17 Februari, 2009


KT Marsudi Mulyo Panen Padi Gogo Tersedia 30 Hektare Lahan Potensial Belum Tergarap

Memiliki daerah perbukitan yang terjal dan jauh dari akses perkotaan tak membuat warga Pedukuhan Secang, Sidomulyo, Pengasih menyerah untuk mengembangkan pertanian. Karena dengan berbekal semangat yang tal kenal menyerah warga Pedukuhan Secang berhasil mengembangkan padi gogo dengan hasil yang menggembirakan. Karena dalam panen perdana yang dilakukan oleh Kelompok Tani (KT) Marsudi Mulyo dari lahan yang digarap mampu menghasilkan padi dengan rata-rata mencapai 5,6 ton/ha.
Ketua KT Marsudi Mulyo Sarno Wiharjo mengungkapkan hal tersebut di sela-sela panen perdana yang dilaksanakan Selasa (17/2) di Pedukuhan Secang, Desa Sidomulyo, Pengasih. Panen perdana yang langsung dipimpin oleh Kepala Desa Sidomulyo R. Sukestidono itu juga dihadiri oleh Kabid Holtikultura Dinas Pertanian dan Kehutanan Ir. Saebani, Kepala Kantor KP4K Ir. Tri Budi Harsono, perwakilan Kelompok Tani se-Sidomulyo, anggota kelompok tani dan masyarakat.
KT Marsudi Mulyo yang beranggotakan 49 orang saat ini menggarap lahan seluas 7 hektare di bawah hutan rakyat dan ditanami dengan Padi Gogo jenis Cipudong. Padi ini ternyata cocok dikembangkan di daerah Secang karena dari areal yang digarap seluas 7 hektare semua berhasil tumbuh dan berbuah dengan baik. “Kami katakana cocok karena meskipun padi sempat terserang ulat tanah (uret) namun masih mampu menghasilkan padi dengan rata-rata 5,6 ton/ha,” katanya.
Warga merasa cocok dan bersemangat untuk mengembangkan padi gogo karena meskipun lahan yang dimiliki adalah lahan perbukitan namun ternyata bisa untuk mengembangkan padi. Untuk itu, warga mengharapkan kedepan pemerintah lebih memperhatikan sektor pertanian. Karena saat ini di Pedukuhan Secang masih banyak lahan yang potensial untuk mengembangkan pertanian seperti pengembangan padi gogo.
Menurut Sarno Wiharjo, masih ada 30 hektare lahan potensial yang saat ini belum tergarap. Lahan tersebut terletak di bawah areal hutan rakyat dan saat ini belum tergarap secara maksimal. Dimungkinkan, lahan tersebut dapat dipergunakan sebagai lahan pertanian karena dahulu lahan-lahan tersebut juga merupakan areal pertanian yang mendapatkan irigasi dari Goa Kiskendo, lanjutnya.
Sementara itu, Kabid Holtikultura Dinas Pertanian dan Kehutanan Kulon Progo Ir. Saebani mengungkapkan dukungannya terhadap pengembangan padi gogo di daerah Secang. Namun diharapkan warga juga memperhatikan masalah dampak lingkungan dari pengolahan lahan tersebut. Karena lahan pertanian yang digunakan adalah lahan dibawah lahan hutan rakyat.
Jangan sampai pengembangan padi gogo merusak lahan hutan rakyat yang dimiliki. Sehingga mengakibatkan pengikisan ataupun menjadikan tanah menjadi tidak bisa menyimpan air. “Kalau sampai terjadi seperti ini, mungkin 1-2 tahun warga masih bisa menikmati hasil pertanianya. Namun tahun-tahun berikutnya warga akan kekurangan air. Karena hutan yang dimiliki menjadi berkurang,” katanya.
Di sisi lain, Ir. Saebani mengungkapkan bahwa hasil pertanian padi gogo KT Marsudi Mulyo yang memilii rata-rata 5,6 ton/ha sudah baik. Hasil ini berada di atas rata-rata kabupaten untuk padi di daerah perbukitan yang hanya mencapai 3,1 ton/ha. Sedangkan untuk padi di areal persawahan, rata-rata kabupaten mencapai 6,2 ton/ha, lanjutnya.

