16 September, 2008

Pemkab Gelar Peringatan Nuzulul Qur’an

Pemkab Kulon Progo bekerja sama dengan takmir masjid Al Husna, Pandowan, Galur, Senin (16/9) malam menggelar peringatan Nuzulul Qur’an tahun 14529 H. Acara yang dihadiri oleh ribuan warga Pandowan dan sekitarnya itu digelar di kompleks masjid Al Husna dengan pembicara H Jatmiko dari Kotagede Yogyakarta. Pada kesempatan itu hadir pula Wabup Drs H Mulyono, Ketua DPRD Drs Kasdiyono, Muspida, segenap pejabat Pemkab, Camat Galur Jumanto, SH dan Muspika.

Dalam sambutannya Wabup Mulyono membacakan sambutan tertulis Bupati H Toyo Santoso Dipo, mengatakan, turunnya Al Qur’an pertama kali berupa perintah untuk membaca telah menimbulkan perubahan yang sangat besar. Khususnya pada perkembangan ilmu pengetahuan dan peradaban bangsa Arab saat itu. Dari bangsa jahiliyah dengan pesat berkembang menjadi bangsa maju dan menjadi kiblat peradaban dunia.

Saat ini, tambah Toyo, kebiasaan menbaca perlu terus dikembangkan untuk mendukung kemajuan ilmu pengetahuan. Karena hanya dengan proses ini masyarakat akan mampu membangun peradaban yang lebih tinggi sehingga mampu berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain yang lebih dahulu mengalami kemajuan. “Tanpa memiliki kebiasan membaca yang kuat kita akan sulit untuk menguasai ilmu pengetahuan,” tegas Toyo.

Sementara H Jatmiko dalam ceramahnya antara lain menyatakan, masih sering adanya sesama muslim yang bertikai sekarang ini disebabkan karena pemahaman yang kurang lengkap terhadap ajaran Islam. Masing-masing pihak masih tergoda hafa nafsu sehngga lupa untuk mengindahkan sabda Rasulullah bahwa Islam merupakan rahmatan lil ‘alamin, rahmat bagi semua orang atau golongan.

“Pertikaian hanya disebabkan karena seseorang tidak memaknakan Islam merupakan rahmat bagi semua orang. Tetapi hanya dipaksakan untuk kepentingan diri sendiri atau kelompok yang menguntungkan kepentingan dirinya. Sehingga muncul ketidaksepakatan dari pihak lain, kemudian muncul pertikaian dan permusuhan. Ini sumbernya hawa nafsu,” tegas Jatmiko.

Pemkab Gelar Pasar Murah

Menjelang hari raya Idul Fitri 1429 H Pemkab Kulon Progo menggelar pasar murah untuk membantu penyediaan kebutuhan lebaran bagi masyarakat. Kegiatan itu akan dilaksanakan selama 3 hari, Selasa hingga Kamis (23-25/9) di halaman kantor Pemkab dan direncanakan akan dibuka secara resmi oleh Bupati H Toyo santoso Dipo. Selain di kantor Pemkab, pasar murah juga dilaksanakan di 12 kecamatan.

Kabag Pembangunan Setda, Nugroho,SE menjelaskan pasar murah akan diikuti oleh beberapa peserta yang terdiri dari para pedagang swasta binaan instansi seperti Dinas Perindagkoptam, Dinas Pertanian, selain itu dari PKK. Barang yang disediakan antara lain berupa sembako, makanan, pakaian dan barang-barang khas keperluan lebaran.

Nugroho menambahkan bagi warga yang tergolong rumah tangga miskin, akan diberikan subsidi tidak langsung sebesar Rp. 5.000,- yang berupa voucher. Jumlah sebanyak 28.000 voucher tersebut hanya menjangkau separoh dari jumlah rumah tangga di Kulonprogo. Pembagian diserahkan ke masing-masing desa yang mengetahui langsung kondisi warga masuk kategori miskin.

