18 April, 2009

Program Jamkes Butuh Anggaran Rp. 1, 5 Milyar

Program Jaminan Kesehatan (Jamkes) di Kabupaten Kulon Progo diproyeksikan membutuhkan dana APBD sekitar Rp. 1,5 milyar. Dana itu diperuntukkan bagi sekitar 25.000 warga miskin sekali yang pada tahun lalu merupakan peserta Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) dan Jaminan Kesehatan Sosial (Jamkesos).

Demikian dikatakan kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) dr Lestaryono M Kes saat beraudiensi dengan Bupati H Toyo Santoso Dipo, Sabtu (18/4) di gedung Joglo kompleks kantor Pemkab. Audiensi diikuti oleh segenap pejabat Dinkes dan kepala SKPD terkait.

Kebutuhan dana Jamkes, tambah Lestaryono, diperkirakan akan terus mengalami peningkatan. Sebab, biaya pemeliharaan kesehatan juga meningkat akibat dari adanya beberapa faktor. Antara lain masih tingginya penyakit infeksi, transisi epidemiologis, perkembangan teknologi kedokteran dan inflasi, katanya.

Hal itu, tutur mantan Kepala Puskesmas Temon ini, juga juga dipengaruhi oleh tingkah laku masyarakat yang sebenarnya tidak miskin tetapi banyak yang minta gratis bila berobat ke rumas sakit. Tahun lalu, kata dia, jumlah peserta Jamkesmas sebanyak 31 persen dan Jamkesos 14 persen. Sedang non miskin 54 %.

“Namun kenyataannya, dari kelompok non miskin banyak yang minta gratis atau keringanan bila berobat. Seperi dengan minta Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM), sehingga mendapat subsidi dari Pemkab. Sehingga, berapapun anggaran Jamkes yang ada pasti kurang. Apalagi tahun ini dalam APBD hanya sekitar Rp. 700 juta,” terangnya.

Untuk itu, kata dia, di waktu mendatang Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda) akan membuat terobosan dengan menerapkan subsidi silang. Kepesertaan Jamkes dilakukan dengan sistem tertutup yang menunjuk by name dan by adres secara langsung, dengan membayar premi sebesar Rp. 10.000 per bulan,-.

“Premi itu, 50 persen disubsidi Pemkab dan 50 persen dibayar peserta. Dengan asumsi jumlah peserta 25jiwa, maka anggaran yang dibutuhkan untuk subsidi dariAPBD adalah sekitar Rp. 1,5 milyar,” tutur Lestaryono.

17 April, 2009

DI MUSIM HUJAN MENDATANG
Pemkab Targetkan Penanaman 1 Juta Pohon

Pada musim hujan mendatang, Pemkab Kulon Progo menargetkan akan menanam 1 juta pohon di seluruh wilayah kabupaten. Pengadaan bibit akan dilakukan oleh Pemkab sedang penanamannya oleh masyarakat, dengan sistem pemberian bantuan secara gratis.
Hal itu terungkap saat dilakukan Hari Bhakti Rimbawan dan Hari Bumi tahun 2009, Jumat (17/4) di kompleks terminal Wates. Acara yang dihadiri oleh segenap pejabat pemkab dan masyarakat itu ditandai dengan penanaman bibit pohon oleh Bupati H Toyo Santoso Dipo dan pejabat yang hadir.
Menurut Toyo, saat ini dampak pemanasan global dan perubahan iklim sudah sangat terasa di Kulon Progo. Pada siang hari udara etrasa panas menyengat dan di malam hari rata-rata suhu di atas 30 derajat C.
Hal ini, katanya, perlu mendapat penanganan yang konkret dan serius oleh semua lapisan masyarakat. Yakni dengan momotivasi masyarakat untuk rajin menanam pohon. Karena dengan jumlah pohon yang banyak, produski oksigen akan semakin banyak dan pada gilirannya akan mengurangi intensitas pemanasan global.
“Saya minta di musim hujan nanti Dinas Pertanian dan Perkebunan menyediakan bibit dan diberikan kepada masyarakat secara gratis, jangan ada pungutan apapun. Silakan disediakan bibit secukupnya, dengan perhitungan pohon yang hidup setidaknya 1 juta batang,” pinta Bupati kepada Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Ir Agus Langgeng Basuki.
Sementara, menurut Kepala Kantor Lingkungan Hidup (KLH) Ir Junianto Marsudi Utomo, pada hari Bhakti Rimbawan dan Hari Bumi di Kulon Progo dilakukan penanaman 1.650 pohon. Penanaman dilakukan di kompleks terminal Wates, lingkungan kantor pemerintah dan ruang-ruang terbuka hijau di sekitar Kota Wates.

