21 Februari, 2009


TEMPATI GEDUNG BARU BANTUAN JEPANG

PMI Kulonprogo Gelar Syukuran

Tempati gedung baru dua lantai, bantuan dari Palang Merah Jepang, Palang Merah Indonesia (PMI) cabang Kulonprogo di Jl.Bhayangkara kompleks UNY kampus Wates menggelar syukuran secara sederhana, Sabtu (21/2). Selain potong tumpeng, pembukaan pintu utama gedung oleh Wabup Drs.H.Mulyono yang dilanjutkan peninjauan ruangan di lantai bawah dan lantai atas, dalam kesempatan tersebut sekaligus Ketua PMI Cabang Kulonprogo melantik 23 anggota Korps Sukarelawan PMI Kulonprogo. Acara tersebut dihadiri oleh Wakil Bupati Kulonprogo, Drs.H.Mulyono, perwakilan PMI propinsi DIY Taslim Sudiyanto,SKM, sedang dari donatur Palang Merah Jepang Mihoko Goto, Palang Merah Denmark Danielo dan perwakilan PMI kabupaten/kota.

Ketua PMI Cabang Kulonprogo R.Agus Subagyo,SE mengatakan gedung PMI bantuan Palang Merah Jepang senilai Rp.1,7 M yang terdiri 2 lantai dengan luas tanah seluruhnya 483 m2 milik kas desa Pengasih dengan ijin Gubernur DIY disewa 20 tahun dan dapat diperpanjang, luas bangunan 342 m2 terdiri lantai bawah 187,75 m2 dan lantai atas 154,25 m2. Lantai bawah dipergunakan untuk Unit Tranfusi Darah dan Kegiatan relawan. Unit Transfusi Darah terdiri dari Ruang Pendaftaran, ruang tunggu, ruang pemeriksaan, ruang pengambilan darah, laboratorium dan gudang UTD, bagian belakang ruang relawan, gudang , dapur dan 2 toilet. Sedangkan lantai atas untuk aktifitas pengurus meliputi ruang staff, pengurus, pertemuan, diklat.

“PMI organisasi yang netral dan independen, kegiatan berpedoman pada 7 prinsip dasar yakni kemanusiaan, kesukarelaan, kenetralan, kesamaan, kemandirian , kesatuan dan kesemestaan, sehingga tidak melibatkan diri/berpihak pada golongan politik, ras, suku bangsa atau agama tertentu, tetapi mengutamakan obyek korban yang paling membutuhkan pertolongan segera untuk keselamatan jiwanya,”kata Agus.

Hingga kini menurut, Agus pengurus PMI berjumlah 11 orang, kelompok kerja 6 orang, staff 10 orang . KSR dan relawan 55 orang serta hampir semua sekolah ada Palang Merah Remaja (PMR). “Pengurus dari PNS aktif maupun pensiunan dan orsos, dan semua masih kompak, sebab untuk jadi pengurus PMI masih dapat dihitung. Kalau dibuat edaran siapa yang bersedia jadi pengurus PMI jawaban sebagian besar tidak bersedia, beda kalau jadi PNS, Pegawai BUMD, semua hampir bersedia,”keluh Agus yang Pensiunan Kepala Kantor Pengelola Pasar Kabupaten Kulonprogo.

Sedang, Taslim Sudiyanto,SKM dari PMI DIY merasa lega dengan telah terealisasinya pembangunan gedung PMI bantuan Palang Merah Jepang sehingga dapat sejajar dengan kabupaten/kota lainnya. Persoalan status tanah PMI menjadi pekerjaan yang berat untuk mewujudkan bantuan segera cair dari donatur, namun dengan semangat yang pantang menyerah mulai desa hingga ijin Gubernur dapat diselesaikan dengan baik. “Bencana membawa nikmat, itulah yang bisa dikatakan dengan telah terbangunnya gedung PMI bantuan dari Palang Merah Jepang di seluruh kabupaten/kota di DIY ini,”katanya.

Taslim berharap dengan sarana prasarana yang ada, kegiatan dapat ditingkatkan tidak hanya donor darah, namun program yang cukup luas selain membantu pemerintah dalam pertolongan korban bencana, AIDS, Demam Berdarah dan Flu Burung, tidak kalah penting langsung terjun ke masyarakat untuk kesiapsiagaan bencana sehingga dapat mengurangi resiko terhadap bencana yang datang.

