Drs.Jazil Ambar Was’an dan Kades Salamrejo RS.Harjanto. Dalam kesempatan tersebut Wagub menyaksikan Lomba Cipta Menu Pangan Beragam Bergizi dan Berimbang serta aman dikonsumsi dari bahan hasil olahan pangan lokal perwakilan PKK 12 kecamatan di Kulonprogo dan menyerahkan bantuan beras 500 kg untuk 50 KK miskin.

Wagub mengajak warga masyarakat Yogyakarta untuk mensyukuri nikmat dan karunia Tuhan yang telah diberikan berupa kondisi daratan yang sangat subur, tanaman yang ditanam dapat tumbuh. “Bangsa Indonesia diberikan kondisi daratan di wilayah tropis khatulistiwa yang sangat subur, apa yang ditanam bisa tumbuh, namun kenyataan dilapangan kurang mensyukuri karunia Tuhan, padahal bangsa lain cemburu dengan kita, untuk itu marilah kita manfaatkan kesuburan tanah ini untuk menanam segala yang bisa ditanam guna memenuhi kebutuhan hidup kita,”pesan Wagub.

Sementara Bupati Kulonprogo H.Toyo Santoso Dipo mengatakan pangan merupakan kebutuhan manusia paling azasi, sama kedudukannya dengan hak-hak manusia lainnya. Ketersediaan pangan yang cukup dan berkualitas benar-benar merupakan aspek yang strategis dari sisi politik. Strategi dan kebijakan pembangunan pertanian di kabupaten Kulonprogo khususnya di bidang penyediaan pangan di arahkan untuk penyediaan pangan yang beragam, bergizi dan berimbang serta aman dikonsumsi namun tetap memenuhi kaidah hidup sehat. Harapan tersebut dicapai melalui berbagai pendekatan di antaranya dengan meningkatkan pemanfaatan potensi sumber daya pangan local.

10 Juli, 2008

HUT Koperasi Ke-61

Bupati :

KOPERASI JANGAN ALERGI

DENGAN FASILITAS DARI PEMERINTAH

Koperasi hendaknya jangan merasa alergi dengan fasilitas yang disediakan oleh pemerintah, karena fasilitas yang disediakan pemerintah semata-mata hanya untuk memajukan koperasi dan kesejahteraan anggotanya. Hal tersebut disampaikan oleh Bupati Kulon Progo H. Toyo S Dipo, sebagai key note speaker dalam Lokakarya “Koperasi dan Ekonomi Kerakyatan Sebagai Sistem Bukan Sebagai Kebijakan Makro” di Gedung Kaca, Selasa (8/7).

Menurut Toyo, selama ini koperasi merasa alergi dengan fasilitas yang disediakan oleh pemerintah karena takut akan campur tangan pemerintah terhadap koperasi. Hal tersebut sebenarnya tidak perlu ditakuti, karena fasilitas pemerintah yang telah diberikan kepada koperasi murni menjadi hak koperasi untuk mengelolanya untuk kemakmuran anggota dan masyarakat. “Memang idealnya koperasi harus bisa hidup tanpa fasilitas dari pemerintah. Tapi jika pemerintah menyediakan fasilitas, koperasi harus mengejarnya walau sampai ke ujung dunia”, ujar Toyo.

Koperasi telah terbukti dapat membangun ekonomi kerakyatan, hal ini terbukti saat krisis moneter yang melanda bangsa Indonesia pada akhir dekade 90-an yang lalu. Pada saat itu para kalangan ekonom internasional memprediksi Indonesia bangkrut, namun karena kekuatan ekonomi kerakyatan, maka bangsa Indonesia dapat terhindar dari kebangkrutan.

Selain Bupati H. Toyo S Dipo, Lokakarya tersebut juga menghadirkan Awan Santosa, dosen Universitas Mercu Buana Yogyakarta sekaligus peneliti dari Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM. Lokakarya yang dilaksanakan dalam rangka HUT Koperasi yang ke 61 tersebut di ikuti sekitar 125 orang dari kalangan pemerintahan dan praktisi koperasi dari kabupaten kota se DIY.

