12 Mei, 2008

BBM BELUM NAIK RAKYAT KECIL SUDAH MENJERIT

Meski pemerintah belum secara resmi mengumumkan waktu kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), namun dampak dari rencana tersebut telah membuat rakyat kecil menjerit terutama yang sehari-hari pendapatan dari jualan bensin eceran.
Sejak pemerintah berencana menaikkan harga BBM, para pengecer kesulitan membeli bensin di SPBU, sebelumnya pembelian jerigen dibatasi hanya 20 liter sekarang sama sekali tidak diperbolehkan, bahkan secara jelas terpampang tulisan larangan pembelian menggunakan jerigen. Para pengecer bensin yang sebagian besar rakyat kecil semakin susah untuk mencukupi kebutuhan hidup karena pendapatan dari jualan bensin sudah tidak menghasilkan karena tidak ada yang mau dijual, sehingga sementara tutup.
Menurut Widodo, seorang pengecer bensin di Karangsari, Pengasih, sejak tak diperbolehkan kulakan dengan jerigen, ia terpaksa tak lagi berjualan bensin. “Untuk sementara tidak jualan bensin, menunggu kondisi aman setelah pemerintah memutuskan berapa kenaikannya, kalau dijual seperti tempat lain yang mencapai Rp.7.000,-, rasanya tidak tega karena yang kebanyakan membeli ya tetangga sendiri yang hasilnya pas-pasan apalagi kalau ngutang, bisa-bisa malah ndak balik modal,”ujarnya, Senin (12/5).
Hal berbeda dilakukan Harlan yang sehari-harinya berjualan bensin eceran di Waduk Sermo, untuk memperoleh bensin di SPBU, ia meminjam mobil roda empat temannya untuk kemudian setelah diisi penuh disedot dijerigen yang sekaligus dibawa dalam kendaraan. “Wah, kalau ndak jual bensin bias-bisa dapur tak ngebul, repot mas, pokoknya bagaimana caranya meski hanya sedikit tetap ada, caranya pinjam mobil teman, asal harga dinaikkan nanti masih untung,”jelasnya mantap.
Kenaikan harga bensin di tingkat pengecer yang tak terkendali, memang berpengaruh pada tingkat pembelian dari konsumen. Masyarakat lebih memilih membeli bensin di SPBU sehingga antrian panjang selalu terjadi di setiap SPBU.
Hal ini seperti terlihat di SPBU kota Wates, Senin (12/5), sejak pagi hingga siang antrian mobil dan sepeda motor tidak terputus bahkan terdapat sepeda motor yang membawa jerigen meski akhirnya tidak dilayani oleh petugas. Pengisian di SPBU untuk sepeda motor masih dilayani untuk memenuhi tanki, sedang khusus kendaraan roda empat hanya dibatasi maksimal Rp.50.000,-.




‘Tour de Java’ Akan Singgah di Kulon Progo

Kulon Progo akan menjadi salah satu kota dari 17 kota yang akan disinggahi parade ‘Tour de Java’ yang diadakan Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Zaitun, Brebes. Parade sepeda yang menurut rencana akan dilaksanakan selama 17 hari pada bulan Juni 2008 tersebut akan melibatkan para santri dan karyawan dari Ponpes Al-Zaitun sebanyak 264 orang. Sedangkan Kota Wates yang merupakan pusat kota di Kabupaten Kulon Progo akan menjadi kota ke-13 yang akan menjadi kota tempat singgah rombongan ‘Tour de Java’ pada tanggal 7 Juni 2008.

Demikian dikatakan oleh Ketua Pelaksana tour untuk wilayah Jateng dan DIY, Totok Trihanarto, Senin (12/5) saat audensi dengan Wabup Kulon Progo di ruang rapat Gedung Binangun. Rombongan panitia ‘Tour de Java’ diterima secara resmi oleh Wabup Drs. H. Mulyono bersama dengan Kepala Disbudpar Drs. Bambang Pidekso,MSi, Kepala Bappeda Budi Wibowo,SH, Kakan Humas Drs. H. R. Agus Santosa,MA serta beberapa staf yang lainnya.