Perwakilan Donatur, Mihoko Goto, merasa gembira dengan telah terealisirnya bangunan gedung PMI Kulonprogo yang merupakan bantuan dari donatur-donatur dari warga masyarakat Jepang. Gedung bukan prioritas utama, namun kesiapan dalam membantu setiap korban apabila terjadi bencana merupakan hal yang utama. “ Saya datang pertamakali di PMI Cabang Kulonprogo Agustus 2006, mendapatkan masukan bahwa Kulonprogo termasuk daerah yang rawan bencana terutama tanah longsor dan banjir,”kata Mihoko Goto yang fasih berbahasa Indonesia.

Sementara Wakil Bupati Kulonprogo Drs.H.Mulyono dalam sambutannya menyampaikan ucapan terima kasih kepada Palang Merah Jepang yang telah memberikan bantuan gedung PMI Cabang Kulonprogo yang representatif dan diharapkan gedung baru menjadi semangat baru untuk semakin meningkatkan profesionalisme dalam melayani masyarakat yang membutuhkan bantuan.

20 Februari, 2009


BUPATI LANTIK KADES PENGASIH APBD Diprioritaskan Untuk Wilayah Pedesaan
Di Kulon Progo, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) diprioritaskan bagi wilayah pedesaan. Sebab, saat ini sebagian besar penduduk miskin berada di desa. Untuk membangun dan memberdayakan masyarakat diperlukan fasilitas dan dana yang sangat besar.
Demikian dikatakan Bupati H Toyo Santoso Dipo saat melantik Budi Hartono sebagai Kepala Desa (Kades) Pengasih, Kamis (19/2) di balai desa setempat. Hadir dalam acara itu Assek I Drs Sutedjo, Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat Pemerintah Desa Perempuan dan Keluarga Berencana (BPMPPKB) Drs Krissutanto, Camat Pengasih Drs Sri Harmintarti MM, Muspika, anggota BPD dan tokoh masyarakat Pengasih.
Sementara, tambah Toyo, masyarakat kota sudah mendapat fasilitas lebih baik dalam pembangunan dan infrastruktur. Dengan fasilitas tersebut, kata dia, kehidupan masyarakat kota relatif lebih makmur dibanding masyarakat desa.
Di samping itu, katanya, sebagian besar masyarakat kota bekerja di sektor perdagangan. Mereka memanfaatkan masyarakat desa sebagai pembeli. “Dengan berbelanja ke kota, otomatis masyarakat desa sudah turut meningkatkan kemakmuran dan membangun wilayah perkotaan. Oleh karenanya, cukup adil bila APBD lebih banyak dikucurkan ke desa,” terang Toyo.
Lebih jauh Toyo mengharapkan, agar pemerintah desa dapat memanfaatkan seefektif mungkin dana bantuan dari pemkab. Menurut orang nomor satu di Kulon Progo itu, bantuan bantuan pemkab untuk desa sangat besar. Baik dalam bentuk ADD, TPAPD maupun modal LKM.
“Bantuan Pemkab Kulon Progo untuk pemdes besarnya nomor 3 se Indonesia. Padahal PAD Kulon Progo hanya 40 M lebih sedikit. Sementara Kutai Kertanegara PAD-nya sekitar 2,5 trilyun. Wajar kalau mereka mampu memberi bantuan ke pemdes yang lebih besar dari Kulon Progo,” tandas Toyo.
Kalau dana bantuan itu dimanfaatkan secara efektif, tutur Toyo, maka dalam waktu dekat akan terjadi percepatan laju pembangunan dan pertumbuhan ekonomi yang signifikan di perdesaan. Sehingga akan terjadi keseimbangan pertumbuhan antara kota dan desa, serta berkurangnya jumlah penduduk miskin di Kulon Progo.
Budi Hartono terpilih sebagai Kades Pengasih setelah berhasil memenangkan Pilkades yang digelar Minggu (1/2) lalu. Pengusaha las itu mampu unggul secara mutlak atas 3 pesaingnya.

18 Februari, 2009


BUPATI LANTIK PRAPTA LEGAWA

Pembangunan Fisik Tirtorahayu Tertinggal

Prapta Legawa Rabu (18/2) dilantik menjadi Kades Tirtorahayu Kecamatan Galur. Pelantikan yang digelar dalam Rapat Paripurna Istimewa Badan Permusyawaratan Desa dengan acara pokok Pengambilan sumpah dan pelantikan Kades terpilih dilakukan oleh Bupati Kulon Progo .H.Toyo Santoso Dipo di Pendopo Balai Desa setempat.