Voucher senilai Rp.5000,- dapat dibelanjakan kepada pedagang disekitar warga, sehingga tidak akan menyulitkan warga, karena alasan tidak impas nilai voucher dengan jarak lokasi pasar murah apabila harus menggunakan transportasi. “Untuk subsidi kepada warga miskin berupa voucher senilai Rp.5.000,-, dapat digunakan untuk membeli kebutuhan lebaran sesuai yang diinginkan warga, jadi tidak ada paket –paketan seperti dulu, karena dimungkinkan tidak sesuai dengan kebutuhan warga. Pembelian dapat dilakukan di sejumlah pedagang yang dekat dengan warga, jadi tidak akan keluar ongkos transportasi karena lokasi pasarnya jauh, nanti biar pedagang tersebut yang langsung menukar voucher kepada panitia,”kata Nugroho.

Sementara jadwal pasar murah di kecamatan –kecamatan adalah Senin (22/9) kecamatan Nanggulan, Selasa (23/9) di kecamatan Kalibawang, wates, Temon dan Sentolo, Rabu (24/9) di kecamatan Galur , Lendah , Panjatan dan Kokap, dan Kamis di kecamatan Girimulyo, Pengasih ,Samigaluh dan Kokap. Khusus kecamatan Kokap dilakukan selama dua hari.

15 September, 2008

TURNAMEN CATUR AKHIR BULAN DI KULON PROGO

Pertemukan Pecatur Handal DIY

Turnamen catur akhir bulan tingkat Provinsi DIY akan digelar Minggu (21/9) selama sehari penuh di Lantai II gedung Binangun I kompleks kantor Pemkab. Turnamen catur yang digelar secara rutin dengan tempat bergilir di kabupaten/kota itu akan diikuti oleh beberapa pecatur handal dari Yogyakarta, termasuk yang sudah bergelar master.

Dengan tampilnya pecatur-pecatur papan atas tersebut tentu akan menjadi daya tarik penyelenggaraan turnamen itu. Sekaligus akan memberi kesempatan kepada pecatur lokal dan yunior yang berniat untuk menimba pengalaman bertanding kepada para seniornya. “Ini kesempatan yang sangat bagus bagi pecatur Kulon Progo untuk menambah pengalaman bertanding,” ujar Drs Agus Santoso, wakil ketua panitia penyelenggara.

Menurut Agus, turnamen itu terbuka bagi semua pecatur baik master atau non master dari kategori senior dan yunior. Petandingan akan digelar dengan sistem Swiss 7 babak catur cepat 20 menit.

“Untuk kategori senior akan diambil 20 pemenang dari urutan 20 besar dengan hadiah total Rp. 1 juta. Sedang untuk yunior akan diambil 5 pemenang dengan hadiah total Rp. 150. ribu,” terangnya.

Ditambahkan bagi pecatur yang berniat untuk ambil bagian, panitia memberi kesempatan untuk mendaftar sampai hari pelaksanaan nanti. Tempat pendaftaran di Kantor Humas Kulon Progo, Sdr Jumariyanto WN, Sunanrno WNM, And Subagiyo PNP dan Retiyanto. Dengan biaya pendaftaran Rp. 10.000,- perpeserta.

13 September, 2008

SELINTAS INFO

Gaji PNS Oktober Cair 25 September

JAKARTA - Pegawai negeri sipil (PNS) tak perlu cemas, meskipun waktu gajian Oktober nanti bertepatan dengan libur Idul Fitri. Departemen Keuangan akan membayarkan gaji Oktober pada 25 September.

''Saya sudah meminta Dirjen Perbendaharaan dan Dirjen Anggaran agar gaji PNS untuk Lebaran dimajukan 25 September. Sebelum Lebaran, semua sudah terima gaji," kata Menkeu Sri Mulyani Indrawati setelah buka puasa bersama di kantornya tadi malam (12/9).

Menkeu mengatakan, kebijakan itu sudah dikonsultasikan dan disetujui presiden. Menurut dia, beberapa pemda memang sudah menanyakan mengenai gaji PNS yang bertepatan dengan Lebaran. ''Tadi Gubernur Sumbar telepon. Saya katakan sudah saya konsultasikan ke presiden dan akan dibayar lebih cepat,'' kata pelaksana tugas Menko Perekonomian itu.