“Tour de Java’ akan menempuh jarak sepanjang 2000 km yang akan melewati beberapa kota di Pulau Jawa dan juga Madura. Sedangkan dalam pelaksanaanya, selain singgah peserta dari Tour de Java juga akan memberikan kenang-kenangan kota tempat singgah dengan menanam pohon. “Untuk itu, kami berharap pemkab bisa membantu pelaksanaan even tersebut baik ijin maupun fasilitas yang lain. Karena kami masih kesulitan untuk mendapatkan fasilitas MCK selama kami menginap dan lokasi tempat penanaman pohon,” katanya.

Sementara itu, Wabup Kulon Progo Drs. H. Mulyono menyambut baik dilaksanakannya even yang bertajuk Tour de Java tersebut. Kabupaten Kulon Progo, kata Wabup, bersedia untuk membantu kesulitan berupa penentuan lahan maupun ijin yang saat ini masih menjadi kendala panitia penyelenggara.

Karena Wabup menilai, pelaksanaan Tour de Java merupakan salah satu wujud aksi nyata dari sebuah peringatan. Hal itu, tentunya jauh lebih baik karena akan memberikan manfaat juga terhadap kota tempat singgah rombungan. “Untuk kegiatan seperti menanam pohon, kami akan menyediakan lahan tempat penanaman. Karena sampai saat ini, masih banyak jalan-jalan di Kulon Progo yang masih membutuhkan perindang berupa pohon-pohon keras,” katanya.

11 Mei, 2008

TUMBUHKAN JIWA DAN SEMANGAT MENCINTAI POTENSI KELAUTAN

Bupati Ajak Memasyarakatkan Lagu Pelaut

Nenek moyangku orang pelaut,

gemar mengarung luas samudra

menerjang ombak tiada takut

menempuh badai sudah biasa………..

Syair lagu Pelaut karya Ibu Sud di atas, sudah tidak asing bagi generasi muda dan para orang tua kini, karena sewaktu kecil dulu merupakan salah satu lagu yang wajib hafal di sekolah, namun berbeda dengan anak-anak sekolah sekarang yang tak banyak tahu, bahkan mendengarpun mungkin belum pernah. Anak-anak sekarang lebih akrab dan hafal dengan lagu-lagu yang lagi hits atau top dari kelompok band tertentu. Padahal kalau dicermati lagu tersebut mengandung semangat yang tinggi bagi masyarakat Indonesia yang sebagian besar wilayah berupa lautan.

Melihat kondisi tersebut Bupati Kulonprogo H Toyo Santoso Dipo mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk memasyarakatkan kembali lagu Pelaut karya Ibu Sud untuk menumbuhkan kembali jiwa dan semangat mencintai potensi kelautan, menginggat Kulonprogo punya potensi kelautan bahkan tidak lama lagi akan segera berfungsi pelabuhan samudera Karangwuni

Melalui surat edaran Bupati Kulonprogo nomor:130/1037, tertanggal 6 Mei 2008 yang ditujukan kepada pimpinan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), kepala desa, kepala sekolah TK,SD,SMP,SMA,SMK dan pimpinan PAUD se-Kulonprogo disebutkan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan negara maritim, karena dua pertiga wilayahnya adalah laut. Hal ini menjadi potensi ekonomi yang sangat besar untuk dikelola dalam sistem pertahanan dan keamanan nasional.

Kabupaten Kulonprogo sebagai bagian wilayah yang mempunyai potensi kelautan harus mengoptimalkan melalui pemberdayaan ekonomi kelautan, pariwisata dan pengelolaan lainnya dalam rangka peningkatan kesejahteraan masyarakat. Untuk itu perlu menumbuhkan jiwa dan semangat mencintai potensi kelautan kepada seluruh lapisan masyarakat.

