18 Januari, 2008

SURAN KYAI DARUNO DARUNI BUGEL PANJATAN


ADAT SURAN PETILASAN KYAI DARUNO DARUNI BUGEL
Warga Rebutan Gunungan Dan Tumpeng
Upacara tradisi suran yang digelar warga desa Bugel Kecamatan Panjatan, Jum’at (18/1) berlangsung meriah. Ratusan warga hadir di kompleks cikal bakal desa, Petilasan Kyai Daruno Daruni di Pedukuhan X Bugel untuk menyaksikan jalannya upacara. Dalam kesempatan tersebut sekaligus diresmikan gapura pintu masuk petilasan hasil swadaya warga.
Prosesi suran dimulai dengan kirab yang diawali dihalaman masjid Hidayattulah berupa tumpeng gunungan hasil bumi dan tumpeng serta group kesenian dari warga masyarakat menuju lokasi petilasan Kyai Daruna Daruni yang berjarak sekitar satu kilometer. Usai kirab dilakukan kenduri dan makan bersama oleh pengunjung, termasuk Wakil Bupati Drs.H.Mulyono dan segenap pejabat pemkab.
Menurut Kepala Desa Bugel, Edy Priyana adat sadranan ini dilakukan setiap tahun oleh warga dengan mengambil bulan Sura hari Selasa Kliwon atau Jum’at Kliwon yang disesuaikan bulan yang bersangkutan. Pada pelaksanaan kali ini sesuai dengan bulan Suro jatuh pada hari Jum’at Kliwon.”Kegiatan ini untuk melestarikan adat budaya masyarakat sekaligus filter pengaruh dari budaya asing,”ungkap Priyana.
Tradisi Suran menurut Priyana, dilakukan agar warga desa Bugel selalu mendapatkan kesehatan, makmur terhindar dari musibah bencana, yang biasanya adalah banjir.
Menurut cerita, terang Priyono, Kyai Daruno Daruni adalah seorang pejuang pengawal Pangeran Diponegoro dari Kerajan Mataram yang mengadakan perlawanan terhadap penjajah Belanda antara tahun 1825 -1830. Saat melakukan perlawanan terhadap penjajah Belanda, para pendukung Pangeran Diponegoro berpencar ke seluruh pelosok desa, gunung dan rawa yang dimungkinkan agar pasukan penjajah Belanda sulit mengejar keberadaannya, termasuk Kyai Daruno Daruni yang menyingkir ke tanah rawa-rawa sambil terus melakukan perlawanan terhadap penjajah Belanda.
Menurut Kepala Desa Bugel itu, Tempat menyingkir Kyai Daruno Daruni ini sekarang bernama Gumuk Landeyan, yang berada tepat di depan rumah Suradi yang merupakan cucu dari Mangun Wiyono yang merupakan pengikut Kyai Daruno Daruni di Pedukuhan X Beran , Desa Bugel. Di tempat itulah Kyai Daruno Daruni menyimpan benda pusaka berupa Tumbak beserta landeannya dengan cara ditimbun rumput dan Lumpur rawa yang gembur.
Dikatakan, seiring dengan perjalanan waktu petilasan tempat menyimpan senjata tombak beserta landeannya oleh warga masyarakat setempat dijadikan tempat kenangan bersejarah yang dilestarikan dan ditanami pohon Asem.
Sedangkan kata Bugel menurut Priyana, diambilakan dari cerita bahwa pada waktu yang silam ada kejadian aneh yakni saat membuka hutan Ngangrangan terdapat pohon besar yang telah lapuk bagian rantingnya sehingga tinggal batang bagian bawahnya. Pohon tersebut ditebang namun tidak bisa dimanfaatkan untuk kayu baker. Dibakar berkali-kali tidak terbakar sehingga diganti namanya menjadi Bugel yang dalam bahasa jawa adalah sebutan benda keras yang kebal terhadap senjata tajam.