Hadir dalam pelantikan, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Drs.Sutedjo, Kepala Badan Pemberdayaan Pemerintahan Desa Perempuan dan Keluarga Berencana Drs.Krisustanto, Kabag Hukum Setda A.Bambang Sulistyo,SH, Kabag Kesra Setda Arief Sudarmanto,SH, Camat Galur Jumanto,SH beserta Muspika, Kades se-Kecamatan Galur, Ketua BPD Drs.H.Suradi serta anggota BPD, perangkat desa dan tokoh masyarakat.

Prapta Legawa dilantik menjadi Kades berdasarkan Surat Keputusan Bupati No. 27 tahun 2009 tentang Pengangkatan Prapta Legawa sebagai Kepala Desa Tirtorahayu dengan masa jabatan 2009-2015. Prapto Legawa yang unggul dalam Pilkades beberapa waktu lalu menggantikan mantan Kades Sudarmanto yang diberhentikan tidak dengan hormat karena kasus pidana.

Bupati Kulonprogo H.Toyo Santoso Dipo dalam sambutannya mengingatkan, pemimpin pada masa sekarang dan terlebih dimasa yang akan datang dituntut untuk lebih banyak mendengar dari pada berbicara. Sebagai seorang Kepala Desa diharapkan mampu mendengar aspirasi masyarakat baik yang terucap maupun yang tidak terucapkan.Selain itu harus mampu melihat yang terlihat maupun yang tersembunyi baik itu berupa potensi pembangunan maupun permasalahan.

” Desa Tirtorahayu yang dulu sangat maju dalam membangun sekarang ini, justru pembangunan fisik ketinggalan di banding desa lainnya, untuk itu kepada Kades yang baru perhatian kepada masyarakat ditingkatkan, Kades tidak usah segan untuk minta bantuan kepada Pemkab dalam membangun desa Tirtorahayu untuk menjadi lebih maju dan makmur,” pinta Toyo.

Perhatian Pemkab kepada pamong desa telah menunjukkan peningkatan, melalui TPAPD penghasilan para pamong di Kulonprogo terbesar ketiga di Indonesia. Namun peningkatan penghasilan yang diberikan harus diimbangi dengan cara kerja yang lebih baik, kebiasaan lama adanya pungli harus dihilangkan. ”Tunjangan pamong desa melalui TPAPD meningkat diterima sehingga sekarang banyak yang daftar jadi pamong desa, sebenarnya maksudnya agar di desa-desa tidak ada pungli lagi, dulu yardik-yardik (bayar disik) nek ora yo ragelem teken harus dihilangkan,”pintanya.


17 Februari, 2009


KT Marsudi Mulyo Panen Padi Gogo Tersedia 30 Hektare Lahan Potensial Belum Tergarap