Menkeu menambahkan, pemerintah membutuhkan dana per bulan Rp 18 triliun untuk membayar gaji PNS, termasuk yang melalui mekanisme dana alokasi umum (DAU). Pembayaran DAU Oktober juga akan dimajukan pada 25 September. Dengan demikian, PNS daerah juga bisa menikmati gaji Oktober lebih awal. ''Kami sudah siapkan semua sekitar Rp 18 triliun,'' kata Sri Mulyani.

Masih untuk mengantisipasi Lebaran, sebelumnya, Bank Indonesia (BI) telah menyiapkan Rp 77 triliun uang tunai. Persiapan bank sentral itu belum termasuk Rp 35 triliun yang berada di bank-bank komersial.

Deputi Gubernur BI Budi Rochadi mengatakan, kebutuhan untuk puasa dan Lebaran sekitar Rp 46 triliun. "Jadi, nanti pada akhir puasa ketersediaan yang ada di BI sekitar Rp 90 triliun total. Bank umum Rp 35 triliun, di kami sekitar Rp 65 triliun," kata Budi.

Budi mengatakan, peredaran uang akan disiapkan merata di seluruh Indonesia. "Agar masyarakat tidak mengalami kekurangan, kami menyediakan berbagai pecahan yang banyak dibutuhkan masyarakat. Mulai sepuluh ribu, lima ribu, hingga dua puluh ribu,'' katanya. (sof/agm) (jAWAPOS )

Safari Tarweh,Bupati Disambati Warga

Kegiatan bulan Ramadhan para pejabat pemkab Kulonprogo berupa safari taraweh keliling dengan melakukan sholat tarweh bersama warga masyarakat di masjid –masjid yang ditunjuk mewakili setiap kecamatan selalu dimanfaatkan warga. Dalam setiap kegiatan selalu diwarnai dengan laporan warga mengenai kondisi dan perkembangan wilayah yang masih memerlukan bantuan dari pemerintah kabupaten.

Kabag Kesra Setda Kulonprogo,Arief Sudarmanto,SH, Jum’at (12/9) menjelaskan kegiatan safari tarweh para pejabat pemkab yang telah berlangsung beberapa kali di wilayah kecamatan ternyata berdampak sangat positif. Bupati Kulonprogo secara langsung selalu menerima masukan ,keluhan perkembangan serta kekurangan berbagai kegiatan yang dilakukan oleh warga masyarakat.

“Dalam setiap pelaksanaan tarweh keliling, Bupati selalu disambati warga, tentang kondisi wilayah dan warga masyarakat, bahkan untuk menuju masjid yang digunakan untuk sholat tarweh, bupati dan pejabat dilewatkan jalan yang rusak, sebagai bukti nyata oleh warga dalam laporan kepada Bupati,”kata Arief .

Permintaan warga yang sering muncul adalah prasarana fisik berupa perbaikan jalan aspal yang telah rusak maupun jalan belum beraspal yang minta diaspal, selain itu pembangunan tempat ibadah yang belum sempurna. Sedangkan yang berkaitan langsung dengan warga masyarakat berupa penguatan maupun bantuan modal untuk kegiatan kemasyarakatan, kepemudaan, dan ekonomi produktif.

Menanggapi berbagai permasalahan yang dihadapi warga tersebut, Bupati minta kepada warga untuk dibuat proposal permohonan sebagai dasar untuk memenuhi permintaan warga. Bukti administrasi berupa proposal sangat penting, karena sumber keunagan merupakan anggaran APBD kabupaten yang notabene uang rakyat yang dikembalikan ke rakyat,dan apabila permohonan bantuan sudah cair digunakan sesuai peruntukkan awal, yang akhirnya tidak menjadi masalaha di kelak kemudian hari atau di sangka korupsi yang harus berurusan dengan pihak berwajib.