17 Januari, 2008

acara hari ini

DANREM 072 PAMUNGKAS:
WASPADAI ANCAMAN TERHADAP NKRI

Kewaspadaan terhadap ancaman Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) harus ditingkatkan, mengingat wilayah bangsa ini terdiri dari lebih dari 14 ribu pulau dan sepertiga dari luas wilayahnya berupa lautan. Hal tersebut diungkapkan oleh DANREM 072 Pamungkas, Kol. Inf. Setyo Sularso pada acara audiensi dengan Pemda, DPRD dan Komponen Masyarakat Kabupaten Kulon Progo, di Gedung Kaca, Kamis (17/1).
Pada kesempatan tersebut dihadiri oleh Wakil Bupati Kulon Progo, Drs. H. Mulyono, dan muspida plus. Dalam sambutan tertulisnya, Mulyono mengajak semua komponen masyarakat untuk bersatu padu untuk memantapkan pertahanan diwilayah masing-masing. Dengan terciptanya pertahanan yang baik maka akan sangat membantu dalam segala kegiatan pembangunan.
Dalam paparannya, Kol. Inf. Setyo Sularso mejelaskan bahwa wilayah NKRI terletak di daerah yang strategis, sehingga banyak bangsa yang mengincar untuk menguasai. Hal ini terbukti bahwa Belanda, Portugis, Jepang dan Inggris berusaha menguasai Nusantara.
“Untuk itu sistim pertahanan Negara harus di optimalkan, jika perlu di perbarui dan ditingkatkan, karena personil TNI saat ini jika dibanding dengan jumlah penduduk Indonesia hanya 0,14%, jumlah ini tentusaja masih sangat jauh dari yang dibutuhkan”, terang Sularso.
Penyebab runtuhnya suatu bangsa, menurut Sularso dikarenakan tiga persoalan, yaitu konflik elit politik, krisis Nasional yang berkelanjutan dan pecahnya ditubuh angkatan bersenjata. Untungnya ketika bangsa ini dilanda kekacauan pada 1998 angkatan bersenjata masih solit dan bersikap netral sehingga terhindar dari kehancuran seperti kerajaan Sri Wijaya dan Maja Pahit dimasa lalu.
Menurut Sularso, ancaman terhadap NKRI tdak hanya dating dari luar saja, tetapi juga dari dalam negeri, komunis masih merupakan bahaya yang perlu diwaspadai. Saat ini komunis masih berusaha merongrong bangsa ini dan menyebarkan ideologinya dengan berbagai macam cara.

PILKADES PALIYAN TEMON KISRUH


Kecewa Hasil Pilkades, Warga Paliyan Demo
Pelaksanaan pemilihan kepala desa (Pilkades) Paliyan Kecamatan. Temon Kabupaten. Kulonprogo yang digelar Selasa (15/1), masih menyisakan ketidakpuasan bagi ratusan pendukung salah seorang calon kades. Rabu (16/1) kemarin, mereka mendatangi kantor Bupati dan melalui perwakilan diterima Asek I Drs.H.Sutedjo Wiharso di ruang rapat Sekda.. Hal ini disebabkan hasil perhitungan akhir oleh panitia yang dinyatakan draw atau suara sama untuk calon Kades Susilo dan Daliso masing-masing 341 suara, setelah dilakukan penghitungan ulang Susilo kehilangan satu suara menjadi 340 suara , sementara Kaliso tetap 341 suara sehingga Pilkades Paliyan dimenangkan oleh Kaliso.
Menurut Kariyo yang mewakili warga pendukung Susilo menuturkan pilkades Paliyan diikuti empat calon kepala desa yang diikuti pemilih terdaftar1588, sementara yang menggunakan hak pilih 1236 warga , pada akhir penghitungan suara perolehan Cakades Susilo dan Kaliso mendapatkan suara sama yakni memperoleh 341 suara, Alam Sukamto 296 suara dan Sukirman 246 suara.Perpal 12 suara. Adanya suara yang sama atau draw tersebut, oleh panitia dalam waktu yang sama langsung dilakukan penghitungan ulang terhadap surat suara kedua calon yang suara sama. Hasil penghitungan ulang suara perolehan Kaliso tetap 341 suara, sedangkan Susilo malah kehilangan satu suara menjadi 340 suara. Hilangnya satu suara ini jelas ulah panitia yang ingin memenangkan salah satu calon.
Hal senada dikatakan Heri, ia yang menjadi saksi cakades Susilo mengindikasikan panitia sejak awal tidak fair karena memihak calon tertentu, sehingga hingga selesai pemunggutan tidak mau menandatangani berita acara pilkades.
Sementara Assek I Drs.H.Sutedjo di dampingi Kabag Pemdes Setda, Drs. Riyadi Sunarto mengaku tidak dapat memutuskan permasalahan pilkades di desa Paliyan Temon. “Penyelenggaran pilkades di era otonomi desa yang punya kerja adalah Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dengan membentuk panitia pemilihan sesuai Perda tentang Desa, jadi otoritasnya masih ada ditingkat desa, namun demikian dengan kedatangan warga merupakan masukan yang berharga untuk mengambil kebijakan di tingkat Kabuapten,”jelas mantan Camat Temon ini.
Usai mendengarkan penjelasan dari jajaran tingkat Kabupaten tersebut, ratusan warga berencana akan mendatangi dan menduduki kantor desa untuk minta pembatalan pilkades yang telah diselenggarakan.