Memiliki daerah perbukitan yang terjal dan jauh dari akses perkotaan tak membuat warga Pedukuhan Secang, Sidomulyo, Pengasih menyerah untuk mengembangkan pertanian. Karena dengan berbekal semangat yang tal kenal menyerah warga Pedukuhan Secang berhasil mengembangkan padi gogo dengan hasil yang menggembirakan. Karena dalam panen perdana yang dilakukan oleh Kelompok Tani (KT) Marsudi Mulyo dari lahan yang digarap mampu menghasilkan padi dengan rata-rata mencapai 5,6 ton/ha.
Ketua KT Marsudi Mulyo Sarno Wiharjo mengungkapkan hal tersebut di sela-sela panen perdana yang dilaksanakan Selasa (17/2) di Pedukuhan Secang, Desa Sidomulyo, Pengasih. Panen perdana yang langsung dipimpin oleh Kepala Desa Sidomulyo R. Sukestidono itu juga dihadiri oleh Kabid Holtikultura Dinas Pertanian dan Kehutanan Ir. Saebani, Kepala Kantor KP4K Ir. Tri Budi Harsono, perwakilan Kelompok Tani se-Sidomulyo, anggota kelompok tani dan masyarakat.
KT Marsudi Mulyo yang beranggotakan 49 orang saat ini menggarap lahan seluas 7 hektare di bawah hutan rakyat dan ditanami dengan Padi Gogo jenis Cipudong. Padi ini ternyata cocok dikembangkan di daerah Secang karena dari areal yang digarap seluas 7 hektare semua berhasil tumbuh dan berbuah dengan baik. “Kami katakana cocok karena meskipun padi sempat terserang ulat tanah (uret) namun masih mampu menghasilkan padi dengan rata-rata 5,6 ton/ha,” katanya.
Warga merasa cocok dan bersemangat untuk mengembangkan padi gogo karena meskipun lahan yang dimiliki adalah lahan perbukitan namun ternyata bisa untuk mengembangkan padi. Untuk itu, warga mengharapkan kedepan pemerintah lebih memperhatikan sektor pertanian. Karena saat ini di Pedukuhan Secang masih banyak lahan yang potensial untuk mengembangkan pertanian seperti pengembangan padi gogo.
Menurut Sarno Wiharjo, masih ada 30 hektare lahan potensial yang saat ini belum tergarap. Lahan tersebut terletak di bawah areal hutan rakyat dan saat ini belum tergarap secara maksimal. Dimungkinkan, lahan tersebut dapat dipergunakan sebagai lahan pertanian karena dahulu lahan-lahan tersebut juga merupakan areal pertanian yang mendapatkan irigasi dari Goa Kiskendo, lanjutnya.
Sementara itu, Kabid Holtikultura Dinas Pertanian dan Kehutanan Kulon Progo Ir. Saebani mengungkapkan dukungannya terhadap pengembangan padi gogo di daerah Secang. Namun diharapkan warga juga memperhatikan masalah dampak lingkungan dari pengolahan lahan tersebut. Karena lahan pertanian yang digunakan adalah lahan dibawah lahan hutan rakyat.
Jangan sampai pengembangan padi gogo merusak lahan hutan rakyat yang dimiliki. Sehingga mengakibatkan pengikisan ataupun menjadikan tanah menjadi tidak bisa menyimpan air. “Kalau sampai terjadi seperti ini, mungkin 1-2 tahun warga masih bisa menikmati hasil pertanianya. Namun tahun-tahun berikutnya warga akan kekurangan air. Karena hutan yang dimiliki menjadi berkurang,” katanya.
Di sisi lain, Ir. Saebani mengungkapkan bahwa hasil pertanian padi gogo KT Marsudi Mulyo yang memilii rata-rata 5,6 ton/ha sudah baik. Hasil ini berada di atas rata-rata kabupaten untuk padi di daerah perbukitan yang hanya mencapai 3,1 ton/ha. Sedangkan untuk padi di areal persawahan, rata-rata kabupaten mencapai 6,2 ton/ha, lanjutnya.

14 Februari, 2009

KULONPROGO KEMBANGKAN JATI UNGGUL
Pola Bagi Hasil, Kas Desa Tambah 250 Juta

Pemerintah Kabupaten Kulonprogo akan mengembangkan tanaman Jati Unggul dengan Pola bagi Hasil. Salah satu langkah yang telah ditempuh adalah melakukan kerjasama dengan Unit Usaha Bagi Hasil Koperasi Perumahan Wanabhakti Nusantara (UBH-KPWN). Penandatanganan MoU atau Nota Kesepahaman antara Pemkab Kulon Progo dengan UBH-KPWN dilakukan Sabtu (14/2) di Lantai II Binangun Pemkab. Dari pihak Pemkab Bupati Kulonprogo H.Toyo Santoso Dipo sedangkan UBH-KPWN oleh Direktur Utama Ir.Hariyono Soeroso MS. Dalam kesempatan tersebut sekaligus dilakukan kerjasama Pemkab dengan APIKRI yang melakukan budidaya pandan di pesisir selatan untuk membantu bahan baku anyaman agel.Acara disaksikan Asisten Perekonomian Pembangunan dan Sumber Daya Alam Setda Ir.Agus Anggono, Kadinas Pertanian dan Kehutanan Ir.Agus Langgeng Basuki dan Kepala Kantor Lingkungan Hidup Ir.Djunianto Marsudi Utomo.
Menurut Hariyono Soeroso, dengan telah ditandatanganinya MoU ini maka pada tahun 2009 dan seterusnya, direncanakan Kabupaten Kulon Progo dikembangkan usahatani Jati Unggul Nusantara (JUN) dengan Pola Bagi Hasil sebanyak 100.000 pohon atau seluas 100 ha setiap tahun, yang tersebar di berbagai desa, dengan jumlah 25.000 pohon perdesa dalam 5 tahun. dalam lima tahun mendatang akan ditanam sejumlah 500.000 pohon dengan luas lahan 500 ha, yang tersebar di 20 desa.
"Jika setiap desa menanam minimal 5.000 pohon pertahun selama 5 tahun, maka mulai panen tahun I sampai V, Kas Desa masing-masing desa akan mendapatkan bagi hasil panen sebesar 250 juta.Petani penggarap dan pemilik lahan di desa yang bersangkutan akan mendapat bagi hasil panen 875 juta pertahun,"jelas Hariyono mantap.
Selain itu desa masih mendapatkan tambahan berupa upah biaya pengamanan sebesar 2.500 perpohon per lima tahun, dan juga upah kepada petani penggarap 14.000 perpohon per lima tahun yang dibayar bertahap sesuai dengan kemajuan pekerjaan.Oleh karena itu usahatani JUN Pola Bagi Hasil akan mendorong pertumbuhan ekonomi pedesaan dan memperbaiki kualitas lingkungan hidup.
Sementara secara nasional jumlah JUN dengan pola Bagi hasil mulai awal 2007 sampai Desember 2008 sebanyak 438.270 pohon dengan melibatkan 1.676 KK Petani yang tersebar di Jawa Timur meliputi kabupaten Magetan 195.805 pohon, Madiun 8.070 pohon, Ponorogo 39.359 pohon, dan Ngawi 40.755 pohon, Jawa Barat di Bogor 48.129 pohon, Tanggerang 2.302 pohon, Purwakarta 100.000 pohon dan DIY di Kulonprogo sejumlah 3.850 pohon. Jumlah investor mencapai 443 orang dengan jumlah investasi untuk 232.487 pohon senilai Rp.13.949.220.000,-.