Kegiatan safari tarweh Bupati bersama pejabat pemkab yang direncanakan 14 putaran termasuk 12 kecamatan se-Kulonprogo telah berlangsung 6 putaran. Diawali Rabu (3/9) di Gedung DPRD Kulonprogo, Kamis (4/9) di Masjid Baiturrohim Trayu Ngargosari Samigaluh, Senin (8/9) di Masjid Al Hidayah Dlaban Sentolo, Selasa (9/9) Masjid Al Hidayah Karangwuluh Temon, Kamis (11/9) Masjid Al Huda Jetis Pendoworejo Girimulyo, Jum’at (12/9) Masjid At Taqwa Pundak Tegal Kembang Nanggulan, Senin (15/9) Masjid Al Husna Pandowan Galur, Selasa (16/(9) Masjid Baitul Al Fath Sremo Lor Hargowilis Kokap, Kamis (18/9) Masjid Al Iman Kulwaru Wates, Jum’at (19/9) Masjid Bairurohman Tonegoro Banjarroya Kalibawang, Senin (22/9) Masjid Nurul Huda Mirisewu Ngentakrejo Lendah, Selasa (23/9) Masjid Al Mutagien Krembangan Panjatan, Kamis (25/9) Masjid Nurul Iman Karangtengah Kidul Margosari Pengasih dan Jum’at (26/9) di Rumah Dinas Bupati.

12 September, 2008


USKUP AGUNG SEMARANG KE KULONPROGO

Uskup Agung Semarang, Mgr.Ignatius.Suharyo,Pr mengunjungi umat Katholik di kabupaten Kulonprogo. Dalam kesempatan tersebut Uskup Agung Semarang bersama Pastor Paroki Wates melakukan audiensi dengan Bupati Kulonprogo H.Toyo Santoso Dipo di Joglo Bupati, Jum’at (12/9). Turut hadir Asisten Pembangunan Ir.Agus Anggono, Kepala Kantor Depag Kulonprogo Drs.H.Syahrowardi, Kabag Kesra Setda Arif Sudarmanto,SH dan Kepala Kantor Humas Drs.R.Agus Santosa,MA.

Uskup Mgr.I.Suharyo,Pr mengatakan kunjungan ke Kulonprogo dalam rangka menemui umat Katholik. Hal ini karena wilayah Keuskupan Agung Semarang termasuk seluruh wilayah di DIY termasuk Kulonprogo, dan sebagian besar di Jawa Tengah. Dalam semangat membangun habitus baru nantinya diharapkan umat Katholik menjadi warga Katholik seratus persen dan menjadi warga negara seratus persen, yang akhirnya umat tidak akan menambah masalah, namun bersama membangun bangsa.

Bupati Kulonprogo H.Toyo Santoso Dipo menyambut baik kedatangan Uskup Agung Semarang yang baru pertama kalinya, semoga memberikan berkah bagi Kulonprogo. Keberadaan warga Kulonprogo umat Katholik tidak ada permasalahan baik sesama umat maupun dengan umat lainnya. Apabila ada permasalahan dapat dibicarakan bersama sehingga kondisi masyarakat tetap kondusif aman dan tentram.

Dalam kunjungan beberapa hari di wilayah Kulonprogo, Keuskupan Agung Semarang yang dipimpin Mgr.I.Suharyo,Pr bersama Pastur JB.Rudi Hardono,Pr dan A.Amisani K,Pr, untuk mengujungi umat Katholik. Pada hari Jumat (12/9)pagi diawali dengan pertemuan dengan Pastor Paroki dan Dewan Paroki Wates di Pastoran Gereja Katholik Wates, dilanjutkan Audiensi dengan Bupati Kulonprogo, Pada siang hari Wawan hati dengan PNS, TNI dan POLRI se-Paroki Wates di Gedung Wisma Persahabatan Sejati (WPS) kompleks Gereja Wates, sedang sore hari menghadiri Perayaan Ekaristi di Gereja Katholik Bonoharjo di Demangrejo Sentolo. Sedangkan pada hari berikutnya akan mengunjungi umatnya di kecamatan Nanggulan, Boro dan Promasan di Kalibawang dan kecamatan Samigaluh.