16 Januari, 2008


PILOT PROYEK PASIR BESI
PT.JMM Serahkan Uang Kompensasi Rp.598. Juta
Setelah menyelesaikan tahapan eksplorasi dengan melakukan pemboran di 929 titik dengan kedalaman rata-rata 16 meter pada luasan sekitar 4000 ha di pesisir selatan dari sungai Bogowonto sebelah barat sampai sungai Progo di sebelah timur, pasir besi sepanjang pantai di Kulonprogo ini layak untuk ditambang.
Langkah selanjutnya PT.Jogja Magasa Mining (JMM) selaku proyek penambang pasir besi akan membuat Pilot Proyek sebagai miniatur proyek sehingga masyarakat akan mengetahui secara langsung kegiatan penambangan dan menjawab berbagai efek negatif yang timbul adanya pengelolaan pasir besi oleh warga masyarakat.
Lokasi pilot proyek berada di wilayah Trisik Desa Banaran Kecamatan Galur. Sebanyak delapan warga yang tanah garapan menjadi lokasi pilot proyek telah menerima uang kompensasi atau ganti untung dari PT JMM. Besarnya kompensasi ditentukan melalui musyawarah mufakat antara warga dengan PT.JMM dengan melibatkan unsur pemerintah. Untuk tanah yang dimanfaatkan sebagai mata pencaharian ganti rugi diberikan 7500/m2 sementara untuk tanaman dan peralatan pertanian berupa sumur renteng dan pipa disesuaikan dengan nilai kelayakan.
Penyerahan uang kompensasi tersebut dilakukan oleh Direktur PT.JMM, KPH.Haryoseno yang secara simbolis diberikan kepada Jamaludin disaksikan unsur muspika kecamatan Galur, serta PJ Kepala Desa Banaran Budi Utama di Rumah Makan Gerbang Trisik. Sebelumnya delapan warga penerima menandatangani surat perjanjian dihadapan notaris Yohanes Krisna Sugiri,SH. Uang yang diterima warga langsung dimasukkan ke rekening Bank BRI yang dua petugas bank telah disiapkan.
Jumlah keseluruhan uang ganti untung yang diterima oleh delapan warga sebesar Rp.598.194.407,50. Jumlah yang diterima masing-masing tidak sama disesuaikan dengan luas tanah yang masuk dalam batas pilot proyek. Dengan rincian Jamidi sebesar Rp.112.438.752,50, Joko Samudra Rp.44.591.287,50, Priyono Rp.104.536.100,- ,Yusup Muji Rp.81.424.440,- , Arjo Utomo Rp.8.193.427,50 , Sagiyo Rp.51.228.927,50, Purnomo Rp.70.536.200,- , dan Jamaludin Rp.75.245.272,50. Penyerahan dilakukan dalam dua tahap, untuk tahap pertama sebagai tanda keseriusan atau uang pancer masing-masing menerima Rp.10 juta,- diserahkan Jum’at (7/12). Sementara sisanya yang diserahkan tahap kedua adalah dari hasil perhitungan akhir, sehingga warga masih mendapatkan tambahan yang lumayan besar , namun demikian terdapat seorang warga yang selisihnya lebih kecil dari perhitungan tahap awal yakni milik Arjo Utomo sehingga harus mengembalikan sejumlah Rp.1.806.572,50, dari Rp.10 juta yang sebelumnya telah diterima.
Sementara Joko Samudra yang baru saja menerima ganti rugi mengatakan warga yang merelakan lahannya untuk pilot proyek merupakan pahlawan untuk kemajuan Kulonprogo, yang merupakan perjuangan untuk melangkah ke depan untuk kesejahteraan masyarakat.
Sesuai dengan kesepakatan antara kedua belah pihak, warga yang tanahnya digunakan untuk pilot proyek akan diprioritaskan sebagai tenaga kerja.
Usai acara penyerahan uang ganti rugi, dilangsungkan upacara tradisional sebagai ucapan rasa syukur berupa pemotongan tumpeng oleh pimpinan PT.JMM yang kemudian diserahkan kepada Kades Banaran, Budi Utama, dan warga penerima masing-masing mendapatkan potongan Tebu sebagai tanda anteping kalbu (Mantapnya Hati) dilanjutkan makan bersama-sama.
Menurut Haryoseno, selesainya proses pembayaran gantirugi langkah selanjutnya yang ditempuh oleh PT.JMM adalah mengurus perizinan untuk melaksanakan pilot project.