13 Februari, 2009

Tingkat Produktivitas Padi Gogo di Kokap 5,9 Ton Perhektar

Tingkat produktivitas padi gogo yang dibudidayakan anggota kelompok tani (Klomtan) ‘Agung Rejeki’ di Pedukuhan Klepu, Desa Hargowilis, Kecamatan Kokap mencapai 5,9 ton Gabah Kering Panen (GKP) perhektar. Hasil itu dapat diraih berkat penggunaan berbagai bibit unggul dan pemupukan berimbang yang dilengkapi dengan pupuk organik.

Menurut Ketua Klomtan ‘Agung Rejeki’ Suraji (68), anggota kelompoknya menanam padi gogo di lahan hutan rakyat Gunung Agung seluas sekitar 10 ha sejak musim penghujan tahun 2007 lalu. Pada penanaman pertama, tingkat produktivitasnya baru mencapai 3,6 ton. “Tahun ini bisa lebih tinggi karena mendapat pembinaan dari Unsoed Purwokerto dan Dinas Pertanian Kulon Progo,” katanya.

Dikatakan, pada penanaman pertama petani hanya menggunakan 1 jenis bibit. Kemudian oleh peneliti dari Unsoed Purwokerto diberikan beberapa jenis unggul yang cocok untuk jenis gogo. Termasuk jenis gogo aromatik yang hasilnya lebih baik dari jenis yang lain, terangnya.

Pada Kamis (12/2) dilahan tersebut dilakukan panen raya oleh Bupati H Toyo Santoso Dipo. Hadir pada acara itu Kepala Bappeda Budi Wibowo SH MM, Kepala Dinas Pertanian dan Kegutanan Ir Agus Langgeng Basuki, Kepala Kantor Ketahanan Pangan dan Penyuluh Pertanian Perikanan Kehutanan (KP3K) Ir Bambang Tri Budi Harsono, Camat Kokap Santoso SIP, Peneliti dari Unsoed Purwokerto Dr Totok Agung serta anggota Klomtan ‘Agung Rejeki’.

Dijelaskan Totok Agung, saat ini Unsoed tengah melakukan pengembangan teknologi budidaya padi gogo di beberapa daerah, termasuk Kulon Progo. Sebelumnya, kata dia, leh masyarakat padi gogo sering dikeluhkan mutunya kurang baik. Antara lain, nasinya kurang enak, tidak pera dan kalau dingin mengeras.

“Kami kemudian menambah dengan aroma menthik wangi sehingga aromanya bisa lebih sedap dan rasanga enak. Ada beberapa jenis bibit yang kami kembangkan dan rata-rata produksinya lebih baik. Mudah-mudahan ini bisa dikembangkan di Kulon Progo,” harapnya

Bupati H Toyo Santoso Dipo optimis bila produksi padi gogo di Kulon Progo dapat terus ditingkatkan. Karena sebagian besar petani padi gogo adalah warga wilayah pegunungan yang biasanya lebih ndregil dalam penggunaan teknologi baru. Kunci peningkatan produksi padi, kata dia, adalah penggunaan teknologi yang paling sesuai dengan kondisi tanaman dan lahan.

Toyo menilai, saat ini petani Indonesia masih jauh tertinggal dari Negara lain. Termasuk Cina yang sudah mampu memproduksi padi 14 ton perhektar. Sementara di Indonesia baru sekitar 6,5 ton.