14 Februari, 2009

KULONPROGO KEMBANGKAN JATI UNGGUL
Pola Bagi Hasil, Kas Desa Tambah 250 Juta

Pemerintah Kabupaten Kulonprogo akan mengembangkan tanaman Jati Unggul dengan Pola bagi Hasil. Salah satu langkah yang telah ditempuh adalah melakukan kerjasama dengan Unit Usaha Bagi Hasil Koperasi Perumahan Wanabhakti Nusantara (UBH-KPWN). Penandatanganan MoU atau Nota Kesepahaman antara Pemkab Kulon Progo dengan UBH-KPWN dilakukan Sabtu (14/2) di Lantai II Binangun Pemkab. Dari pihak Pemkab Bupati Kulonprogo H.Toyo Santoso Dipo sedangkan UBH-KPWN oleh Direktur Utama Ir.Hariyono Soeroso MS. Dalam kesempatan tersebut sekaligus dilakukan kerjasama Pemkab dengan APIKRI yang melakukan budidaya pandan di pesisir selatan untuk membantu bahan baku anyaman agel.Acara disaksikan Asisten Perekonomian Pembangunan dan Sumber Daya Alam Setda Ir.Agus Anggono, Kadinas Pertanian dan Kehutanan Ir.Agus Langgeng Basuki dan Kepala Kantor Lingkungan Hidup Ir.Djunianto Marsudi Utomo.
Menurut Hariyono Soeroso, dengan telah ditandatanganinya MoU ini maka pada tahun 2009 dan seterusnya, direncanakan Kabupaten Kulon Progo dikembangkan usahatani Jati Unggul Nusantara (JUN) dengan Pola Bagi Hasil sebanyak 100.000 pohon atau seluas 100 ha setiap tahun, yang tersebar di berbagai desa, dengan jumlah 25.000 pohon perdesa dalam 5 tahun. dalam lima tahun mendatang akan ditanam sejumlah 500.000 pohon dengan luas lahan 500 ha, yang tersebar di 20 desa.
"Jika setiap desa menanam minimal 5.000 pohon pertahun selama 5 tahun, maka mulai panen tahun I sampai V, Kas Desa masing-masing desa akan mendapatkan bagi hasil panen sebesar 250 juta.Petani penggarap dan pemilik lahan di desa yang bersangkutan akan mendapat bagi hasil panen 875 juta pertahun,"jelas Hariyono mantap.
Selain itu desa masih mendapatkan tambahan berupa upah biaya pengamanan sebesar 2.500 perpohon per lima tahun, dan juga upah kepada petani penggarap 14.000 perpohon per lima tahun yang dibayar bertahap sesuai dengan kemajuan pekerjaan.Oleh karena itu usahatani JUN Pola Bagi Hasil akan mendorong pertumbuhan ekonomi pedesaan dan memperbaiki kualitas lingkungan hidup.
Sementara secara nasional jumlah JUN dengan pola Bagi hasil mulai awal 2007 sampai Desember 2008 sebanyak 438.270 pohon dengan melibatkan 1.676 KK Petani yang tersebar di Jawa Timur meliputi kabupaten Magetan 195.805 pohon, Madiun 8.070 pohon, Ponorogo 39.359 pohon, dan Ngawi 40.755 pohon, Jawa Barat di Bogor 48.129 pohon, Tanggerang 2.302 pohon, Purwakarta 100.000 pohon dan DIY di Kulonprogo sejumlah 3.850 pohon. Jumlah investor mencapai 443 orang dengan jumlah investasi untuk 232.487 pohon senilai Rp.13.949.220.000,-.

13 Februari, 2009

Tingkat Produktivitas Padi Gogo di Kokap 5,9 Ton Perhektar

Tingkat produktivitas padi gogo yang dibudidayakan anggota kelompok tani (Klomtan) ‘Agung Rejeki’ di Pedukuhan Klepu, Desa Hargowilis, Kecamatan Kokap mencapai 5,9 ton Gabah Kering Panen (GKP) perhektar. Hasil itu dapat diraih berkat penggunaan berbagai bibit unggul dan pemupukan berimbang yang dilengkapi dengan pupuk organik.