DEKRANAS KULON PROGO

Buka Outlet Produk Kerajinan di Terminal Wates

Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) Kabupaten Kulon Progo membuka outlet produk kerajinan di kompleks terminal Wates. Peresmian dilakukan oleh Bupati H Toyo Santoso Dipo dan disaksikanketu Dekranas Kulon Progo Hj Wiwik Toyo santoso Dipo, segenap pejabat pemkab serta sejumlah perajin.

Outlet tersebut dimaksudkan sebagai ruang pamer untuk memperkenalkan produk-produk ungulan masyarakat Kulon Progo kepada konsumen luar daerah. Karena selama ini cukup banyak keluhan dari pengrajin Kulon Progo yang kesulitan mengembangkan pemasaran produknya.

Terminal. menurut bupati, merupakan tempat yang sangat strategis untuk memasarkan dan memperkenalkan berbagai jenis produk. Sebab, setiap hari pasti ada orang luar daerah yang dating atau sekedat lewat.

“Saya harapkan outlet ini dimanfaatkan dan dikelola dengan baik dan bebar-benar diperuntukkan bagi pengrajin Kulon Progo. Jangan sampai malah dimanfaatkan oleh pihak lain yang justru mencari keuntungan sendiri dan tidak berpihak kepada pengarajin,” tandas Toyo.


BUPATI BERSYUKUR DAN TERIMA KASIH

Pemilu Lancar Sehingga Kulon Progo Kondusif

Bupati Kulonprogo H.Toyo Santoso Dipo bersyukur dan terima kasih kepada warga masyarakat dan segenap komponen yang terlibat pelaksanaan Pemilu Legislatif dapat terlaksana dengan baik dan lancar, sehingga Kulonprogo secara umum situasi kondusif.

“Pemilu legislative untuk memilih calon wakil rakyat di DPR,DPD,DPRD propinsi maupun kabupaten. Tentunya dengan jumlah parpol dan caleg yang tidak sedikit, merupakan pertarungan yang tidak ringan baik bagi parpol maupun caleg. Pertarungan menghasilkan kemenangan dan kekalahan adalah hal biasa. Untuk yang menang jangan menepuk dada memperlihatkan kesombongan, dan bagi yang belum jangan sedih, patah semangat atau bahkan patah arang, sebab hal tersebut mungkin akan membuat depresi atau bahkan strees yang berkepanjangan, ingat bahwa langkah dan masa depan kita masih panjang,” kata Toyo dalam sambutannya saat menjadi inspektur upacara (irup) upacara 17-an, sekaligus peringkatan Hari Kartini, Hari Bhakti Rimbawan, dan Hari Bumi di halaman Pemkab Kulonprogo, Jum’at (17/4).

Upacara diikuti Wakil Bupati Drs.H.Mulyono, Sekda Drs.So’im,MM para kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di lingkungan Pemkab. Dalam kesempatan tersebut bupati menyerahkan kunci dan mencoba Unit Motor Pintar dari Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIB) kepada Kantor Perpustakaan Umum Daerah Kabupaten Kulonprogo, yang berjumlah 3 unit .