“Penyebabnya adalah pada penggunaan teknologi. Petani Cina sudah menggunakan teknopligi enzima dan hormonal sementara kita masih ribut tentang penggunaan pupuk. Dan yang diributkan hanya masalah pupuk kimia dan nonkimia. Padahal semua pupuk itu merupakan persenyawaan kimia,” tandas Toyo.

Sementara Bambang Tri Harsono mengungapkan, luas lahan padi gogo di Kulon Progo pada tahun 2008 mencapai 134 ha, yang sebagian besar berada di wilayah perbukitan Menoreh. Tingkat produksi rata-rata sebesar 3,12 ton perha. “Yang dicapai oleh Klomtan ‘Agung Rejeki’ jauh lebih tinggi dari rata-rata kabupaten,” ujarnya.

05 Februari, 2009


80 % Suplai Genteng Kulon Progo Dari Luar Daerah

Untuk memenuhi kebutuhan bahan bangunan berupa genteng di Kulon Progo, hampir 80 persen berasal dari luar daerah. Padahal, banyak industri genteng yang dimiliki Kulon Progo, dan memiliki kulalitas yang tak kalah bagus dengan genteng yang berasal dari luar daerah. Sehingga keberadaan industri ini, harus terus didorong dan dipertahankan. Agar genteng dari Kulon Progo bisa semakin dikenal dan digunakan oleh masyarakat Kulon Progo maupun dari luar daerah.
Demikian dikatakan oleh Bupati Kulon Progo H. Toyo Santoso Dipo Kamis (5/2), saat memberikan bantuan peralatan untuk Kelompok Usaha Kecil Menengah (UKM) di halaman Dinas Perindustrian, Wates. Hadir dalam kesempatan itu, Kepala Dinas Perindustrian Drs. Darto, Kepala BAPPEDA Budi Wibowo, SH, Kepala Dinas Sosnakertrans Drs.Musodo, Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Ir. Agus Langgeng Basuki serta para pelaku UKM penerima bantuan.
Hal ini berkaitan dengan perkembangan perumahan dan real estate di Kulon Progo yang berkembang sangat pesat dalam setiap tahunnya. Namun kebanyakan kebutuhan genteng masih disuplai dari luar daerah. “Karena kebanyakan kita enggan untuk memakai genteng dari Kulon Progo dan malah mendatangkan dari luar daerah seperti, Kebumen, Jatiwangi (Cirebon), Klaten maupun Gedean,” kata Bupati.
Untuk itu, mengembangkan dan mempertahankan industri genteng yang kita miliki sebenarnya sangat baik. Sehingga dalam membangun Kulon Progo bisa mengoptimalkan potensi dan sumberdaya yang dimiliki. Bagi pelaku industri genteng, hal ini bisa memacu produksi genteng dan mereka bisa berproduksi setiap hari. Tidak hanya berdasarkan kalau ada orang yang memesan saja, lanjutnya.
Di sisi lain, industri kecil juga harus semakin pandai untuk melihat celah dan perkembangan pasar. Karena kalau terlalu tertinggal tentu akan semakin mengurangi peminat dan pembeli yang akan menggunakan hasil kerajinan. Seperti misalnya, model untuk kerajinan, packing untuk industri makanan kecil maupun kualitas dari hasil produksinya. “Saya pernah membeli kerajinan tas tapi resletingnya sampai rumah langsung rusak. Meskipun harganya murah namun tentu saya sebagai konsumen menjadi kapok,” sambung Toyo.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati menyerahkan bantuan peralatan kerja untuk UKM berupa, mesin pemecah sabut kelapa, mesin giling kopi, mesin ekstruder (pelumat tanah), pres genteng, mesin parut kelapa, bor, gergaji, gerinda dan lainnya. Dengan jumlah nominal mencapai Rp 128 juta. Diberikan untuk industri kecil seperti, industri kerajinan sabut kelapa, kerajinan tempurung, industri pengolahan kopi dan kerajinan genteng.
Sementara itu, menurut salah satu perajin genteng penerima bantuan Parijan, mengatakan bahwa dirinya menyambut baik adanya bantuan ini. Karena selama ini kelompoknya yang diberi nama Tlogo Makmur di Tlogolelo, Hargomulyo, Kokap, memang masih sangat memerlukan mesin pelumat tanah maupun press genteng.
Diharapkan dengan pemberian bantuan tersebut akan semakin memacu produksi genteng bagi kelompoknya. Sehingga kedepan, produksi genteng dari Kelompok Tlogo Makmur bisa semakin baik dan bisa mempertahankan kualitas. “Karena dengan kualitas yang baik tentunya industri genteng yang kami miliki kan semakin berkembang dan diperhatikan oleh masyarakat,” tuturnya.