Menurut Ketua Klomtan ‘Agung Rejeki’ Suraji (68), anggota kelompoknya menanam padi gogo di lahan hutan rakyat Gunung Agung seluas sekitar 10 ha sejak musim penghujan tahun 2007 lalu. Pada penanaman pertama, tingkat produktivitasnya baru mencapai 3,6 ton. “Tahun ini bisa lebih tinggi karena mendapat pembinaan dari Unsoed Purwokerto dan Dinas Pertanian Kulon Progo,” katanya.

Dikatakan, pada penanaman pertama petani hanya menggunakan 1 jenis bibit. Kemudian oleh peneliti dari Unsoed Purwokerto diberikan beberapa jenis unggul yang cocok untuk jenis gogo. Termasuk jenis gogo aromatik yang hasilnya lebih baik dari jenis yang lain, terangnya.

Pada Kamis (12/2) dilahan tersebut dilakukan panen raya oleh Bupati H Toyo Santoso Dipo. Hadir pada acara itu Kepala Bappeda Budi Wibowo SH MM, Kepala Dinas Pertanian dan Kegutanan Ir Agus Langgeng Basuki, Kepala Kantor Ketahanan Pangan dan Penyuluh Pertanian Perikanan Kehutanan (KP3K) Ir Bambang Tri Budi Harsono, Camat Kokap Santoso SIP, Peneliti dari Unsoed Purwokerto Dr Totok Agung serta anggota Klomtan ‘Agung Rejeki’.

Dijelaskan Totok Agung, saat ini Unsoed tengah melakukan pengembangan teknologi budidaya padi gogo di beberapa daerah, termasuk Kulon Progo. Sebelumnya, kata dia, leh masyarakat padi gogo sering dikeluhkan mutunya kurang baik. Antara lain, nasinya kurang enak, tidak pera dan kalau dingin mengeras.

“Kami kemudian menambah dengan aroma menthik wangi sehingga aromanya bisa lebih sedap dan rasanga enak. Ada beberapa jenis bibit yang kami kembangkan dan rata-rata produksinya lebih baik. Mudah-mudahan ini bisa dikembangkan di Kulon Progo,” harapnya

Bupati H Toyo Santoso Dipo optimis bila produksi padi gogo di Kulon Progo dapat terus ditingkatkan. Karena sebagian besar petani padi gogo adalah warga wilayah pegunungan yang biasanya lebih ndregil dalam penggunaan teknologi baru. Kunci peningkatan produksi padi, kata dia, adalah penggunaan teknologi yang paling sesuai dengan kondisi tanaman dan lahan.

Toyo menilai, saat ini petani Indonesia masih jauh tertinggal dari Negara lain. Termasuk Cina yang sudah mampu memproduksi padi 14 ton perhektar. Sementara di Indonesia baru sekitar 6,5 ton.

“Penyebabnya adalah pada penggunaan teknologi. Petani Cina sudah menggunakan teknopligi enzima dan hormonal sementara kita masih ribut tentang penggunaan pupuk. Dan yang diributkan hanya masalah pupuk kimia dan nonkimia. Padahal semua pupuk itu merupakan persenyawaan kimia,” tandas Toyo.

Sementara Bambang Tri Harsono mengungapkan, luas lahan padi gogo di Kulon Progo pada tahun 2008 mencapai 134 ha, yang sebagian besar berada di wilayah perbukitan Menoreh. Tingkat produksi rata-rata sebesar 3,12 ton perha. “Yang dicapai oleh Klomtan ‘Agung Rejeki’ jauh lebih tinggi dari rata-rata kabupaten,” ujarnya.