Wadiyo, Kepala Desa Triharjo, Wates Kulon Progo

DESA TRIHARJO WATES

DESA TRIHARJO
Siapkan Lahan Untuk Investor

Lokasi Desa Triharjo, Kecamatan Wates yang strategis berada di jalur jalan negara Jakarta-Surabaya lintas selatan dan hanya beberapa kilometer jaraknya dari ibukota kabupaten. Dengan kondisi ini wilayah Desa Triharjo menjadi pilihan tersendiri bagi para investor yang akan menanamkan modalnya di Kabupaten Kulon Progo, meski pemkab telah menetapkan kawasan untuk industri berada di wilayah Kecamatan Sentolo.
Secara geografis seluruh wilayah Desa Triharjo berupa dataran rendah dengan hamparan sawah sebagai sumber kehidupan masyarakat, karena sebagian besar warga adalah petani. Secara administratif Desa Triharjo terdiri dari 10 wilayah pedukuhan, yakni Pedukuhan Kularan, Cokrodipan, Ngrandu, Kadipaten, Sebokarang, Tambak, Dalangan, Seworan, Klewonan dan Conegaran, dengan 1.697 KK (kepala keluarga).
Pengusaha Korea Selatan dengan bendera PT. Sunchang Indonesia, yang memproduksi wig (rambut palsu) dengan pasaran ekspor, adalah investor yang yang telah membangun pabrik di Triharjo. Pimpinan PT. Suchang Indonesia, Hwa Joon Lee, yang sebelumnya telah mempunyai pabrik dan kantor pusat di Purbalingga, Jawa Tengah, melebarkan sayapnya dengan membangun pabrik serupa di Kulon Progo. Dengan memanfaatkan lahan tanah kas desa Triharjo seluas 20.400 m2 untuk lokasi pembangunan pabrik.
Kepala Desa Triharjo Wadiyo saat dikonfirmasi di kantornya menjelaskan, sejalan dengan program dari pemkab “Membangun Desa Menumbuhkan Kota” dengan berupaya mengundang investor untukmenanamkan modalnya di Kulon Progo, maka pemerintah desa siap menjembatani kebutuhan lahan.
“Program Pak Bupati dengan memprioritaskan pembangunan desa, memang perlu didukung sehingga pembangunan tidak hanya terkonsentrasi di wilayah perkotaan. Adanya investor yang masuk di wilayah kami adalah salah satu realisasinya. Dengan adanya pabrik wig, dapat meningkatkan perekonomian warga dan mampu mengurangi pengangguran di Desa Triharjo,” terang Wadiyo.
Menurut Wadiyo, mulai proses awal pengadaan lahan hingga proses pembangunan pabrik telah berjalan dengan lancar tanpa kendala. Hal ini berkat pengertian antara perangkat desa dengan wakil masyarakat melalui BPD (Badan Perwakilan Desa) pada saat itu, terlebih harapan masyarakat untuk meningkatkan ekonomi dengan menjadi karyawan pabrik, maupun multi player effect-nya.