07 Juli, 2008

BANTUAN SOSIAL RP.445 JUTA DISERAHKAN

BUPATI : Bukan Uang Pribadi Tapi Pemkab

Bantuan sosial yang berasal dari dana APBD Kabupaten Kulonprogo Tahun 2008 meliputi bantuan keagamaan, kepemudaan, kesenian dan ormas diserahkan, Senin (7/7) di Gedung Kaca.

Bantuan secara simbolis diserahkan Bupati Kulonprogo H. Toyo Santoso Dipo kepada tujuh orang perwakilan penerima. Turut hadir Asisten Pembangunan Ir.H.Agus Anggono, Kadinas Kebudayaan dan Pariwisata Drs.Bambang Pidegso,M.Si.

Asisten Pembangunan Ir.H.Agus Anggono menjelaskan bantuan sosial yang bersumber dari APBD Kulonprogo 2008 jumlah keseluruhan Rp.445.650.000,- diperuntukkan 116 tempat ibadah sejumlah Rp.135.250.000,-, tujuh Desa Binaan Keluarga Sakinah (DBKS) Rp.7 juta, 8 Pondok Pesantren sejumlah Rp.65,5 juta, 26 kelompok pemuda dan karang taruna se-Kecamatan Girimulyo Rp.24 juta, 137 kegiatan pemuda dan olah raga Rp.110,9 juta, Kwarcab Pramuka Rp.50 juta, PEPADI Rp.7,5 juta, empat orang Sarjana Penggerak Pembangunan Pedesaan (SP3) Rp.10 juta, dan Rp.35,5 juta untuk 19 group kesenian serta dua kegiatan upacara adat

Bupati Kulonprogo H. Toyo Santoso Dipo menegaskan bantuan yang diberikan bukan berasal dari pribadinya atau dari siapapun termasuk anggota DPRD, tetapi berasal dari anggaran pemerintah kabupaten yang berarti uang rakyat.

Hal tersebut berulang kali dikatakan menginggat banyaknya laporan yang diterima Bupati adanya ulah segelintir orang yang memberikan informasi keliru yang bertujuan untuk kepentingannya menjelang Pemilu 2009 mendatang.

Ditambahkan kepada para penerima bantuan, dimanfaatkan sesuai dengan permintaan dalam proposal sehingga tidak terjadi penyimpangan yang akhirnya akan berurusan dengan pihak berwajib. ”Jangan ada penyimpangan dalam melaksanakan bantuan, kalau untuk membangun mushola ya gunakan untuk membangun musola, jangan untuk kepentingan pribadi, daripada harus berurusan dengan polisi, kalau merasa ada penyimpangan sebelum ketahuan cepat dikembalikan,”pintanya.

04 Juli, 2008

SENAM DAN JALAN SANTAI HARI KOPERASI

Dalam rangka memeriahkan Hari Koperasi ke 61 tahun 2008 . Panitia Kabupaten Kulonprogo menyelenggarakan kegiatan Senam Massal dan Jalan Santai. Kedua kegiatan berlangsung Jum'at (4/7). Senam di Alun-Alun Wates sedangkan Jalan santai mengelilingi kota Wates.
Bupati Kulonprogo, H.Toyo Santoso Dipo, Wabup Drs.H.Mulyono, Ketua DPRD Drs.Kasdiyono Muspida turut serta disamping para karyawan pemkab, Polri, Kodim dan masyarakat umum.
Peserta jalan santai disediakan ratusan hadiah doorprize yang diundi setelah usai acara.

PENYEBAB PERCERAIAN TERTINGGI KARENA SELINGKUH

Banyaknya kasus perceraian di Kabupaten Kulonprogo disebabkan karena selingkuh. Alasan tersebut menjadi factor dominan dalam setiap adanya penyebab keretakan rumah tangga yang berujung perceraian.