05 Februari, 2009


80 % Suplai Genteng Kulon Progo Dari Luar Daerah

Untuk memenuhi kebutuhan bahan bangunan berupa genteng di Kulon Progo, hampir 80 persen berasal dari luar daerah. Padahal, banyak industri genteng yang dimiliki Kulon Progo, dan memiliki kulalitas yang tak kalah bagus dengan genteng yang berasal dari luar daerah. Sehingga keberadaan industri ini, harus terus didorong dan dipertahankan. Agar genteng dari Kulon Progo bisa semakin dikenal dan digunakan oleh masyarakat Kulon Progo maupun dari luar daerah.
Demikian dikatakan oleh Bupati Kulon Progo H. Toyo Santoso Dipo Kamis (5/2), saat memberikan bantuan peralatan untuk Kelompok Usaha Kecil Menengah (UKM) di halaman Dinas Perindustrian, Wates. Hadir dalam kesempatan itu, Kepala Dinas Perindustrian Drs. Darto, Kepala BAPPEDA Budi Wibowo, SH, Kepala Dinas Sosnakertrans Drs.Musodo, Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Ir. Agus Langgeng Basuki serta para pelaku UKM penerima bantuan.
Hal ini berkaitan dengan perkembangan perumahan dan real estate di Kulon Progo yang berkembang sangat pesat dalam setiap tahunnya. Namun kebanyakan kebutuhan genteng masih disuplai dari luar daerah. “Karena kebanyakan kita enggan untuk memakai genteng dari Kulon Progo dan malah mendatangkan dari luar daerah seperti, Kebumen, Jatiwangi (Cirebon), Klaten maupun Gedean,” kata Bupati.
Untuk itu, mengembangkan dan mempertahankan industri genteng yang kita miliki sebenarnya sangat baik. Sehingga dalam membangun Kulon Progo bisa mengoptimalkan potensi dan sumberdaya yang dimiliki. Bagi pelaku industri genteng, hal ini bisa memacu produksi genteng dan mereka bisa berproduksi setiap hari. Tidak hanya berdasarkan kalau ada orang yang memesan saja, lanjutnya.
Di sisi lain, industri kecil juga harus semakin pandai untuk melihat celah dan perkembangan pasar. Karena kalau terlalu tertinggal tentu akan semakin mengurangi peminat dan pembeli yang akan menggunakan hasil kerajinan. Seperti misalnya, model untuk kerajinan, packing untuk industri makanan kecil maupun kualitas dari hasil produksinya. “Saya pernah membeli kerajinan tas tapi resletingnya sampai rumah langsung rusak. Meskipun harganya murah namun tentu saya sebagai konsumen menjadi kapok,” sambung Toyo.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati menyerahkan bantuan peralatan kerja untuk UKM berupa, mesin pemecah sabut kelapa, mesin giling kopi, mesin ekstruder (pelumat tanah), pres genteng, mesin parut kelapa, bor, gergaji, gerinda dan lainnya. Dengan jumlah nominal mencapai Rp 128 juta. Diberikan untuk industri kecil seperti, industri kerajinan sabut kelapa, kerajinan tempurung, industri pengolahan kopi dan kerajinan genteng.
Sementara itu, menurut salah satu perajin genteng penerima bantuan Parijan, mengatakan bahwa dirinya menyambut baik adanya bantuan ini. Karena selama ini kelompoknya yang diberi nama Tlogo Makmur di Tlogolelo, Hargomulyo, Kokap, memang masih sangat memerlukan mesin pelumat tanah maupun press genteng.
Diharapkan dengan pemberian bantuan tersebut akan semakin memacu produksi genteng bagi kelompoknya. Sehingga kedepan, produksi genteng dari Kelompok Tlogo Makmur bisa semakin baik dan bisa mempertahankan kualitas. “Karena dengan kualitas yang baik tentunya industri genteng yang kami miliki kan semakin berkembang dan diperhatikan oleh masyarakat,” tuturnya.

KURSUS GRATIS DI UPTD BLK KULONPROGO

Sebagai upaya penanggulangan pengangguran dan banyaknya pengurangan tenaga kerja sebagai dampak dari krisis ekonomi global yang terjadi akhir-akhir ini, maka pemerintah melaluiUPTD BLK ( Unit Pelaksana Teknis Daerah Balai Latihan Kerja ) Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kulon Progo akan memberikan kesempatan kepada masyarakat khususnya yang berminat menciptakan lapangan kerja baru dengan terlebih dahulu memiliki bekal berbagai ketrampilan. Untuk membantu masyarakat memperoleh ketrampilan tersebut UPTD BLK Kulon Progo membuka Program Pelatihan Ketrampilan di tahun 2009 ini secara gratis tanpa dipungut biaya.