Lebih lanjut Toyo menyampaikan selamat bagi caleg yang meraih kemenangan. Caleg yang terpilih tentunya akan duduk di kursi dewan selaku wakil rakyat yang merupaskan amanah yang harus dijalankan sesuai undang-undang. Untuk itu anggota legislative dituntut peka terhadap kepentingan rakyat, selain itu mampu mengkritisi kebijakan eksekutif serta mampu bekerjasama dengan eksekutif untuk kemajuan dan kesejahteraan masyarakat luas.

“Tugas kita belum usai dalam Pemilu, karena masih ada Pilpres. Untuk itu selalu saya ingatkan kepada PNS,Perangkat desa dan anggota BPD agar senantiasa bersikap netral, sehingga tetap mampu melaksanakan tugas dengan baik. Demikian juga kepada saudara-saudara yang dipercaya sebagai petugas PPK,PPS maupun KPPS agar benar-benar mengedapankan netralitasnya, karena kalau tidak netral akan menganggu proses Pemilu,”pinta Toyo.

Berkaitan dengan Hari Kartini, emansipasi wanita di Indonesia telah terlihat nyata dari berbagai karya dan keterlibatannya dalam pembangunan bangsa dan negara. Kepemimpinan wanita di berbagai bidang terbukti tidak kalah dibanding pria. Termasuk di Kulonprogo tidak sedikit kaum wanita mampu memimpin pada pemerintahan, maupun berbagai bidang dan sector. Hal ini menunjukkan bahwa wanita telah mampu berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan kaum pria dan bukan hanya sekedar konco wiking dengan tanpa meninggalkan kodrati sebagai seorang wanita.

Sementara, dalam menyongsong peringatan Hari Bhakti Rimbawan ke-26 dan Hari Bumi yang jatuh 22 April mendatang Bupati menegaskan bahwa kelestarian sumberdaya hutan dewasa ini telah menjadi isu global. Umat manusia di seluruh dunia meyakini bahwa hutan tidak hanya memiliki fungsi social ekonomi dan social budaya, tetapi juga fungsi ekologis yang perannnya sangat vital bagi system penyangga kehidupan. Terjadinya fenomena di muka bumi saat ini berupa pemanasan global dan perubahan iklim, merupakan suatu tantangan bagi para rimbawan untuk segera bertindak sesuai profesi dan proporsinya masing-masing. Salah satu upaya umat manusia untuk mengurangi efek pemanasan global dan perubahan iklim adalah dengan memperbanyak pohon-pohon dan tanamn-tanaman. Oleh karenanya diperlukan upaya mempertahankan keutuhan ekosistem hutan dan melakukan penanaman pohon secara besar-besaran.

15 April, 2009

BLT Dibagikan Mulai 21 April

Bantuan Langsung Tunai (BLT) bagi Rumah Tangga Sasaran (RTS) di Kulon Progo akan dibagikan Selasa (21/4) hingga Rabu (29/4) mendatang. Pembagian akan dilakukan serentak di 12 kantor pos di seluruh wilayah Kulon Progo. Jumlah penerima sebanyak 42.020 RTS, masing-masing sebesar Rp. 200.000,-.

Hal itu dikatakan Kepala PT Pos Indonesia Wates Muh Mufti Ismail, Rabu (15/4) saat dilakukan sosialisasi di gedung Kaca kantor Pemkab. Sosialisasi diikuti oleh camat dan kepala desa se Kulon Progo, serta dihadiri Assek I Drs H Sutedjo Wiharso, Kepala Dinas Sosnakertrans Drs H Musodo dan Kepala Bidang Sosial Drs Untung Waluyo.

Dalam pembagian BLT tahun ini, tambah Mufti, pihaknya tidak memberikan kupon seperti tahun lalu. Namun akan diberikan undangan sesuai dengan nama dan alamat penerima sesuai data tahun kemarin.