Klomtan ‘Ngudi Luhur’ Maju Lomba Tingkat Nasional

Kelompok tani (Klomtan) ‘Ngudi Luhur’ Pedukuhan Karongan, Desa Kedungsari, Kecamatan Pengasih, mewakili Kulonprogo dalam lomba intensifikasi jagung tingkat nasional. Kamis (11/9), tim penilai yang terdiri dari Ir Sriyono MP dan Ir Bambang Adi Nugroho MMA melakukan penilaian di klomtan setempat. Hadir pada penilain itu Bupati H Toyo Santoso Dipo, Kepala Dinas Pertanian dan Kelautan Ir Agus Langgeng Basuki, Camat Pengasih Dra Sri Hermintarti MM serta anggota klomtan.
Menurut Ketua Klomtan ‘Ngudi Luhur’ Prapto Wiyono, di wilayahnya petani mulai membudidayakan jagung mulai tahun 80-an. Semula, kata dia, hampir semua petai menanam biboit lokal hasilnya tingkat produksinya hanya 3-3,5 ton perhektar.
Pada awal tahun 90-an, tutur Prapto, petani mulai bergeser ke bibit hibrida dengan teknik pemupukan yang dicampur dengan penyiraman (dicor). “Dengan teknik ini hasilnya bisa jauh lebih tinggi. Tahun lalu bisa mencapai 8,8 ton perhektar. Yang berarti ada peningkatan 100 % lebih dibandig dengan bibit local,” ungkapnya.
Dtambahkan, musim tanam (MT) ini areal jagung di wilayahnya mencapai 45 hektar, dengan jumlah anggota sebanyak 84 orang. Diperkirakan pada pertengahan bulan Nopember mendatang sudah panen. “Kami berharap pada awal musim penghujan tidak terjadi hujan lebat sehingga hasil panen bisa optimal,” katanya.
Menurut Bambang Adi Nugroho, memupuk dengan cara dicor yang dilakukan oleh petani Kedungsari mempunyai keunggulan dibanding teknik pemupukan biasa. Dengan cara dicor, kata dia, selain lebih hemat air, pemupukan bisa lebih efisien dan efektif sehingga hasilnya akan lebih baik.
“Teknik ini baru saya lihat di Kulonprogo dan di daerah lain belum ada petani yang melakukannya. Saya akan mensosialisasikan teknik ini ke luar daerah, terutama daerah luar Jawa yang tingkat produktivitasnya masih di bawah 5 ton perhektar,” katanya.
Sementera Bupati Toyo Santoso Dipo minta agara petani tidak membakar batang jagung usai panen. Tetapi dikelola dan dikumpulkan untuk dijual. Orang nomor 1 di Kulonprogo itu berjanji akan mencarikan pembeli, dengan perkiraan harga Rp. 500,- perkilo. Sedang batang kedelai Rp. 1.000,- perkilo.
“Saya sudah ketemu orangnya, dan dia siap untuk membeli batang jagung dan batang kedelai untuk pakan sapi. Kalau harganya sebesar itu berarti bisa untuk mengganti biaya penggarapan atau pemupukan. Yang jelas, semua harus dimanfaatkan jangan dibuang percuma,” pinta Toyo.