KURSUS GRATIS DI UPTD BLK KULONPROGO

Sebagai upaya penanggulangan pengangguran dan banyaknya pengurangan tenaga kerja sebagai dampak dari krisis ekonomi global yang terjadi akhir-akhir ini, maka pemerintah melaluiUPTD BLK ( Unit Pelaksana Teknis Daerah Balai Latihan Kerja ) Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kulon Progo akan memberikan kesempatan kepada masyarakat khususnya yang berminat menciptakan lapangan kerja baru dengan terlebih dahulu memiliki bekal berbagai ketrampilan. Untuk membantu masyarakat memperoleh ketrampilan tersebut UPTD BLK Kulon Progo membuka Program Pelatihan Ketrampilan di tahun 2009 ini secara gratis tanpa dipungut biaya.

Kepala UPTD BLK Kulon Progo Sri Sulanjari,SIP, Kamis (5/2) menjelaskan pelatihan ketrampilan yang diselenggarakan oleh BLK Kulon Progo diselenggarakan secara Cuma-Cuma alias gratis, karena segala biaya telah ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah. Sehingga masyarakat diharapkan dapat memanfaatkan kesempatan ini, untuk nantinya menjadi bekal membuka usaha baru, terlebih adanya ancaman dampak krisis ekonomi global dengan banyaknya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) oleh beberapa perusahaan.

Ditambahkan, pelatihan ketrampilan dengan berbagai bidang kejuruan dengan waktu pelaksanaan masing-masing selama 240 jam atau selama 6 minggu meliputi keahlian dalam bidang Reparasi Peralatan Listrik, Teknik Pendingin, Elektronika, Teknisi HP, Operator Komputer, Las Listrik, Mesin Perkakas, Menjahit, Montir Sepeda Motor Dasar, Montir Sepeda Motor Lanjutan, Mobil Bensin dan Boga.

. “Bagi masyarakat yang berminat segera saja menghubungi dan mendaftarkan diri pada jam kerja, pendaftar tidak dibatasi,Pendaftaran dapat dilayani di Kantor UPTD BLK Kulonprogo Jl. Raya Wates-Purworejo km.2, telpon (0274) 773306 dan Dinas Sosnakertrans Jl. Sugiman No.3 Watulunyu Wates,telpon (0274) 774639”jelasnya.

01 Februari, 2009

BUDI HARTONO MENANGKAN PILKADES PENGASIH

Budi Hartono berhasil meraih suara terbanyak dalam pesta demokrasi Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) desa Pengasih Kecamatan Pengasih yang digelar Minggu (1/2). Dari 12 Tempat Pemungutan Suara (TPS) yang ada juragan Las dengan nomor urut tiga dari empat calon ini meraih total 2190 suara, Budi berhasil unggul di 11 TPS, hanya satu TPS yang jeblok suaranya yakni di TPS 6 Pedukuhan Tunjungan.Di TPS ini Tujo Biyantoro yang juga calon dari warga setempat berhasil meraup suara terbanyak dengan 368, sementara Budi hanya meraih 35 suara.

Hasil akhir penghitungan oleh panitia pemilihan urutan kedua diraih Djoko Purwanto 1092 suara, Tujo Biyantoro 1068 dan calon Kades Indarto memperoleh 684 suara. Dengan perolehan suara terbanyak, Budi Hartono ditetapkan sebagai calon Kades terpilih. Sebelumnya Kades Pengasih sempat kosong beberapa bulan karena pejabat lama Suyoto PA yang juga seniman pedalangan meninggal dunia karena sakit.

Jumlah pemilih tetap warga desa Pengasih sebanyak 6523 pemilih. Pada saat pemilihan, warga yang menggunakan hak suara sebanyak 5150 pemilih. Surat suara yang dinyatakan sah sebanyak 5034 suara dan surat suara yang tidak sah sebanyak 116 suara.

Proses penghitungan total jumlah suara dari beberapa TPS di kantor desa berlangsung lancar dan tertib. Beberapa pendukung dan tim sukses masing-masing calon memenuhi halaman Kantor Desa, hal yang sama juga terjadi di rumah tinggal masing-masing calon Kades.

Sementara dari pejabat pemkab Kulon Progo yang hadir menyaksikan hasil akhir penghitungan suara di kantor desa, Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat Pemerintah Desa Perempuan dan KB Drs. Krisutanto, dan Camat Pengasih Dra.Sri Harmintarti.