Namun yang sangat penting adalah tahapan-tahapan telah dilalui secara benar dalam proses penggunaan lahan milik desa dengan memenuhi aturan-aturan baik tingkat desa, kabupaten dan propinsi. ”Sejak PT Sunchang positif menentukan pilihan di wilayah kami, kemudian melaksanakan pelatihan di kantor BLK Disnakertrans Tambak serta menempati bekas gedung SD yang nganggur, jumlah warga Triharjo mencapai sekitar 30 % dari sekitar 1.500 tenaga kerja yang terserap saat ini,” terang Wadiyo.
Meski pembangunan pabrik masih dalam taraf penyelesaian, sejak 3 Desember 2007 karyawan yang semula menempati bekas gedung SD telah menempati lokasi pabrik yang baru dibangun, dan selanjutnya gedung SD diserahkan ke pemkab.
Setelah adanya pabrik wig milik PT. Sunchang Indonesia dan rencana pembangunan Rumah Sakit PKU Muhammadiyah, Desa Triharjo masih siap menerima datangnya investor. Menurut Wadiyo, dalam waktu yang tidak terlalu lama di wilayahnya juga akan dibangun gedung KPPN (Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara) yang akan menempati lahan seluas 5000 m2. Lokasinya bersebalahan dengan pabrik wig. Sementara ini, kantor tersebut dalam menjalankan kegiatannya masih menumpang di BRI Unit Adhyaksa, Wates.
Ditambahkan oleh Wadiyo, Markas KODIM 0731 Kulon Progo yang sekarang berada di timur laut Alun-Alun Wates, direncanakan juga akan dipindah di Triharjo. Namun masih belum ada kesepakatan soal tanah, pihak Kodim mengigginkan sistem sewa sedangkan pemerintah desa mengharapkan untuk dibeli seperti yang telah dilakukan oleh para investor yang lebih dahulu masuk.
Di bagian lain Wadiyo mengatakan, meski wilayah desa Triharjo tidak memiliki lahan pasir sebagai lokasi penambangan pabrik baja, pihaknya mendukung penambangan pasir besi di pantai selatan dan berdirinya pabrik baja oleh PT. JMM. “Adanya rencana penambangan pasir besi dan didirikannya pabrik baja yang merupakan program pemkab, saya sangat mendukung, karena akan mampu mengurangi tenaga kerja yang masih menganggur, serta meningkatkan kesejahteraan warga masyarakat. Pemkab tidak mungkin akan menyengsarakan warganya,” tandas Wadiyo.
Dukungan tidak hanya dari Wadiyo. Bahkan seluruh kepala desa di Kecamatan Wates yang meliputi Kepala Desa Bendungan, Sogan, Ngestiharjo, Kulwaru, Wates, Giripeni dan Karangwuni secara bulat mendukung keberadaan penambangan pasir besi dan pendirian pabrik baja yang dilakukan oleh PT. JMM tersebut.

15 Januari, 2008

Musda Dekranas 2007 Kabupaten Kulon Progo
Pengurus Baru Diharapkan Punya Terobosan Program

Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Kulon Progo Selasa (15/1), melaksanakan Musyawarah Daerah (Musda) Dekranas tahun 2007. Meskipun pelaksanaan Musda tersebut dinilai agak terlambat karena baru dilaksanakan di awal tahun 2008, namun Dekranas tetap menunjukkan keseriusannya dalam membantu mewujudkan kemajuan industri dan kerajinan. Kedepan, fungsi dan peran Dekranas dalam membantu mewujudkan kemajuan bidang industri dan kerajinan tersebut dapat terus ditingkatkan. Sehingga kestabilan ekonomi yang ditopang kemajuan bidang industri dapat diwujudkan.
Melihat perkembangan dari sektor industri yang selama ini ada, diharapkan dari Musda tersebut bisa menghasilkan kepengurusan yang semakin baik. Para pengurus baru nantinya diharapkan mampu menciptakan terobosan-terobosan untuk program-program kedepan. Sehingga peningkatan kualitas pembangunan industri kecil dan kerajinan di Kulon Progo dapat terwujud. Selain itu, terobosan-terobosan program tersebut juga sangat diperlukan sebagai persiapan kita dalam menghadapi perdagangan bebas dunia.
Demikian dikatakan Bupati Kulon Progo H. Toyo Santoso Dipo dalam acara Musda Dekranas Kulon Progo yang dilaksanakan di Gedung Kaca komplek pemkab. Musda tersebut juga dihadiri oleh, Ketua Dekranasda Kulon Progo Hj. Wiwik Ernawati, Wakil Ketua Dekranas Propinsi DIY Drs. H. Wahyuntono, Ketua Komisi II DPRD Kulon Progo Thomas Kartoyo, pejabat eksekutif dari dinas dan instansi terkait, pengurus Dekranasda periode 2002-2007 serta para perajin di Kulon Progo.
Persiapan menuju perdagangan bebas dunia harus dilaksanakan. Karena mau tidak mau, suka tidak suka terjadinya perdagangan bebas dunia pasti akan berlangsung. “ Sehingga harapan kedepan, para perajin bukan hanya sebagai obyek melainkan mampu menjadi subyek dalam pembangunan industri kerajinan guna peningkatan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat,” katanya.
Selanjutnya, sampai saat ini cita-cita pengrajin untuk menjadi subyek dalam konteks pembangunan bidang industri dan kerajinan belum terwujud. Hal ini dapat kita lihat di lapangan, masih banyak nilai jual produksi kerajinan yang belum sesuai dengan kelayakan usaha kerajinan.
Untuk itu, pemerintah termasuk Dekranas diharapkan mampu mendorong, memfasilitasi dan memotivasi para pengrajin maupun kelompoknya untuk menjadi pengrajin yang produktif. “Sehingga pengrajin kedepan bisa memiliki bargaining power dalam mendukung produksi kerajinan dan membentuk kelembagaan pengrajin yang mapan dan professional,” tandas Toyo.
Sementara itu, menurut Ketua Deranasda Kulon Progo Hj. Wiwik Ernawati selain memaparkan pertanggung jawaban Dekranas periode 2002-2007, Musda tersebut juga akan menentukan kepengurusan yang baru untuk periode 2008-2012. Untuk itu, diharapkan para pengurus baru yang nantinya terbentuk akan mampu untuk mengemban tugas dan tanggung jawabnya dengan lebih baik lagi.
Karena perkembangan dari sektor industri akan memunculkan perkembangan juga di bidang ketenaga kerjaan. “Karena kerajinan adalah sebuah lapangan kerja yang perlu untuk terus diaktifkan dan didorong untuk mewujudkan kemajuan di bidang industri kecil dan kerajinan. Perkembangan ini akan berdampak pula terhadap perkembangan perekonomian baik di daerah maupun para pengrajin sendiri,” katanya.
Sementara itu, Wakil Ketua Dekranas Propinsi DIY Drs. H. Wahyuntono megatakan bahwa pembangunan industri kecil dan kerajinan juga membawa misi kehidupan. Hal ini mengingat, selama ini kerajinan sudah merupakan budaya yang mengakar di masyarakat. Sehingga kehidupan tidan bisa dilepaskan dari sector kerajinan.
Untuk mengembangkan kerajinan, setidaknya ada tiga aspek yang harus terpenuhi. Diantaranya, kerajinan bisa menampung berbagai inspirasi dan kehendak dari masyarakat, kerajinan sebagai wahana mengembangkan kreativitas yang akan bisa melahirkan generasi yang terampil dan terdidik serta kerajinan yang mampu menjadi sarana perkembangan pendapatan dan menciptakan pemerataan pembangunan.
Kulon Progo Terbuka Bagi Pengusaha Luar Daerah