11 September, 2008

PENDERITA AIDS KULONPROGO 14 ORANG

HIV/AIDS adalah epidemi yang mengancam kesehatan dan kehidupan generasi penerus bangsa, yang secara langsung membahayakan perkembangan sosial dan ekonomi serta keamanan negara. Oleh karena itu, upaya penanggulangannya, harus dianggap sebagai masalah yang penting dengan tingkat urgensi yang tinggi dan merupakan program jangka panjang yang membutuhkan koordinasi multipihak, serta mobilisasi sumber daya yang intensif dari seluruh lapisan masyarakat untuk mempercepat dan memperluas cakupan program. Pemerintah menjamin mobilisasi semua sumber daya yang disesuaikan dengan kemampuan ekonomi dan keadaan negara untuk penanggulangan AIDS, dan mengurangi stigma dan diskriminasi.
Hal tersebut dikatakan Wakil Bupati Kulonprogo Drs.H.Mulyono dalam acara Rapat Koordinasi Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Kabupaten Kulonprogo di Gedung Binangun Lantai II, Kamis (11/9). Rakor dalam rangka penyusunan program kerja KPAD Kulonprogo dihadiri Sekretaris KPAD propinsi DIY, Asisten Pembangunan Ir.Agus Anggono dan Kadinas Kesehatan dr.Lestaryono,Mkes.
”Program Penanggulangan AIDS, situasi epidemi AIDS selama periode 2007-2010 diperkirakan masih dalam tingkat epidemi berkonsentrasi untuk wilayah Indonesia pada umumnya, dengan laju percepatan prevalens pada kelompok-kelompok paling berresiko. Sedang epidemi AIDS di Tanah Papua sudah pada tahap generalizad epidemic. Pada situasi epidemi seperti ini, program penanggulangan AIDS diarahkan pada area program pencegahan untuk populasi paling berisiko dan area program perawatan pengobatan dan dukungan untuk orang dengan HIV dan AIDS (ODHA,”kata Mulyono
Wabup yang juga Ketua KPAD Kulonprogo menambahkan sasaran utama program pencegahan adalah pengguna Napza suntik (penasun) dan penjaja seks (PS). Populasi ini terdiri atas sub-populasi penasun baik yang ada di masyarakat maupun di lembaga pemasyarakatan (lapas), wanita penjaja seks (langsung dan tak langsung), lelaki seks dengan lelaki (LSL) dan waria. Sub-populasi yang terkait langsung pada dua populasi yang paling berisiko ini adalah pelanggan penjaja seks (PPS) dan pasangan penasun. Proporsi estimasi infeksi baru pada PPS cukup signifikan mulai tahun 2008 hingga sub-populasi ini perlu menjadi sasaran penting dalam upaya menghambat laju percepatan epidemi HIV.
Sementara Kadinas Kesehatan Kulonprogo dr.Lestaryono M,Kes mengatakan jumlah penderita AIDS di Kulonprogo mencapai 14 orang. Sehubungan penyakit ini sebagai fenomena gunung es, maka secara estimasi dimungkinkan penderita lebih banyak lagi. Untuk mengatasi perkembangan jumlah penderita, diperlukan kerjasama lintas program.

10 September, 2008

Tiga Pedukuhan di Desa Margosari Kekurangan Air Bersih

Tiga pedukuhan di Desa Margosari, Pengasih yaitu, Pedukuhan Kalipetir Lor, Kalipetir Kidul dan Kalisoka kekurangan air bersih. Kekurangan air bersih tersebut akibat dampak dari terjadinya kemarau yang telah terjadi beberapa bulan terakhir. Hal ini menyebabkan persediaan air bersih bagi warga di tiga pedukuhan tersebut yang kebanyakan hanya mengandalkan sumur habis, sebelum datangnya musin penghujan.

Menurut penuturan Kepala Desa Margosari Saranta, Rabu (10/9), saat menerima bantuan air bersih dari Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Yogyakarta di Pedukuhan Kalipetir Kidul. Penyerahan air bersih juga dihadiri oleh Wabup Kulon Progo Drs. H. Mulyono, Assek II Ir. Agus Anggono, Ketua HIPMI DIY Aji Setyo Wibowo,SE, Camat Pengasih Drs. Sri Harmintarti,MM, Lurah Kades Margosari Saranta dan ratusan masyarakat yang lainnya. Kekeringan tersebut memang selalu menjadi agenda rutin bagi tiga pedukuhan di Desa Margosari. Karena selama ini belum ada pembangunan infrastruktur sebagi penyedia air bersih yang mampu mencukupi kebutuhan warga. “Memang beberapa waktu lalu ada pembangunan infrastruktur sebagai penyedia air bersih yaitu, di Pedukuhan Kalipetir Kidul berupa sumur pompa. Namun masih belum bisa mencukupi kebutuhan air bersih bagi warga secara menyeluruh pada saat musim kemarau,” katanya.