“Saat pengambilan, penerima harus membawa undangan dan bonggol kupon tahun 2008. Bila bonggolnya hilang atau rusak, penerima harus menunjukkan kartu identitas berupa KTP, SIM atau kartu keluarga dan menyerahkan foto kopiya. Dan apabila tidak memeliki kartu identitas harus membawa surat keterangan dari kepala desa setempat,” jelas Mufti.

Lebih jauh Mufti menandaskan, hak penerimaan BLT tidak bisa dialihkan atau ditambah. Jumlah penerima harus sesuai dengan data yang ada, seperti tahun lalu. Namun, kata dia, bagi pemilik hak yang meninggal bisa diterimakan kepada ahli warisnya. Dengan syarat ahli warisnya harus masuk dalam daftar keluarga miskin (Gakin) mendapat rekomendasi dari kades dan surat keterangan sebagiahli waris, ujarnya.

Mufti menyatakan, secara rinci penerima BLT per kecamatan meliputi, Wates 3.182 RTS, Pengasih 4.765, Kokap 4.787, Temon 2.643, Panjatan 3.471, Galur 2.563, Lendah 3.424, Sentolo 3.986, Nanggulan 2.387, Kalibawang 3.765, Samigaluh 3.496 dan Girimulyo 3.551.

“Sebenarnya jumlah data penerima tahun 2008 sebanyak 42.078 RTS, namun yang mengambil uang di kantor pos hanya 42.020. Yang 78 RTS tidak mengambil haknya tanpa keterangan sama sekali. Sehingga jumlah itu kami gunakan untuk data penerimaan tahun 2009,” papar Mufti.

Sementara Sutedjo berharap agar pembagian BLT tahun ini bisa lebih lancar dan aman. Setiap kantor pos dihimbau untuk memperhitungkan jumlah penerima yang hadir pada hari pembagian.

“Yang penting, jangan terlalu banyak sehingga menimbulkan antrian yang panjang. Setiap hari bisa untuk penerima 1 desa. Namun kalau penerimanya banyak, bisa dibagikan 2 hari,” pesannya.

