09 Agustus, 2008

Meriah, Festival Desa Budaya di Kulon Progo

Festival Desa Budaya (FDB) di Kabupaten Kulo Progo berlangsung meriah. Dua puluh kelompok kesenian dan komunitas upacara tradisi tampil saat acara pembukaan yang digelar di halaman balai desa Jatimulyo, Kecamatan Girimulyo, Kamis (7/8). Mereka tampil dalam bentuk kirab dan pentas di hadapan ribuan penonton, di antaranya Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Drs Bambang Pidekso, MSi, Kepala Kantor Humas Drs H Agus Santosa, MA, Camat Girimulyo Drs Sumiran dan Kasie Nilai Budaya dan Tradisi Dinas Kebudayaan Provinsi DIY Drs Bugiswanto.

Prosesi kirab diawali dari lapangan Jatimulyo menuju balai desa. Berbgai kesenian setempat turut dalam kegiatan itu, seperti kelompok angguk, jatilan, sholawatan dan 3 komunitas upacara tradisi. Setelah tiba di ahalaman balai desa, masing-masing kelompok unjuk kebolehan sekitar 10 menit secara bergantian dan ditutup dengan pagelaran wayang kulit.

Menurut ketua Desa Budaya Jatimulyo, L Prayitno, di wilayahnya terdapat sekitar 50 kelompok kesenian. Namun karena waktu persiapan mepet dan dana terbatas, hanya 20 kelompok yang berpartisipasi.

“Untuk festival ini sebagian besar biaya latihan dan persiapan sejak 28 Juli lalu ditanggung olek kelompok secara swadaya. Sehingga yang tidak punya biaya tidak bisa ikut,” tandas L Prayitno.

Menurut penjelasan Bambang Pidekso, FDB dilaksanakan oleh Dinas Kebudayaan Provinsi DIY di 5 desa selama 2 hari. Hari pertama (7/8) digelar di Jatimulyo, Desa Pagerharjo, Kecamatan Samigaluh dan Desa Banjaroyo, Kecamatan Kalibawan. Sedang hari ke-2, Rabu (13/8) akan dilaksanakan di Desa Sendangsari, Kecamatan Pengasih dan Desa Hargomulyo, Kecamatan Kokap.

Di Kulon Progo, tambahnya, sebenarnya Desa Budaya ada 13 dan yang telah memperoleh sertifikat dari Dinas Kebudayaan DIY baru ada 10 desa. Namun demikian, yang untuk tahun ini FDB baru dilaksanakan di 5 desa, ungkapnya.


Damandiri Mendorong Terciptanya Masyarakat Madani Yang Produktif

Yayasan Dana Sejahtera Mandiri (Damandiri) yang diketuai oleh mantan Menteri BKKBN RI Prof. Dr. Haryono Suyono, MA,Ph.D. menggulirkan sebuah program pembangunan masyarakat yang merangsang terbentuknya masyarakat madani yang mandiri dan kreatif jauh dari kemiskinan. Sebagai langkah awal, untuk Kabupaten Kulon Progo Damandiri mendirikan sebuah wadah koordinasi masyarakat yang diberi nama Pos Pemberdayaan masyarakat (Posdaya) di dua kecamatan yaitu, Temon (Desa Kebonrejo) dan Pengasih (Desa Margosari).

Menurut rencana, di dua kecamatan tersebut, ada 14 titik yang berpotensi untuk dikembangkan usaha kegiatan masyarakat mandiri melalui Posdaya. Karena pada prisipnya Damandiri melalui Posdaya akan berupaya untuk mendukung pembangunan daerah yang berbasis kemandirian desa dan Sumber Daya Manusia (SDM) di desa.

Demikian dikatakan Prof. Dr. Haryono Suyono, MA. Ph.D. saat meresmikan Posdaya Sabtu (9/8), di Desa Kaliagung, Sentolo. Peresmian juga dihadiri oleh Bupati Kulon Progo H. Toyo S Dipo, Rektor Universitas Sarjana Wiyata Prof. Dr. Djohar, MS, Sekda Kulon Progo Drs. So’im, beberapa pejabat eksekutif pemkab serta ratusan masyarakat lainnya.