Hal ini menyebabkan permasalahan tersendiri bagi Desa Margosari karena sampai saat ini belum ada pemecahannya. Saranta mengaharapkan pemkab Kulon Progo bisa memberikan perhatian yang lebih bagi ketiga pedukuhan tersebut. Karena kebutuhan air bersih merupakan kebutuhan pokok bagi warga masyarakat dalam mempertahankan kelangsungan hidup.

Disisi lain, sebagai gambaran pemecahan permasalahan tersebut Saranta menjelaskan bahwa di wilayah Desa Kaliagung, Sentolo terdapat tower (penampungan air) dari Waduk Sermo. “Mungkin pemkab bisa membuat jaringan air bersih ke wilayah ini karena jaraknya cukup dekat. Hal ini mungkin bisa menjadi gambaran pemecahan masalah dari permasalahan kekeringan ini,” lanjutnya.

Dampak dari kekeringan ini juga dituturkan oleh salah seorang Warga Pedukuhan Kalipetir Kidul Sumijo, yang sudah 4 bulan terakhir harus mencari air bersih ke daerah lain guna memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Kesulitan ini semakin dirasakan Sumijo karena jarak tempuh antara rumah tempat tinggal dengan sumber air cukup jauh yaitu, mencapai 2-3 km. “Setiap hari kami harus mencari air dengan menempuh jarak 2-3 km karena kami tidak mampu untuk membeli air bersih dari PDAM yang harganya mencapai Rp 150-200 ribu,” katanya.

Sementara itu, Ketua HIPMI Yogyakarta Aji Setyo wibowo,SE mengatakan bahwa bantuan air bersih yang akan disalurkan ke warga masyarakat sebagai salah satu program ‘HIPMI Berbhakti’ sebanyak 100 tanki air bersih dengan kapasitas 4.000 liter/tanki. Untuk Kabupaten Kulon Progo sebanyak 30 tanki dan sisanya untuk mencukupi kebutuhan air bersih di daerah lain seperti, Kabupaten Bantul, Sleman dan Gunung Kidul.

Selanjutnya, program HIPMI Berbhakti juga memberikan gambaran dan juga pengertian kepada masyarakat bahwa HIPMI selaku himpunan dari pengusaha-pengusaha tidak selalu bertujuan pada profit oriented (keuntungan). “Namun HIPMI juga ingin mengabdi dan selalu peduli kepada permasalahan-permasalhan sosial yang terjadi di masyarakat,” katanya.

Sementara itu, Wakil Bupati Kulon Progo Drs. Mulyono mengatakan bahwa saat ini pemkab Kulon Progo telah mengkaji kemungkinan untuk membuat jaringan air bersih dari Sungai Tinalah, Samigaluh untuk mencukupi kebutuhan air bersih bagi penduduk Kulon Progo Wilayah Utara. Karena meskipun musim kemarau, debit air di Sungai Tinalah masih cukup besar dan diyakini mampu untuk memenuhi kebutuhan air bersih bagi warga Kulon Progo wilayah utara.

Karena kalau hanya mengandalkan sumber air bersih yang selama ini digunakan yaitu, mata air Clereng dan Sermo jelas masih kekurangan. Karena seperti halnya Waduk Sermo, meskipun dialiri dari 7 buah sungai yang ada namun selalu kering kalau musim kemarau. “Hal ini tentu menjadikan permasalahan. Dan kami melihat Sungai Tinalah sebagai salah satu sumber air yang memiliki potensi yang baik di masa mendatang untuk dikembangkan,” katanya.