Dengan berbagai pertimbangan tersebut lagu Pelaut dikenalkan kembali ke masyarakat melalui pimpinan SKPD kepada anggota dan kelompok binaannya, kades kepada seluruh lapisan masyarakat khususnya kelompok –kelompok belajar yang ada di masyarakat serta kepala sekolah TK hingga SLTA dan pimpinan PAUD untuk menyelipkan lagu dalam pembelajaran melalui Mata Pelajaran Seni Budaya Ketrampilan (SBK) setelah pelajaran berakhir atau pada acara tertentu secara rutin.

Dalam surat edaran dengan tembusan Kadinas Pendidikan dan Camat se-Kulonprogo tersebut juga dilampirkan naskah lagu Pelaut.

SEMINAR KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA

Setiap Tahun Terdapat 2 juta Kasus Aborsi

Pada usia remaja secara biologis fungsi seksual sudah mulai bekerja dan mulai muncul ledakan-ledakan emosional seksual. Disisi lain sebenarnya organnya sendiri belum sempurna. Sehingga pada usia ini terjadi ketidakseimbangan antara keinginan aktifitas seksual dan keadaan fisik. Bila terjadi pemaksaan –pemaksaan dini dalam menjalankan fungsinya, maka keadaan ini sangat membahayakan keselamatan fungsi dan fisik organ reproduksi itu sendiri, khususnya bagi remaja perempuan. Dan kejadian inilah yang sering dijumpai di masyarakat remaja.

“Salah satu sumber masalah seks remaja secara biologis sebagai factor internal adalah pemaksaan dini dalam menjalankan fungsinya yang keadaan ini sangat membahayakan keselamatan fungsi dan fisik organ reproduksi itu sendiri khususnya remaja perempuan yang semestinya hal ini diberikan dan diajarkan kepada remaja dalam bentuk pendidikan kesehatan reproduksi, sehingga mereka mengenali dirinya sendiri, banyak remaja tersesat karena tidak tahu,”kata dokter penanggung jawab unit pelayanan reproduksi dan kontrasepsi RSUP Dr.Sardjito Yogyakarta dan staf bagian Kebidanan dan Kandungan Fakultas Kedokteran UGM, Dr.H.Hasto Wardoyo SpOG,KFER, ketika menjadi narasumber dalam acara Seminar Kesehatan Reproduksi Remaja yang diselenggarakan kerjasama K3M FK-UGM, Dinkes, YKI dan Subdin KB Kulonprogo di Gedung Kaca Pemda, Sabtu (10/5). Seminar dibuka Wakil Bupati Kulonprogo, Drs.H.Mulyono, dengan peserta perwakilan dari siswa sekolah menengah di wilayah Kulonprogo.

Bayaknya remaja tersesat karena belum tahu, lanjut Hasto kalau remaja putri tahu bahwa melakukan hubungan seks pada usia dini (15 tahun) atau kurang maka besok 5 sampai 10 tahun yang akan datang yang bersangkutan sangat beresiko terkena kanker mulut rahim, yang merupakan salah satu penyakit berbahaya menyerang kebanyakan perempuan, tentunya akan berfikir seribu kali untuk melakukannya.

Ia juga mengemukakan bahwa menurut catatan Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi, diperkirakan setiap tahun terjadi 2 juta hingga 2,6 juta kasus aborsi, sepertiganya dilakukan perempuan usia 15-24 tahun. Angka kasarnya setiap 100 kehamilan ada 43 kasus aborsi. Khususnya di Yogyakarta, data Perhimpunan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) terdapat remaja yang berkonsultasi mengenai kehamilan tidak dikehendaki di program Lentera Sahaja (sahabat remaja) rata-rata setiap bulan berkisar 30-50 remaja.

“Pendidikan seks harus segara dimulai sejak usia dini dilingkungan keluarga, yang diawali dengan memperkenalkan bahwa laki-laki perempuan itu berbeda, entah dari pakaiannya, tempat tidurnya dan teman pergaulannya. Pada tingkat remaja lebih ditingkatkan pendidikan seksual yang mengacu pada kepentingan memelihara adab perilaku dan masalah kesehatan reproduksi,”tuturnya.