Posdaya akan menjadi forum masyarakat untuk berinteraksi dan menyalurkan aspirasi tentang kebutuhan yang diperlukan oleh masyarakat. Selanjutnya, kebutuhan tersebut bisa ditindaklanjuti dengan pendampingan maupun dana dari Yayasan Damandiri yang mencapai Rp 1,2 triliyun dan tersebar di seluruh Indonesia. ”Kami merangsang masyarakat untuk menciptakan kreativitas. Selanjutnya, kami menyiapkan pendampingan maupun dananya melalui bank-bank yang telah kami tunjuk seperti, BPD, Bukopin,BPR dan yang lain,” katanya.

Dipilihnya dua kecamatan di Kulon Progo yaitu, Temon dan Pengasih menurut Haryono, dua kecamatan tersebut memiliki potensi dan juga budaya yang cukup baik untuk dikembangkan. Karena ada empat permasalahan pokok dari pengguliran program kemandirian masyarakat melalui Posdaya. Yaitu, Pengentasan kemiskinan, Perbaikan pendidika masyarakat, Kesehatan dan juga Terciptanya lingkungan yang bersih dan tertata.

Sementara itu, Bupati Kulon Progo mengatakan bahwa Kabupaten Kulon Progo sangat siap untuk menirima program tersebut dan mendukung upaya pembentukan masyarakat sejahtera dan kreatif melalui wadah Posdaya. Diharapkan, berdirinya Posdaya di dua tempat yaitu, Desa Margosari dan Desa Kebonrejo bisa merangsang berdirinya Posdaya maupun kreativitas masyarakat Kulon Progo di daerah yang lain.

Karena hal tersebut diperlukan dalam upaya pembentukan dan pembangunan masyarakat menuju kesejahteraan. Sesuai kultur yang seharusnya ada di masyarakat yaitu, dinamis, kreatif dan maju. ”Sehingga akan tercipta pemerataan pembangunan yang berimbas kepada kesejahteraan masyarakat,” katanya.

PENGGANTI SUMARIYO TELAH TERISI

Ketua DPRD Lantik Drs.Hartono

Drs.Hartono dari Partai Kebangkitan Bangsa menjadi anggota DPRD Kabupaten Kulon Progo antar waktu menggantikan H.Sumariyo,SH yang berhenti dari anggota Dewan karena meninggal dunia. Hartono meski warga Sindutan, Temon namun sebelumnya tercatat sebagai calon legislatif PKB daerah pemilihan Pengasih-Kokap terhitung sejak pengucapan sumpah dan janji menjadi anggota dewan Kulonprogo.

Pengucapan Sumpah dan janji berlangsung Sabtu (9/8) pada rapat paripurna Istimewa DPRD Kabupaten Kulon progo dipandu oleh Ketua Dewan Drs. Kasdiyono yang diawali dengan pembacaan SK Gubernur DIY oleh Sekretaris Dewan. Drs. Djuwardi. Rapat paripurna Istimewa di hadiri oleh para anggota DPRD dan disaksikan Wakil Bupati. Drs.H. Mulyono, jajaran Muspida dan para Kepala Dinas Instansi.

Menurut Ketua DPRD Drs. Kasdiyono Pengucapan sumpah dan janji Drs.Hartono didasarkan pada Surat keputusan Gubernur DIY, atas nama Presiden Republik Indonesia Nomor: 122/Kep/2008, tertanggal 21 Juli 2008 tentang peresmian dan pemberhentian anggota DPRD Kabupaten Kulon progo antar waktu.