Kepala UPTD BLK Kulon Progo Sri Sulanjari,SIP, Kamis (5/2) menjelaskan pelatihan ketrampilan yang diselenggarakan oleh BLK Kulon Progo diselenggarakan secara Cuma-Cuma alias gratis, karena segala biaya telah ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah. Sehingga masyarakat diharapkan dapat memanfaatkan kesempatan ini, untuk nantinya menjadi bekal membuka usaha baru, terlebih adanya ancaman dampak krisis ekonomi global dengan banyaknya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) oleh beberapa perusahaan.

Ditambahkan, pelatihan ketrampilan dengan berbagai bidang kejuruan dengan waktu pelaksanaan masing-masing selama 240 jam atau selama 6 minggu meliputi keahlian dalam bidang Reparasi Peralatan Listrik, Teknik Pendingin, Elektronika, Teknisi HP, Operator Komputer, Las Listrik, Mesin Perkakas, Menjahit, Montir Sepeda Motor Dasar, Montir Sepeda Motor Lanjutan, Mobil Bensin dan Boga.

. “Bagi masyarakat yang berminat segera saja menghubungi dan mendaftarkan diri pada jam kerja, pendaftar tidak dibatasi,Pendaftaran dapat dilayani di Kantor UPTD BLK Kulonprogo Jl. Raya Wates-Purworejo km.2, telpon (0274) 773306 dan Dinas Sosnakertrans Jl. Sugiman No.3 Watulunyu Wates,telpon (0274) 774639”jelasnya.

01 Februari, 2009

BUDI HARTONO MENANGKAN PILKADES PENGASIH

Budi Hartono berhasil meraih suara terbanyak dalam pesta demokrasi Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) desa Pengasih Kecamatan Pengasih yang digelar Minggu (1/2). Dari 12 Tempat Pemungutan Suara (TPS) yang ada juragan Las dengan nomor urut tiga dari empat calon ini meraih total 2190 suara, Budi berhasil unggul di 11 TPS, hanya satu TPS yang jeblok suaranya yakni di TPS 6 Pedukuhan Tunjungan.Di TPS ini Tujo Biyantoro yang juga calon dari warga setempat berhasil meraup suara terbanyak dengan 368, sementara Budi hanya meraih 35 suara.

Hasil akhir penghitungan oleh panitia pemilihan urutan kedua diraih Djoko Purwanto 1092 suara, Tujo Biyantoro 1068 dan calon Kades Indarto memperoleh 684 suara. Dengan perolehan suara terbanyak, Budi Hartono ditetapkan sebagai calon Kades terpilih. Sebelumnya Kades Pengasih sempat kosong beberapa bulan karena pejabat lama Suyoto PA yang juga seniman pedalangan meninggal dunia karena sakit.

Jumlah pemilih tetap warga desa Pengasih sebanyak 6523 pemilih. Pada saat pemilihan, warga yang menggunakan hak suara sebanyak 5150 pemilih. Surat suara yang dinyatakan sah sebanyak 5034 suara dan surat suara yang tidak sah sebanyak 116 suara.

Proses penghitungan total jumlah suara dari beberapa TPS di kantor desa berlangsung lancar dan tertib. Beberapa pendukung dan tim sukses masing-masing calon memenuhi halaman Kantor Desa, hal yang sama juga terjadi di rumah tinggal masing-masing calon Kades.

Sementara dari pejabat pemkab Kulon Progo yang hadir menyaksikan hasil akhir penghitungan suara di kantor desa, Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat Pemerintah Desa Perempuan dan KB Drs. Krisutanto, dan Camat Pengasih Dra.Sri Harmintarti.

Kasubid Kelembagaan, Perangkat dan Administrasi Pemerintahan Desa Badan Pemberdayaan Masyarakat Pemerintah Desa Perempuan dan KB Sugimo SIP yang juga hadir mengatakan dari 88 desa masih satu desa lagi yang belum menggelar Pilkades yakni desa Garongan karena pejabat sebelumnya diberhentikan, akibat tersandung suatu kasus. Pelaksanaan Pilkades di desa Garongan akan molor untuk beberapa bulan mendatang sehingga tidak mungkin dilakukan sebelum Pemilu Legislatif karena dari jadwal waktu penyelenggaraan sudah tidak memungkinkan.