Sementara Wakil Bupati Kulonprogo, Drs.H.Mulyono mengatakan sebenarnya penjelasan-penjelasan tentang kesehatan reproduksi remaja ini dapat diperoleh dari lingkungan keluarga, apabila pada keluarga tersebut ada keterbukaan dan hubungan yang harmonis. Namun ada perasaan malu kepada orang tua untuk menanyakan, atau ada keluarga yang menganggap tabu untuk membicarakan, bahkan ada anggapan yang mengatakan ketika tiba saatnya akan tahu sendiri. Sehingga tidak sedikit kejadian yang telah kita dengar dan saksikan dari berbagai media tentang kejadian yang menimpa para remaja kaitannya dengan kesehatan reproduksi remaja.

PEMKAB KERJASAMA IKATAN PENERBIT GELAR PAMERAN DAN BURSA BUKU

Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional, 100 Tahun Kebangkitan Nasional dan Hari Buku serta meningkatkan Budaya Baca bagi masyarakat , pemkab Kulon Progo bekerjasama dengan Badan Perpustakaan Daerah Propinsi DIY dan Ikatan Penerbit Indonesia akan melaksanakan Pameran dan Bursa Buku.

Kepala Perpustakaan Daerah Kabupaten Kulonprogo, Drs.Bambang Heruntoro di ruang kerjanya, Sabtu (10/5) mengatakan pelaksanaan pameran dan bursa buku akan berlangsung mulai Rabu (14/5) hingga Minggu (18/5) di Gedung Kesenian Wates dengan jam kunjung 09.00-16.00 WIB.

“Pameran dan bursa buku diselenggarakan dalam rangka Hardiknas, 100 tahun kebangkitan nasional , hari buku dan terutama untuk menumbuhkan minat baca dimasyarakat, sehingga nantinya disediakan buku-buku yang dijual murah namun bermutu, ada yang diskon sampai 70 persen,”kata Bambang

Ditambahkan, selain pameran dan bursa buku, serangkaian kegiatan meliputi bedah buku, lomba bercerita bagi siswa SD dan SMP, jambore lukis anak TK dan SD, permainan edukatif bagi siswa SD dan workshop kepenulisan karya ilmiah dan jurnalistik.

PEMDA AKAN MUSNAHKAN RIBUAN MIHOL DAN BUKU TERLARANG

Dalam rangka penegakkan supremasi hukum dibidang pelanggaran minuman beralkohol (mihol) sebagaimana dimanatkan dalam Peraturan Daerah (Perda) Nomor 1 tahun 2007, pemerintah daerah bekerjasama dengan kepolisian, kejaksaan dan pengadilan negeri akan memusnahkan 8962 botol mihol dan buku-buku terlarang hasil sitaan Polres Kulonprogo dan Kejaksaan Negeri Wates yang telah memiliki kekuatan hokum.

Kegiatan pemusnahan akan berlangsung di Balai Laboratorium dan Peralatan Dinas Pekerjaan Umum, Jl. Purworejo Km 2,2 Tambak, Triharjo, Wates Kamis (15/5). Menurut rencana akan dibuka Bupati Kulonprogo H Toyo Santoso Dipo, dan dihadiri Ketua DPRD Drs.H.Kasdiyono, Kapolres, Dandim, Kajari, Ketua Pengadilan Negeri.

Pelaksanaan pemusnahan akan dilakukan dengan menggunakan alat berat berupa Stom Walls untuk botol mihol dan tong besi untuk membakar buku-buku terlarang..

10 Mei, 2008

.PELATIHAN JURNALISTIK KERJASAMA PEMKAB DENGAN PWI

Aparat Harus Siap Informasi Dan Klarifikasi

Sering kita mendengar nada yang kurang menyenangkan ketika dikatakan bahwa kerja aparat pemerintahan identik dengan baca koran. Hal ini tidak sepenuhnya benar, karena aparat yang baik tentunya akan mengerti bagaimana membagi waktu antara bekerja ataupun sekedar mencari hiburan. Kita ketahui bersama bahwa koran/media cetak sebagai salah satu penyedia informasi, saat ini sangat dibutuhkan bagi aparat yang ingin maju. Melalui media massa, masyarakat dapat memperoleh berita apa yang sedang terjadi, apa yang terjadi di negeri ini dan bahkan dapat menyampaikan pandangannya, pikirannya, pendapat maupun responnya. Dan bagi aparat pemerintah, respon dari masyarakat terhadap suatu fenomena adalah salah satu hal penting untuk mendapat evaluasi terhadap apa yang telah dilakukan bagi masyarakat dalam unit kerjanya.