Kulon Progo tak akan membatasi pengusaha luar daerah yang akan mendirikan usaha di wilayah ini, namun akan diberikan fasilitas yang diperlukan. Karena keberadaan pengusaha luar daerah diyakini akan dapat memotivasi berkembangnya iklim usaha serta munculnya pengusaha-pengusaha lokal.
Demikian ditegaskan Bupati H Toyo Santoso Dipo pada acara serah terima jabatan Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Pertambangan (Perindagkoptam) Kulon Progo, dari Ir H Subito kepada Ir Agus Anggono, selaku Pelaksana Tugas (Plt), Sabtu (5/12) di gedung Joglo kompleks kantor Pemkab. Hadir pada kesempatan itu Wabup Drs H Mulyono, Sekda Drs H So'im, MM serta segenap pejabat Pemkab. Subito memasuki masa bebas tugas (BT) sedang Agus Anggono secara definitif menjabat Assek II.
Saat ini, tambah Toyo, jumlah pengusaha lokal Kulon Progo memang masih relatif sedikit. Antara lain disebabkan pengalaman, penguasaan teknologi dan kemampuan pemasarannya masih sangat terbatas.
"Kalau banyak pengusaha dari luar yang punya usaha di Kulon Progo otomatis masyarakat akan bisa belajar secara langsung. Hal ini akan sangat menguntungkan, karena mengajari masyarakat untuk menjadi pengusaha itu sangat sulit. Tidak seperti memberikan pelajaran di kelas," tutur Toyo.
Dikatakan, potensi usaha yang bisa dikembangkan di Kulon Progo cukup banyak, contohnya mebel. Produksi kayu di Kulon Progo setiap tahun sekitar 80 ribu kubik. Dan sebagian besar masih dijual keluar daerah secara glondongan. Kalau bisa dijual dalam bentuk barang jadi atau setengah jadi nilai tambahnya akan sangat besar. Namun ini belum banyak dilakukan masyarakat, tukasnta.
Potensi lain, tambah Toyo, adalah di sektor pertambangan, yakni batu andesit. Deposit batu andesit di Kulon Progo mencapai 227 ton. Namun belum ada satupun pengusaha yang meliriknya.
"Ini satu peluang usaha yang sangat menjanjikan. Karena di samping jumlah cadangannya besar kualitas batu andesit Kulon Porgo adalah nomor 1 dan jumlah permintaannya sangat besar. Terbukti, batu kali yang dilarang untuk ditambang pun sering dicuri," ujarnya.
Menyinggung hasil kerja Subito selama menjadi Kadis Perindagkoptam, Bupati menilai sangat baik dan mendekati cume laude. Beberapa bidang tugas telah berhasil dilaksanakan. "Yang paling menonjol, Pak Bito mampu membuat jalur yang benar dalam peran Dinas Perindagkoptam dan mampu menerjemahkan kebijakan Bupati," katanya.
Antara lain, di Subdin Perdagangan telah berhasil membangun pasar ikan dan pasar lelang. Sedang Subdin Pertambangan telah mengupayakan investasi untuk penambangan pasir besi.
"Ini jalur yang sudah lurus dan benar. Pengganti Pak Bito nanti tinggal meneruskan, meski caranya tidak mudah. Karena harus menggunakan program-program yang lebih teknis dan detil," imbuh Toyo.