Kasubid Kelembagaan, Perangkat dan Administrasi Pemerintahan Desa Badan Pemberdayaan Masyarakat Pemerintah Desa Perempuan dan KB Sugimo SIP yang juga hadir mengatakan dari 88 desa masih satu desa lagi yang belum menggelar Pilkades yakni desa Garongan karena pejabat sebelumnya diberhentikan, akibat tersandung suatu kasus. Pelaksanaan Pilkades di desa Garongan akan molor untuk beberapa bulan mendatang sehingga tidak mungkin dilakukan sebelum Pemilu Legislatif karena dari jadwal waktu penyelenggaraan sudah tidak memungkinkan.

31 Januari, 2009


Kulon Progo Prakarsai Penghijauan Lahan dan Hutan

Sebagai bagian dari kepedulian pemerintah terhadap kebutuhan cadangan air dan pemanasan global (global warming) Kulon Progo secara kontinyu mengembangkan program penghijauan lahan dan hutan. Bahkan, sebelum pemerintah pusat menggulirkan program Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GNRHL) Kulon Progo sudah mencanangkannya. Kepedulian ini menempatkan Kulon Progo sebagai salah satu Kabupaten di Republik Indonesia yang mendapatkan penghargaan penghijauan lahan dari pemerintah pusat.
Sehingga secara berkelanjutan Kulon Progo telah mencanangkan gerakan penghijauan. Seperti program penanaman 1,5 juta pohon di tahun 2009. Karena disamping memberikan dampak terhadap kesehatan lingkungan penanaman pohon kedepan akan memberikan income terhadap pemerintah maupun masyarakat secara luas.
Demikian dikatakan Bupati Kulon progo H. Toyo S Dipo Sabtu (31/1), dalam acara pemberian bantuan bibit tanaman jati unggul dan mahoni dari Keluarga Besar Alumni Gadjah Mada (KAGAMA) di Gunung Gondang, Margosari, Pengasih. Acara tersebut dihadiri Sekretaris Daerah Drs. So’im, Assek II Ir. Agus Anggono, Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Ir. Agus Langgeng Basuki, Sekretaris KAGAMA Pusat Drs. Bambang Praswanto,MSc, para pejabat dari SKPD yang lain serta masyarakat.
Program penghijauan berupa penanaman pohon tersebut akan digulirkan dengan memberikan bantuan bibit tanaman sejumlah 1,5 juta bibit. Berupa beberapa jenis tanaman keras seperti, jati unggul, mahoni, akasia dan didukung oleh tanaman buah-buahan. “Sehingga dalam jangka waktu 6-8 bulan kedepan, pohon-pohon yang sekarang ditanam akan memberikan hasil baik kepada pemerintah maupun masyarakat,” katanya.
Sementara itu, kepada pengurus KAGAMA bupati yang juga menjabat Ketua KAGAMA Cabang Kulon Progo berharap bisa terus peduli terhadap lingkungan. Terkait dengan hal tersebut, bertepatan dengan Hari Jadi Kulon progo di tahun 2009 yang akan jatuh pada bulan Oktober KAGAMA akan memberikan bibit tanaman lagi dengan jumlah lebih besar yaitu, 50.000 bibit tanaman, lanjut bupati.
Sedangkan menurut Sekretaris KAGAMA pusat Drs. Bambang Praswanto ,MSc pemberian bibit tanaman yang diberikan untuk Provinsi Yogyakarta sejumlah 8.200 batang. Berupa bibit jati unggul dan Mahoni. Bibit tanaman tersebut dibagi rata kepada semua Kabupaten di DIY. “Sehingga Kulon Progo mendapatkan jatah bantuan bibit sejumlah 2100 bibit,” katanya.
Pemberian bibit tanaman tersebut dilakukan bertepatan dengan HUT KAGAMA yang ke-50 dan Munas KAGAMA ke-11. Yang menurut rencana akan digelar di Yogyakarta. Sedangkan 2100 bibit tanaman tersebut terdiri dari, bibit jati unggul dan Mahoni yang masing-masing berjumlah 10050 batang.
Di sisi lain, KAGAMA akan selalu menjalin komunikasi dan kerjasama dengan pemerintah. Kerjasama tersebut tidak hanya sebatas pada kepedulian lingkungan namun juga untuk bidang-bidang yang lain. Seperti yang telah kami lakukan yaitu, kerjasama dengan pemerintah Papua untuk menyusun rencana pengembangan Papua maupun ikut serta dalam penyusunan RPJMD di Kabupaten Boyolali, lanjutnya.