Hal tersebut dikatakan Bupati Kulonprogo H Toyo Santoso Dipo dalam sambutan tertulis yang dibacakan Kepala Kantor Humas Kabupaten Kulonprogo, Drs.R.Agus Santosa,MA, dalam Pelatihan Jurnalistik bagi aparatur pemkab Kulonprogo di Kampoeng Resto and Cafe Wates, Sabtu (10/5). Pelatihan menampilkan narasumber dari Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Yogyakarta sekaligus Pimpinan Redaksi Koran Kedaulatan Rakyat Drs. Octo Lampito, dengan peserta dari perwakilan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), kecamatan dan desa se-Kulonprogo.

“ Dalam era tekhnologi informasi, keberadaan media massa telah menjadi sarana utama untuk menyampaikan dan mendapatkan informasi, media menjadi semacam idola bagi masyarakat karena segala macam informasi tersedia. Sehingga perlu kita pahami bahwa semestinya media menyampaikan informasi yang benar, informasi yang mencerahkan kehidupan, membantu khalayak menjernihkan pertimbangan untuk bisa mengambil keputusan yang tepat,”kata Toyo

Ditambahkan begitu pentingnya media massa bagi masyarakat, maka pertumbuhan media massa dewasa ini sungguh luar biasa. Seperti halnya pertumbuhan televisi swasta lokal di jogja yang sampai saat ini ada 5 stasiun TV swasta yang mengajukan untuk uji coba siaran. Selain itu sudah tidak terhitung jumlah pertumbuhan media cetak baik di lingkup daerah maupun nasional. Dengan kata lain pentingnya kebutuhan informasi telah menarik minat pengusaha berbisnis media massa.

“Perkembangan media massa yang demikian, perlulah kiranya sebagai aparat untuk bisa menyikapinya dengan bijaksana. Dan yang penting juga mampu menggunakan fungsi media massa untuk memberikan motivasi masyarakat untuk berpartisipasi dalam pembangunan. Oleh karena itulah, diperlukan pemahaman setiap aparat untuk mengerti jurnalistik media massa, dan tentunya mampu menuliskan informasi yang berbobot maupun mempunyai nilai berita yang benar, akurat dan objektif. The right to know harus diberikan pada masyarakat. Terlebih dengan era pers bebas bertanggung jawab. Sebagai aparat harus senantiasa siap manakala diminta informasi maupun klarifikasinya, jangan justru ‘joyo endho’, menghindarkan diri,”ujarnya

Sebagai aparat dituntut untuk bersikap transparan dan bertanggung jawab, sebagai konsekuensi dari pers kita yang bebas dan bertanggung jawab disertai dengan akhlak dan kemanfaatan. Dengan demikian pada pelatihan ini kami harapkan segenap aparat akan mengerti dan memahami jurnalisme media, bagaimana mengembangkan positive jounalism, constructive journalism, dengan terus menjunjung tinggi idealisme dan etika jurnalisme. Hal yang tidak kalah pentingnya adalah mengangkat nama Kulon Progo melalui media massa, mengupayakan Kulon Progo lebih dikenal, mendapat tempat di hati rakyatnya.

“Kami harapkan setiap aparat Pemkab yang membidangi informasi akan mampu merespon tantangan jaman di bidang jurnalistik, bagaimana mensikapi media massa bagi kemajuan kita bersama, kemajuan unit kerjanya masing-masing. Sehingga kerjasama dengan media massa mutlak dibutuhkan oleh setiap instansi. Dan dengan memahami jurnalistik media massa serta mampu memanfaatkan tekhnologi informasi yang ada, maka Kulon Progo akan semakin maju, yang nantinya juga akan memajukan masyarakatnya,”pungkasnya.