Di sisi lain, Wabup mengharapkan agar masyarakat juga bisa secara bersama-sama menjaga konservasi alam guna menjaga sumber air yang selama ini ada. Karena permasalahan yang terpenting dalam manajemen air adalah bagaimana menghambat air pada saat musim penghujan agar tidak segera sampai di laut. Karena pada musim kemarau air ini akan menjadi kebutuhan pokok dari masyarakat, lanjutnya.

09 September, 2008

BILA RUUK TAK SESUAI ASPIRASI MASYARAKAT

GKR Hemas Akan Melakukan Veto

Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) DIY Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas geram dengan keputusan Pemerintah dan DPR yang kunjung jelas tentang status keistimewaan DIY. Dia pun mengancam, bila keputusan Pemerintah dan DPR tentang Rencana Undang-Undang Keistimewaan (RUUK) yang diambil tidak sesuai dengan aspirasi masyarakat DIY, bersama anggota DPD yang lain dia akan memveto keputusan tersebut.

GKR Hemas menegaskan hal itu kepada wartawan usai melakukan sosialisasi tentang DPD dan penyerapan aspirasi masyarakat, Sabtu (6/9) di gedung PDHI Wates. Acara itu diikuti oleh segenap camat, kepala desa serta pengurus TP PKK se Kulon Progo dan dihadiri oleh Bupati H Toyo Santoso Dipo, Wabup Drs H Mulyono, Ketua DPRD Drs H Kasdiyono dan Ketua TP PKK Hj Wiwik Toto Santoso Dipo.

Permaisuri Sri Sultan Hamengkubuwono X itu belum mau menjelaskan bagaimana bentuk dan mekanisme veto yang akan dilakukan. Karena sementara ini dia masih berpikir positif dan berharap agar keputusan pemerintah akan sesuai dengan keinginan masyarakat. “Kita lihat saja nanti, yang penting saya akan berjuang dulu,” kilahnya, saat ditanya tentang kemungkinan dilakukannya veto tersebut.

Saat berbicara di depan peserta sosialisasi, GKR Hemas menyatakan, sampai saat ini keberadaan RUUK belum jelas, sudah dibahas di DPR atau belum. Pada tanggal 22 Agustus lalu, melalui Ketua DPD Ginanjar Kartasamita dia pernah menanyakan kepada Presiden Susilo Bambang Yudoyono. Secara lisan oleh presiden dijawab sudah dibahas di DPR. Namun kemudian ada kabar kalau ternyata masih dibahas di Depdagri. Ini benar-benar membingungkan, tandasnya.

Padahal, katanya, masa jabatan Gubernur DIY akan habis pada bulan Oktober depan. Berarti keputusan tentang status keistimewaan DIY seharusnya sudah harus selesai setidaknya awal bulan depan. “Kalau tidak, kita semua akan repot,” tukasnya.

Oleh karenanya, GKR Hemas berjanji akan mencari informasi yang sejelas-jelasnya tentang keberadaan RUUK itu. “Minggu depan saya dan teman-teman anggota DPD dari DIY yang lain akan mencari informasi yang akurat. Mudah-mudahan semuanya berjalan seperti yang kita harapkan bersama,” ujarnya.

Di bagian lain, ibu 5 putri tersebut mengungkapkan, pada Pemilu 2009 mendatang dirinya akan mencalonkan diri lagi sebagai anggota DPD. Karena, kata dia, untuk DIY tidak ada pendaftar perempuan. Meski ada yang mengambil formulir pendaftaran tetapi tidak diserahkan kembali.

“Kalau ada kaum perempuan yang mendaftar sebenarnya saya akan mengundurkan diri. Namun karena tidak ada, ya terpaksa saya maju lagi. Supaya ada wakil bagi kau perempuan,” imbuh Hemas.

Di samping itu, tambahnya, di DPD dia masih punya agenda yang selama ini belum dapat diselesaikan. Yakni mengamandemen UUD 45 tentang kedudukan DPD. “Saya lihat DPR belum mau membagi kue kekuasaan kepada DPD sehingga hak dan wewenang politiknya sangat terbatas . Itu yang akan saya perjuangkan agar di negeri ini kehidupan politik bisa berjalan secara proporsional,” tuturnya.