Bupati Dukung Pembangunan Museum di Kulon Progo

Bupati Kulo Progo Toyo Santoso Dipo mendukung gagasan pembangunan museum di Kabupaten Kulon Progo. Kosep tersebut dinilai sangat baik mengingat saat ini banyak potensi budaya maubun benda-benda cagar budaya yang dimiliki Kulon Progo. Namun, benda-benda tersebut saat ini masih berada dalam situs budaya dan belum dapat dilestarikan dengan cara yang lebih baik. Padahal benda-benda sejarah menjadi sesuatu yang sangat penting untuk mengetahui perkembangan sebuah bangsa. Seperti perkembangan Kabupaten Kulon Progo dari masa lalu sampai dengan sekarang.
Demikian dikatakan Bupati, Rabu (15/4), dalam acara presentasi rencana pembangunan museum di Kulon Progo di Gedung Joglo pemkab. Selain bupati, acara tersebut juga dihadiri oleh Assek II Ir. Agus Anggono, Kadisbud Provinsi DIY Drs. Joko Dwiyanto,M.Hum, Kadisbudparpor Drs. Bambang Pidegso, Kepala DPU Ir. Moch Nadjib, Kadin Pendidikan Moh. Mastur dan yang lainnya. Benda-benda yang saat ini dimiliki dan dikelola pemkab mempunyai makna secara mendalam tentang seberapa jauh perkembangan kebudayaan di masyarakat. Dari perkembangan tersebut, kita bisa mempelajari proses budaya dan sekaligus menciptakan kebudayaan yang baru. Menjadi sebuah kebudayaan yang lebih maju dan memberikan dampak terhadap pembangunan di dalam masyarakat. “ Karena sejarah sangat penting baik secara fisik maupun konseptualnya,” tandas Bupati.
Selain menyelamatkan benda-benda bersejarah, pembangunan museum juga akan memberikan pelajaran bagi kita dan generasi kita tentang pentingnya belajar pada sejarah perkembangan zaman. Karena banyak generasi muda yang tidak berminat untuk mempelajari sejarah. Padahal sejarah yang termasuk dalam kategori ilmu sosial mempunyai hirarkhi yang lebih tinggi dari ilmu yang lain misalnya, ilmu-ilmu terapan (exact).
Disisi lain, dalam pembangunan museum nantinya juga harus memperhatikan berbagai aspek seperti, pendanaan, lokasi maupun konstruksi bangunannya. Hal ini diperlukan agar keberadaan museum akan memberikan sebuah nilai dan kemajuan baik dalam hal pendidikan sejarah maupun kepentingan masyarakat yang lain. “Sehingga kalau nanti berdiri museum di Kulon Progo diharapkan dibuat minimal dua lantai. Karena selain untuk keperluan konservasi lingkungan, benda-benda budaya akan lebih aman dan bisa dipelihara dengan baik,” kata bupati.
Sementara itu, Kepala Disbudparpor Kulon Progo Drs. Bambang Pidegso memaparkan bahwa untuk pembangunan museum yang representatif diperlukan lokasi minimal seluas 2.175 m2. Agar museum nanti bisa berfungsi secara maksimal dan bisa memberikan layanan secara baik. Karena secara ideal museum akan memiliki beberapa ruangan seperti, ruang display dan konservasi. Ruang display akan dibagi lagi menjadi beberapa ruangan yaitu, prasejarah, klasik, islam, kolonial/perjuangan dan ruangan umum.
Dengan luas museum yang mencapai 2.175 m2 tersebut, akan memerlukan dana pembangunan sebesar Rp 4,4 milyar. Adapun gambaran lokasi untuk mendirikan museum dengan luasan tersebut ada beberapa tempat sebagai alternatif yaitu, sebelah timur Gedung DPRD, sebelah utara Gedung BPN, sebelah utara kampus UNY dan sebelah selatan pabrik wig (rambut palsu). “Dengan lokasi strategis dan gedung yang lebih baik museum baru nanti diharapkan bisa menggantikan fungsi Gedung Agoeng yang saat ini dijadikan museum. Menjadi museum yang benar-benar representatif dan dibetuhkan masyarakat,” katanya.
Dukungan pembangunan museum juga dikatakan oleh Kepala Disbud Provinsi DIY Drs. Joko Dwiyanto,M.Hum. Diungkapkan bahwa saat ini, hanya Kabupaten Kulon Progo yang tidak memiliki museum yang representatif. “Untuk itu, kami akan memberikan dukungan dua ratus persen untuk pembangunan museum dan kami harapkan Kulon Progo segera mengirimkan rencana pembangunan museum tersebut ke Provinsi DIY,” katanya.

14 April, 2009


Pengusaha Korea Tertarik Kembangkan ‘Tanjung Adikarto’

Pengusaha dari Korea Selatan sangat berminat untuk melakukan investasi dalam pegembangan pelabuhan perikanan Tanjung Adikarto di Karangwuni, Wates. Karena pelabuhan yang kini tengah dibangun itu dinilai memiliki prospek yang sangat baik. Terutama untuk penangkapan dan pengolahan ikan.

Hak itu terungkap saat Konsultan Pemerintah Korea Selatan bidang Perikanan Jo Yeong Sub melakukan kunjungan di lokasi pembangunan pelabuhan, Selasa (14/4). Dalam kunjungan tersebut Jo Yeong Sub didampingi oleh Pengurus Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Deni Tumewa dan Presiden Indonesia Marketing Association (IMA) George Iwan Marantika. Kunjungan mereka disambut oleh Bupati H Toyo Santoso Dipo, Sekda Drs H So’im MM, Kepala Dinas Perindag dan ESDM Drs H Darto MM serta Kepala Dinas Kelautan Perikanan dan Peternakan (DKPP) drh Sabar Widodo.