31 Januari, 2009


Kulon Progo Prakarsai Penghijauan Lahan dan Hutan

Sebagai bagian dari kepedulian pemerintah terhadap kebutuhan cadangan air dan pemanasan global (global warming) Kulon Progo secara kontinyu mengembangkan program penghijauan lahan dan hutan. Bahkan, sebelum pemerintah pusat menggulirkan program Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GNRHL) Kulon Progo sudah mencanangkannya. Kepedulian ini menempatkan Kulon Progo sebagai salah satu Kabupaten di Republik Indonesia yang mendapatkan penghargaan penghijauan lahan dari pemerintah pusat.
Sehingga secara berkelanjutan Kulon Progo telah mencanangkan gerakan penghijauan. Seperti program penanaman 1,5 juta pohon di tahun 2009. Karena disamping memberikan dampak terhadap kesehatan lingkungan penanaman pohon kedepan akan memberikan income terhadap pemerintah maupun masyarakat secara luas.
Demikian dikatakan Bupati Kulon progo H. Toyo S Dipo Sabtu (31/1), dalam acara pemberian bantuan bibit tanaman jati unggul dan mahoni dari Keluarga Besar Alumni Gadjah Mada (KAGAMA) di Gunung Gondang, Margosari, Pengasih. Acara tersebut dihadiri Sekretaris Daerah Drs. So’im, Assek II Ir. Agus Anggono, Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Ir. Agus Langgeng Basuki, Sekretaris KAGAMA Pusat Drs. Bambang Praswanto,MSc, para pejabat dari SKPD yang lain serta masyarakat.
Program penghijauan berupa penanaman pohon tersebut akan digulirkan dengan memberikan bantuan bibit tanaman sejumlah 1,5 juta bibit. Berupa beberapa jenis tanaman keras seperti, jati unggul, mahoni, akasia dan didukung oleh tanaman buah-buahan. “Sehingga dalam jangka waktu 6-8 bulan kedepan, pohon-pohon yang sekarang ditanam akan memberikan hasil baik kepada pemerintah maupun masyarakat,” katanya.
Sementara itu, kepada pengurus KAGAMA bupati yang juga menjabat Ketua KAGAMA Cabang Kulon Progo berharap bisa terus peduli terhadap lingkungan. Terkait dengan hal tersebut, bertepatan dengan Hari Jadi Kulon progo di tahun 2009 yang akan jatuh pada bulan Oktober KAGAMA akan memberikan bibit tanaman lagi dengan jumlah lebih besar yaitu, 50.000 bibit tanaman, lanjut bupati.
Sedangkan menurut Sekretaris KAGAMA pusat Drs. Bambang Praswanto ,MSc pemberian bibit tanaman yang diberikan untuk Provinsi Yogyakarta sejumlah 8.200 batang. Berupa bibit jati unggul dan Mahoni. Bibit tanaman tersebut dibagi rata kepada semua Kabupaten di DIY. “Sehingga Kulon Progo mendapatkan jatah bantuan bibit sejumlah 2100 bibit,” katanya.
Pemberian bibit tanaman tersebut dilakukan bertepatan dengan HUT KAGAMA yang ke-50 dan Munas KAGAMA ke-11. Yang menurut rencana akan digelar di Yogyakarta. Sedangkan 2100 bibit tanaman tersebut terdiri dari, bibit jati unggul dan Mahoni yang masing-masing berjumlah 10050 batang.
Di sisi lain, KAGAMA akan selalu menjalin komunikasi dan kerjasama dengan pemerintah. Kerjasama tersebut tidak hanya sebatas pada kepedulian lingkungan namun juga untuk bidang-bidang yang lain. Seperti yang telah kami lakukan yaitu, kerjasama dengan pemerintah Papua untuk menyusun rencana pengembangan Papua maupun ikut serta dalam penyusunan RPJMD di Kabupaten Boyolali, lanjutnya.

30 Januari, 2009

BUPATI SERAHKAN BANTUAN PERIKANAN DAN PETERNAKAN

Bupati Kulon Progo H.Toyo Santoso Dipo, Jum’at (30/1) menyerahkan bantuan paket sarana usaha Kelautan, Perikanan dan Peternakan di ruang pertemuan Dinas Kelautan, Perikanan dan Peternakan (Kepenak) Pengasih. Bantuan yang jumlah keseluruhan mencapai Rp.3 Milyar meliputi sarana prasarana unit perbenihan rakyat, sarana penangkapan ikan di laut, sarana perlengkapan Tempat Pelelangan Ikan (TPI), bibit sapi potong 22 kelompok sejumlah 200 ekor, bibit kambing 18 kelompok 450 ekor, bibit Domba 8 kelompok 200 ekor dan Kapal 30 Gross Ton.