Sementara Ketua PWI, Drs.Octo Lampito dalam paparannya menjelaskan tentang bagaimana membuat press release atau siaran pers bagi setiap unit kerja yang merupakan informasi, tanggapan yang disampaikan secara tertulis kepada masyarakat melalui media massa dengan tujuan menciptakan citra dari institusi lembaga yang bersangkutan.

PENUTUPAN DIKLAT DHARMAIS

Dalam Usaha Diperlukan Hong Sui, Hoki, Hoping dan Hocwan

Bupati Kulon Progo H. Toyo Santoso Dipo mengharapkan Diklat yang dilaksanakan oleh Yayasan Dharmais mampu menjadi bekal dan pengalaman dalam mengelola usaha dengan lebih baik, karena dalam pelatihan telah diberikan berbagai kiat-kiat jitu yang dapat untuk mengembangkan usaha.Dengan ketekunan dan keuletan didukung dengan jiwa kemandirian dan motivasi yang kuat, seseorang akan berhasil dalam usahanya.

Hal tersebut dikatakan Toyo dalam sambutan tertulis yang dibacakan Asisten Pembangunan Setda, Ir.H.Agus Anggono dalam Penutupan Pendidikan dan Latihan Pesantren Singkat Usaha Produktif angkatan I tahun 2008 di Balai Diklat Yayasan Dharmais Sendangsari Pengasih, Sabtu (10/5).

“Dalam menjalankan usaha yang perlu mendapatkan perhatian adalah pertama Hong Sui yang mengandung lima syarat yakni tepat memilih focus bisnis, tepat memilih wilayah pasar, segemen pasar, startegi bisnis dan lokasi pusat kegiatan, kedua hoki yaitu adanya peluang untung kecil-kecilan, ketiga Hoping yaitu menerapkan 3 jalinan menjalin pertemanan dengan mitra kerja, menjalin kepercayaan dengan mitra kerja dan menjalin kepercayaan pelanggan dan keempat Hocwan merupakan sukses besar yang perlu ditindak lanjuti dengan 4 prinsip harmoni yakni menjaga hubungan baik dengan pelanggan, menjaga hubungan baik dengan teman seprofesi dan pihak yang punya posisi, menjaga hubungan baik dengan lingkungan dan dengan penguasa,”katanya.

Di tambahkan usaha yang dilakukan akan mampu mengurangi pengangguran yang sekarang masih banyak akibat kondisi Negara yang belum stabil. Dengan mengubah pola pikir masyarakat yang selama ini bahwa bekerja adalah menjadi karyawan suatu perusahaan harus dihilangkan dengan berusaha menciptakan lapangan kerja

Sementara Pjs. Kepala Dharmais, Bari HPdalam laporannya mengatakan peserta diklat sejumlah 40 orang telah mengikuti pelatihan tentang ketrampilan jahit menjahit, tata boga dan tata busana, berlangsung sejak Selasa (18/3).

09 Mei, 2008

Warga Taruban Gelar Tayub

Dalam rangka upacara tradisi bersih desa dan luwaran, warga Pedukuhan Taruban Wetan dan Taruban Kulon, Sabtu (10/5) akan menggelar kesenian tayub. Tradisi yang sudah berlangsung rutin setiap tahun itu akan digelar di rumah Dukuh Taruban Wetan, semalam suntuk.

Menurut ketua panitia AG Suryadi, upacara bersih desa dan luwaran merupakan tradisi utuk mengenang jasa tokoh desa tersebut, Ki Gede Tarub. Menurut kepercayaan warga setempat, Ki Gede Tarub adalah seorang tokoh sakti yang mempelopori Desa Taruban. Saat akan meninggal ia berpesan agar warga Taruban mau melestarikan kebiasaan yang dilakukannya, yakni nanggap tayub setelah usai panen padi.