Menurut Jo Yeong Sub, dibanding pelabuhan perikanan di Korea, pelabuhan Tanjung Adikarto memiliki beberapa kelebihan. Antara lain potensi perikanan yang sangat besar, masih luasnya lahan untuk pengembangan kawasan pelabuhan serta tersedianya tenaga kerja yang cukup besar.

Di Korea, katanya, setiap kawasan pelabuhan lahannya sangat terbatas. Karena berhimpitan dengan kawasan industri lain atau pemukiman umum. Di samping itu, kata dia, jumlah pelabuhan sudah sangat banyak, sehingga persaingan antar nelayan dalam penangkapan ikan sangat ketat dan hasilnya pun terbatas.

“Kami perlu mengembangkan investasi di beberapa wilayah. Termasuk di Pulau Jawa bagian selatan yang potensi ikannya masih sangat besar. Dan Tanjung Adikarto ini merupakan salah satu alternatif bagi pengusaha perikanan Korea,” ujar Jo.

Namun demikian, tuturnya, infrastruktur Tanjung Adikarto masih relatif terbatas. Oleh karenanya, dia akan mendorong pengusaha Korea juga turut melakukan investasi dalam pembangunan fisik pelabuhan.

“Kondisi dan letak pelabuhan ini sangat bagus. Tahun depan saya akan mengajak para pengusaha perikanan Korea untuk dating ke sini. Biar mereka melihat sendiri dan memilih di bidang apa mereka akan melakukan investasi,” tadasnya.

Menurut Toyo, pada akhir tahun 2009 mendatang pelabuhan Tanjung Adikarto sudah bisa digunakan untuk mendarat kapal dengan bobot 30 gross ton (GT). Direncanakan akhir tahun 2010 bisa untuk kapal berbobot 60 GT dan akhir 2011 untuk 150 GT.

“Untuk tahun ini pembangunan diprioritaskan untuk pengerukan kolam pelabuhan dan penyempurnaan break water,” tandas Toyo.



PEMKAB TIMOR TENGAH UTARA KUNJUNGI KULONPROGO

Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Utara Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) berkunjung ke pemkab Kulonprogo, Selasa (14/4). Rombongan di terima Asisten Tata Praja Drs.H.Sutedjo Wiharso mewakili Bupati di Lantai II Binangun .

Rombongan pemkab TTU terdiri enam orang dari instansi Bagian Pemerintahan dan Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa dipimpin Asisten Tata praja, John Ds Thius,SIP,MSi, ingin belajar kepada pemkab Kulonprogo tentang pemberian tugas pembantuan kepada desa dan kerjasama antar daerah.

John Thius mengatakan kabupaten TTU yang beribukota di Kefamenanu di tengah-tengah Pulau Timor berada diperbatasan negara Timor Leste saat ini telah melakukan kerjasama khususnya dengan warga masyarakat antar perbatasan. Selain itu juga kerjasama dengan pemkab Timor Tengah Selatan dalam pengelolaan sumber air, sehingga permasalahan sering kesulitan air dapat sedikit teratasi. Kerjasama –kerjasama lainnya akan diteruskan untuk lebih memajukan daerah yang kurang dikenal di mata nasional.

“Kami menyadari bahwa wilayah TTU kurang dikenal bahkan tenggelam di kancah nasional, tidak seperti kabupaten Kulonprogo yang sudah kami kenal sejak sekolah SD,”kelakar John Thius.

Sementara itu Bupati Kulonprogo H.Toyo Santoso Dipo dalam sambutan tertulis yang dibacakan Asisten Tata Praja Drs.H.Sutedjo menyampaikan selamat datang dan terima kasih atas kedatangan di pemkab Kulonprogo. Dalam urusan pemerintahan yang diperbantukan kepada desa dari pemerintah Kulonprogo adalah tentang pemunggutan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), walaupun PBB urusan pemerintah pusat, namun dalam pelaksanaan di daerah pemkab ikut terlibat dalam mensukseskan pemungutan PBB. Pemkab mengalokasikan anggaran untuk pemungutan PBB dengan melibatkan pemerintah desa.