Jamasan Pusaka di Suroloyo Berlangsung Semarak

Upacara adat jamasan pusaka yang dilakukan Kamis (10/1), di Pedukuhan Keceme, Samigaluh, berlangsung semarak. Tak kurang dari 3.000 orang pengunjung ikut menyaksikan jamasan pusaka yang sebelumnya dikirap dari Sekolah Dasar (SD) Suroloyo menuju Sendang Widodaren untuk dijamasi (dibersihkan). Bahkan, begitu banyaknya pengunjung yang ingin menyaksikan jalannya kirap serta prosesi jamasan pusaka, arus lalu-lintas menuju ke obyek wisata Puncak Suroloyo sempat macet.
Jamasan pusaka tersebut, merupakan upacara adat yang sudah rutin dilaksanakan oleh masyarakat Pedukuhan Keceme pada setiap tahunnya. Sedangkan pelaksanaanya dilakukan bertepatan pada tanggal 1 muharram yang pada tahun 2008 ini, jatuh pada tanggal 10 Januari. Adapun pusaka yang dikirap merupakan pusaka pemberian dari almarhum Sri Sultan HB IX yang yang sudah menjadi simbol dan pusaka milik Pedukuhan Keceme dan juga Kecamatan Samigaluh.
Pusaka-pusaka tersebut terdiri dari 3 buah yaitu, Tombak Kyai Tunggul Argo, Tombak Kyai Manggolo Murti serta Songsong Mahkuto Dewo. Ketiga pusaka tersebut dikirab dengan diiringi oleh beberapa regu pasukan yaitu, Bregodo Kraton Ngayogyakarto, Pembawa Gunungan, pemampakan Tokoh Sultan Agung, Kesenian jathilan dan Bangilun serta pasukan geblek Legondo. Dengan dipimpin oleh sesepuh adat setempat.
Setelah sampai di Sendang Widodaren, iring-iringan kirap berhenti. Selanjutnya, rombongan pembawa pusaka masuk melalui pintu gerbang Sendang. Pusaka-pusaka yang berwujud tombak tersebut lalu dibuka untuk selanjutnya di jamasi (dibersihkan) dengan air Sendang Widodaren. Pada kesempatan itu, Bupati Kulon Progo H. Toyo Santoso Dipo didaulat untuk membersihkan bersama-sama dengan Juru Kunci Sendang widodaren Suhadi. Selain masyarakat setempat, prosesi jamasan itu juga dihadiri oleh beberapa pejabat pemkab Kulon Progo seperti, Kepala Diparda Drs. Bambang Pidekso, Kepala Perhubungan Drs. Rosyadudin, Kabag Pemerintahan Krissutanto, Camat Samigaluh Rudi Widiatmoko, S.Sos dan yang lainya.
Selesai melakukan jamasan pusaka, Bupati lalu melepaskan burung perkutut yang ditujukan untuk melestarikan burung perkutut. Karena daerah samigaluh merupakan ekosistem yang cocok untuk perkembangbiakan burung perkutut. Adapun burung perkutut yang saat itu dilepaskan merupakan pemberian dari Sri Sultan HB X yang berjumlah 6 ekor dan GBPH Prabukusumo sebanyak 25 ekor. Sedangkan secara bertahap burung perkutut yang akan dilepaskan mencapai jumlah 400 ekor.
Menurut Suhadi, jamasan pusaka tersebut sudah dilakukan sejak tahun 80-an. Tepatnya, setelah Sultan HB IX memberikan pusaka-pusaka tersebut kepada masyarakat Pedukuhan Keceme, Samigaluh. Sedangkan Sendang Widodaren hanya merupakan salah satu dari beberapa tempat wisata ritual yang ada di Pedukuhan Keceme. Masih ada beberapa tempat ritual yang lain seperti, Tegal Kepanasan, Pertapaan Mintorogo maupun Pertapaan Indrokilo.
Sedangkan upacara jamasan sendiri bertujuan untuk meminta rejeki dan juga keselamatan kepada yang mahakuasa. Karena pusaka-pusaka tersebut sudah dianggap sebagai symbol dari masyarakat Pedukuhan Keceme. "Pusaka-pusaka itu merupakan symbol dari masyarakat kami dan sudah selayaknya kami jaga dan kami rawat. Agar kami bisa mendapatkan kedupan yang damai dan tentram," katanya.
Sementara itu, Bupati Kulon Progo menyambut baik adanya upacara adat tersebut. Karena dengan adanya even-even seperti itu, bisa meningkatkan ataupun mempromosikan wisata yang selama ini dimiliki oleh Kabupaten Kulon Progo.
Bupati juga merasa kagum dengan pusaka-pusaka yang saat itu dikirab dan di jamasi. Menurut Bupati selain sebagai simbol masyarakat pusaka-pusaka tersebut merupakan benda yang perlu untuk dirawat dan dilestarikan. "Tombak ini sangat bagus lho, kandungan batu meteornya masih banyak sehingga begitu keras dan kuat," kata Toyo.