Bupati Kulon Progo, H.Toyo Santoso Dipo mengatakan hal itu, menanggapi adanya permohonan tanda tangan perceraian dari para PNS yang sering terjadi di lingkup karyawan Pemda.

“Banyaknya perceraian disebabkan adanya salah satunya karena selingkuh, namun demikian kalau surat permohonan ke Saya perceraian itu ditanda tangani, saya tidak mau, soalnya kasihan dengan anak-anaknya yang jadi korban dan Bupatinya ikut menanggung dosa karena menyetujui perceraiannya, jadi jangan harap akan saya tanda tangani ” kata Toyo.

Sesuai dengan data di Bawasda maupun BKD Kulonprogo, kasus perceraian para PNS kebanyakan dilakukan oleh para pendidik atau guru.

03 Juli, 2008

SARESEHAN DESA BUDAYA

Harus Membawa Manfaat dan Kesejahteraan

Untuk meningkatkan kemampuan SDM pengelola Desa Budaya di Kabupaten Kulonprogo. Dinas Kebudayaan Propinsi DIY bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kulon Progomenggelar Saresehan sehari dengan tema Nilai-nilai Budaya Jawa sebagai Landasan Pembangunan untuk mewujudkan masyarakat Yogyakarta Ayom-Ayem, Tata Tentrem, Karta Raharja.

Saresehan diikuti 100 peserta dari perwakilan 10 desa budaya di buka Sekda Drs.H.So’im,MM, di Gedung Kaca, Kamis (3/7). Dengan menampilkan pembicara Budayawan Ir.H.Yuwono Sri Suwito tentang Kearifan Lokal sebagai dasar pembangunan, Dosen Fakultas Ushuludin UIN Sunan Kalijaga Drs.Mohammad Damami M.Ag, tentang Manajemen Pengelolaan Desa Budaya dan Kabid Bina Program Dinas Kebudayaan Propinsi DIY Ir.H.Nuk Prasetyo,MM dengan materi Desa Budaya Komponen pembentuk predikat DIY pusat budaya terkemuka.

Bupati Kulonprogo H Toyo Santoso Dipo dalam sambutan tertulis yang dibacakan Sekda Drs.H.So’im,MM mengatakan setelah terbentuk desa budaya adalah menjadi desa wisata. Banyak hal yang perlu disiapkan baik fisik maupun non fisik. Fisik mudah diantisipasi seperti fasilitas transportasi, akomodasi sementara non fisik sulit seperti kesiapan sosial psykologis dari masyarakat. ”Walaupun jalan menuju terciptanya desa wisata relatif masih jauh namun perlu dipersiapkan matang, tidak merugikan masyarakat tetapi harus mampu membawa kemanfaatan atau kesejahteraan,”harapnya.

Menurut Kasie Adat Subdin Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kulonprogo, Drs.Yudono Hindriatmoko, jumlah desa budaya sesuai SK Gubernur DIY sejumlah 10 desa meliputi Desa Pagerharjo Kecamatan Samigaluh, desa Jatimulyo Kecamatan Girimulyo, desa Banjarharjo Kecamatan Kalibawang, desa Tanjungharjo Kecamatan Nanggulan, desa Sendangsari Kecamatan Pengasih, desa Sukoreno Kecamatan Sentolo, desa Sidorejo Kecamatan Lendah, desa Brosot Kecamatan Galur, desa Hargomulyo Kecamatan Kokap dan desa Glagah Kecamatan Temon. Untuk memberikan motivasi kepada desa-desa budaya, dalam bulan Agustus mendatang akan dilakukan Lomba Desa Budaya dengan peserta lima desa. Penilaian direncanakan Kamis (7/8) untuk Desa Pagerharjo Samigaluh, desa Jatimulyo Girimulyo, dan desa Banjarharjo Kalibawang dan Kamis (14/8) desa Sendangsari Pengasih dan desa Hargomulyo Kokap.