Selain pagelaran tayub, ujar Suryadi, sebagai rangkaian upacara bersih desa, pada Minggu (11/5) akan dilaksanakan kirab sesaji dari rumah Dukuh Taruban Wetan ke Sendang Kamulyan dan makam Ki Gede Tarub. Sendang Kamulyan adalah sumber air yang tak pernah kering sepanjang tahun. Sendang itu sejak jaman dahulu dianggap sebagai tempat keramat oleh warga dan merupakan satu-satunya sumber air bila wilayah desa itu mengalami kekeringan.

Ditambahkan, sebagai kegiatan pendukung juga akan dilakukan pameran seni lukis dan tanaman hias, basar sembako, pasar malam, pertandingan bola voli serta pameran lukisan berukuran 4 x 7 meter.

MINIM SISWA ASAL KULONPROGO BELAJAR DI SMKI

Untuk Menjaring Siswa Baru Sekolah Akan Lakukan Sosialisasi

Kepala Sekolah SMK Negeri 1 Kasihan Yogyakarta, Drs.Sunardi mengatakan sejak 1961 hingga sekarang baru tercatat 50 lulusan siswa asal Kulonprogo. Padahal para lulusan sekolah ini mampu menghasilkan orang –orang terkenal di bidang seni baik sebagai dalang maupun seniman dan penari. Bahkan dengan keahlian memainkan salah satu alat musik gamelan saja mampu terbang ke berbagai mancanegara.Tercatat beberapa nama alumni SMKI yang telah dikenal luas masyarakat seperti dalang kondang Ki Suranto, MC Nonot Sebastio yang keduanya asal Sentolo, pelatih Angguk Sri Lestari Kokap Wuryanti dan seorang seniman yang sekarang tinggal di Kanada.

Hal tersebut dikatakan Sunardi dalam Audiensi dengan Bupati Kulonprogo di Ruang Rapat Sekda, Jum’at (9/5). Dalam kesempatan tersebut Kasek SMKI diterima Sekda, Drs.H.So’im,MM mewakili Bupati Kulonprogo.Turut hadir Asek II Ir.H.Agus Anggono, Kadinas Pendidikan Muh Mastur,BA, Kabag Kesra Arief Sudarmanto,SH, Ka Kant Humas Drs.R.Agus Santosa, Kasubdin Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Drs.Sigit Wisnutomo dan Kasie Adat dan Kesenian Disbudpar, Drs.Yudono Hidriatmoko.

“Menggingat keberadaan sekolah yang telah mempunyai banyak fasilitas yang disediakan oleh negara dan juga disediakan beasiswa sehingga sangat dimungkinkan biaya sekolah siswa sedikit sekali, diharapkan dalam tahun ajaran baru yang tinggal menghitung hari, dengan bantuan pemkab untuk sosialisasi di lingkungan sekolah –sekolah, banyak lulusan siswa SMP di Kulonprogo untuk mau melanjutkan sekolah dengan mendaftarkan di SMK N 1, yang pada akhirnya dapat memperbanyak seniman yang berpendidikan formal di kabupaten Kulonprogo,”jelas Sunardi.

Hal senada dikatakan Kasie Adat dan Kesenian Disbudpar Kulonprogo, Drs.Yudono Hindriatmoko yang mengakui minimnya seniman yang berpendidikan formal asal Kulonprogo dibanding daerah lain, sehingga setiap adanya even kegiatan seni seperti Festival Sendratari kesulitan untuk mencari pemain.

Sementara Sekda, Drs.H.So’im,MM menyambut baik keinginan sekolah untuk melakukan sosialisasi sehingga banyak lulusan sekolah di Kulonprogo banyak belajar melanjutkan sekolah di SMK N 1, yang pada akhirnya Kulonprogo tidak kekurangan seniman. Diharapkan sosialisasi selain dilakukan secara tradisional dengan sedikit menampilkan karya lulusan seperti tari, karawitan untuk meyakinkan siswa yang punya minat mendaftar juga dapat dilakukan melalui Teknologi Informasi (TI) sesuai era kemajuan zaman yang sekarang anak sekolah SMP telah banyak mengakses di tempat siswa belajar.