Penyerahan bantuan dari sumber dana pusat disaksikan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi DIY, Ir. Titik Sugiharto, Kadinas Kelautan Peternakan dan Perikanan Kulon Progo drh. Sabar Widodo, Kadinas Pertanian dan Kehutanan Ir.Agus Langgeng Basuki,MT, Kepala Kantor Ketahanan Pangan dan Penyuluh Pertanian Kehutanan, Ir.Bambang Tri Budi Harsono dan Kabaga Pemerintahan Setda Drs. Riyadi Sunarto.

Bupati Kulon Progo, H Toyo Santoso Dipo berharap bantuan yang diberikan dapoat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya sehingga memberikan nilai ekonomis bagi kesejahteraan masyarakat. Bantuan sarana prasarana kelautan yang diberikan dalam rangka menyongsong segera beroperasinya pelabuhan Glagah pada tahun 2009.

Hal senada dikatakan Kadinas Kelautan Perikanan Propinsi DIY, Ir Titik Sugiharto, bahwa bantuan yang diberikan dapat dimanfaatkan sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Khusus bantuan kapal nelayan 30 GT sekarang masih di Pacitan, karena lokasi Pelabuhan Glagah belum bisa dimasuki kapal sebelum dilakukan pengerukan. Diharapkan bulan Agustus mendatang kapal dapat dimanfaatkan oleh nelayan Kulon Progo.

29 Januari, 2009


LETKOL INF HARIYADI, SIP DANDIM 0731 KULON PROGO

Danrem Tegaskan TNI Tetap Netral

Dalam berbagai kesempatan menjelang pemilu, netralitas TNI masih saja menjadikan topic yang hangat dan selalu dibahas pada forum diskusi. Banyaknya purnawirawan TNI yang menyalurkan aspirasinya kepada partai politik dan mencalonkan diri sebagai Presiden, Wakil Presiden dan anggota legislative, menimbulkan kekhawatiran pada sementara orang, khususnya elite politik tertentu karena dicurigai para purnawirawan tersebut akan menggunakan kekuatan TNI untuk mendukung pencalonannya.

Hal tersebut dikatakan Komandan Korem (Danrem) 072 /Pamungkas, Kolonel Czi Soepeno, dalam amanat pada Serah Terima Jabatan Komandan KODIM 0731 /Kulon Progo di Alun-alun Wates, Kamis (29/1). Jabatan Komandan Kodim 0731 Kulonprogo diserahterimakan dari Letkol Inf.I Made Sukarya kepada Letkol Inf Hariyadi SIP. Hariyadi sebelumnya bertugas sebagai Papandya (Perwira Pembantu Madya)Ops Kodam IV Diponegoro, sedangkan I Made Sukarya menempati pos baru sebagai Waaster Kas Kodam Jaya. Turut hadir Bupati Kulon Progo, H.Toyo Santoso Dipo, Wakil Bupati Drs.H.Mulyono, Ketua DPRD Drs. Kasdiyono serta Muspida dan Kepala SKPD di lingkup Pemkab Kulon Progo.

“TNI tidak memberikan dukungan kepada para purnawirawan yang ikut mencalonkan diri tersebut, karena hal itu bertentangan dengannetralitas TNI. Niarkan mereka menyalurkan aspirasinya menurut keinginannya, meskipun para purnawirawan itu tetap pada garis perjuangannya mempertahankan NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945,” tegas Danrem.

Menurutnya, netralitas TNI harus dipegang teguh, oleh karenanya jangan pernah bergeser dari komitmen itu, apapun alasannya. Hindari tindakan-tindakan yang dapat diintrepretasikan sebagai upaya mendukung salah satu partai politik peserta pemilu, karena perbuatan itu akan dieksploitasi oleh pihak-pihak yang menginginkan pelaksanaan pemilu mengalami kegagalan.