Dalam kesempatan tersebut dilakukan tukar menukar cinderamata, dari TTU berupa kain tenun khas Timor, sedangkan pemkab Kulonprogo beberapa hasil industri kerajinan, lambing daerah , serta kepingan CD selayang pandang dan obyek wisata. Usai pertemuan dan Tanya jawab, rombongan mengadakan kunjungan lapangan di desa Kebonrejo Kecamatan Temon.

13 April, 2009


OPTIMIS PENGHITUNGAN PPK SELESAI SESUAI JADWAL

Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) yang ada di Kabupaten Kulonprogo optimis dapat menyelesaikan rekapitulasi penghitungan suara dari beberapa Tempat Pemungutan Suara (TPS) sesuai jadwal yang ditentukan. Beberapa PPK telah menyelesaikan separoh lebih, bahkan di PPK Kecamatan Wates hingga Senin (13/4) siang tinggal menyisakan satu desa yakni desa Triharjo yang belum masuk rekap. Sisa waktu dan hari yang ada cukup untuk menyelesaikan rekap.

“Untuk perhitungan tinggal satu desa saja, target besok siang selesai, sehingga hari berikutnya tinggal melaporkan ke KPUD saja,”kata Aris Triyono salah satu PPK Wates.

Meski sudah hampir selesai, namun hasil perhitungan secara keseluruhan sementara belum dapat direkap, karena masih harus melakukan pencermatan-pencermatan.

Terpisah anggota KPUD Kulonprogo, Marwanto mengakui saat ini tugas berat di PPK untuk menyelesaikan penghitungan yang memerlukan waktu hingga tengah malam

BUPATI RESMIKAN APOTIK DAN POLIKLINIK KHARISMA

Bupati Kulonprogo H.Toyo Santoso Dipo meresmikan Apotik dan Poliklinik Spesialis di Rumah Sakit Umum (RSU) Kharisma Paramedika, di Jl.Khudori Wates, Senin (13/4).Peresmian ditandai dengan penguntingan buntal dihadiri Kadinas Kesehatan Kulonprogo dr.Lestaryono,M.Kes, Camat Wates Drs.Anang Suharso dan Direktur RSU Kharisma dr.Salamah.

Direktur RSU Kharisma Paramedika Wates, dr.Salamah mengatakan dengan adanya Apotik dan Poliklinik Spesialis di RSU Kharisma akan semakin menambah dalam memberikan layanan kepada masyarakat umum.

Sementara Bupati Kulonprogo H.Toyo Santoso Dipo mengatakan bahwa perkembangan Apotik di Kulonprogo, akhir-akhir ini menunjukkan perkembangan yang meningkat terutama di lokasi strategis yang mudah terjangkau masyarakat, namun hendaknya hal ini juga diikuti dengan semakin meningkatnya kualitas pelayanan prima dengan mengutamakan mutu dan kepuasan pelanggan yang sebaik-baiknya. “Karena keperluan obat bagi masyarakat semakin lama makin banyak dan bervariasi tentunya ini merupakan prospek pemasaran yang punya potensi besar yang perlu menjadi pertimbangan bagi pengelola apotik maupun rumah sakit untuk tetap menyediakan berbagai jenis obat yang dibutuhkan masyarakat dan siaga melayani dengan cepat, dengan mengedepankan nilai-nilai kemanusian,”pinta Toyo.

Lebih lanjut Toyo mengatakan menghadapi tantangan globalisasi dan arus informasi yang semakin bergulir hendaknya RSU Kharisma selalu mengadakan inovasi pelayanan sehingga tidak tenggelam, tetapi sebaliknya tetap menunjukkan eksisitensinya dalam kancah persaingan yang semakin ketat.