“Pemilu harus sukses. Bangsa ini sudah terlalu lama terjerat dalam krisis multi dimensi yang hingga sekarang belum mampu melepaskan diri dari persoalan bangsa yang semakin kompleks. Oleh sebab itu Pemilu harus sukses sehingga dapat melahirkan pemimpin nasional yang memiliki legalitas juga harus legitimate. Sampai saat ini kondisi bangsa kita masih memerlukan pemimpin yang memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi, kuat, tegas, berwibawa dan jujur, semua itu diperoleh melalui pemilu yang bersih sesuai aturan main yang sudah diberlakukan,” katanya.

22 Januari, 2009


Bupati Targetkan 20 persen PDRB Dari Sektor Perkayuan

Bupati Kulon Progo H. Toyo Santoso Dipo memiliki target untuk meningkatkan Pendapatan Daerah Regional Brotto (PDRB) Kulon progo dari sektor perkayuan. Target tersebut dimulai dengan mencanangkan gerakan penanaman pohon secara serentak di Kulon Progo yang pada tahun 2009 mencapai 1,5 juta pohon. Dari penanaman pohon jenis mahoni dan albasia (sengon laut) sebanyak itu, kedepan, ditargetkan akan mampu menyumbang PDRB Kulon Progo dari sektor perkayuan sebesar 20 persen.
Dengan asumsi, setiap pohon yang ditanam dalan jangka waktu 6-8 tahun bisa dijual dengan harga rata-rata Rp 500.000. Sedangkan dari 1,5 juta pohon yang ditanam rata-rata memiliki kemungkinan hidup 70 persen atau sejumlah 1 juta batang. Sementara PDRB Kulon progo sekarang mencapai Rp 2,67 trilyun.
Demikian dikatakan bupati Kamis (22/1), usai melaksanakan gerakan penanaman dan penghijauan di jalan Sentolo-Pengasih. Gerakan penghijauan dan penanaman pohon tersebut diikuti oleh beberapa pejabat pemkab seperti, Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Ir. Agus Langgeng Basuki bersama Kabid Kehutanan Ir. Djunianto Marsudi Utomo, Kepala DPU Ir. Moch Nadjib, Kepala Kantor Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Pertanian, Perikanan, Kehutanan Ir. Bambang Tri Budi Harsono, Camat Pengasih Dra. Sri Hermintarti, Camat Sentolo Drs. Jazil Ambar Was’an dan yang lainnya.
Gerakan penghijauan dan penanaman pohon tersebut merupakan program yang berkelanjutan dan akan ditopang dengan peningkatan untuk sektor pendukung yang lain. Seperti, industri mebel, kerajinan dari kayu dan produksi industri kayu setengah jadi. ”Sehingga penjualan kayu dari Kulon Progo nanti tidak akan berwujud kayu gelondong, namun paling tidak dalam berbentuk kayu olahan setengah jadi,” katanya.
Selanjutnya, pemilihan jenis kayu seperti, mahoni, albasia, akasia, jati dan tanaman keras yang lain telah disesuaikan dengan karakteristik tanah dan keadaan geografis di Kulon Progo. Karena kebanyakan jenis tanaman tersebut cocok untuk dikembangkan di daerah Kulon Progo. Bahkan, melalui dinas-dinas pemerintah yang mengurusi, pemerintah telah memberikan bantuan bibit kayu tersebut. Untuk ditanam oleh masyaraka di Kulon Progo.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Ir. Agus Langgeng Basuki yang didampingi Kabid Kehutanan Ir. Djunianto Marsudi Utomo mengatakan bahwa menanaman pohon mahoni untuk penghijauan dan perindang jalan di daerah Kulon Progo mencapai 2000 batang. Lokasi penanaman ada di beberapa target awal yaitu, sepanjang jalan Sentolo-Pengasih, Kota Kecamatan Pengasih, Seputar Alun-alun Wates dan Jalan Milir-Karangnongko.
Selain penanaman 2000 batang pohon di jalan Sentolo-Pengasih sepanjang 2 km, secara keseluruhan penanaman pohon di Kulon Progo untuk perindang jalan mencapai 449.000 batang pohon. ”Diharapkan dengan penanaman pohon tersebut dapat mengurangi polusi udara serta memperindang jalan-jalan yang ada di Kulon Progo,” katanya.