Dengan demikian, menurut Kasdiyono kekosongan anggota DPRD Kulon progo setelah terisi kembali tersebut akan dapat meningkatkan kinerja dan tugas-tugas Dewan sebagai penyampai aspirasi rakyat, melaksanakan pengawasan maupun dalam menjalankan fungsi Legislasi.

Kepada Hartono, Ketua Dewan berharap dengan pengucapan sumpah dan janji tersebut agar segera menyesuaikan diri untuk mengikuti tugas-tugas sebagai anggota DPRD Kabupaten Kulon progo.

Usai pengucapan sumpah dan janji rapat paripurna istimewa diakhiri dengan penyampaian ucapan selamat oleh Ketua DPRD Drs. Kasdiyono, Wakil Bupati Drs.H.Mulyono, Seluruh anggota Dewan, jajaran Muspida serta para Kepala Dinas Instansi.

Usai dilantik, Hartono dihadapan beberapa wartawan menjelaskan bahwa setelah resmi menjadi anggota dewan akan melanjutkan rencana almarhum Sumariyo, berupa perbaikan kulitas tanah melalui program Sapinisasi dengan kotoran ternak menjadi pupuk organik, sehingga kondisi tanah menjadi subur yang akan menguntungkan para petani.

“ Yang menjadi prioritas pemikiran ke depan, adalah bagaimana kualitas tanah menjadi baik melalui pupuk organik, sehingga hasil petani baik termasuk luasan lahan pertanian yang masih sedikit di daerah pegunungan karena tidak subur, syukur kalau ada pabrik kompos di Kulonprogo, akan sangat bagus, meskipun itu kewenangan eksekutif, legislative hanya memberi masukan saja,” kata Hartono yang sebelumnya menjadi guru di SMA Maa’rif Wates.


GELAR PAWAI DAN KARNAVAL 17-AN

Route Diubah Tak Lewati Kota Wates

Mulai tahun ini kegiatan Pawai dan Karnaval di Kabupaten Kulonprogo dalam rangka memeriahkan HUT Kemerdekaan RI ke-63 routenya diubah tak melewati Kota Wates seperti tahun-tahun sebelumnya. Peserta Pawai dan Karnaval sebagian besar akan melintasi jalan di wilayah Kecamatan Pengasih, sementara Wates hanya sebagai tempat pemberangkatan atau start dan finish tepatnya di Alun-Alun Wates.

Kadinas Pendidikan selaku Koordinator Seksi Pawai dan Karnaval, Muh.Mastur, BA didampingi Kepala TU Dinas Pendidkan Drs.Sumarsono,MSi, Sabtu (9/8) mengatakan seiring dengan kepadatan lalu lintas di jalan – jalan Kota Wates dan terutama adalah lalulintas kereta api dengan double track yang telah berfungsi, apabila dipaksakan melintasi rel kereta api maka jalannya pawai dan karnaval akan terganggu cukup lama dan peserta terakhir selesai hingga malam maka panitia merubah route. Hal ini juga berdasar penyelenggaraan dari tahun ketahun peserta baik pawai maupun karnaval terus meningkat pesat. Untuk mengatasi hal tersebut, route diubah tidak melintas rel kereta api, juga tidak diabaikan ketepatan waktu start sangat penting. “ Supaya peserta terakhir tidak selesai menjelang malam, diharapkan peserta Pawai maupun Karnaval dapat menyiapkan diri sebelum jam pemberangkatan, karena strat pawai maupun Karnaval pukul 12.30 WIB di Alun-Alun Wates. Untuk Pawai Senin (18/8) dan Karnaval Selasa (19/8) dengan route baru start di Depan Rumah Dinas Bupati , Dinas Kesehatan , Depan Pemkab Kulonprogo, teteg timur ke timur, Serut, Pertigaan Dayakan, SMKN 1 Pengasih , Kantor Kecamatan Pengasih, KUD Pengasih, MAN 1, perempatan UNY Wates, Polres dan finish di depan Kodim, untuk itu para peserta harap menyesuaikan waktu sehingga tidak sampai malam selesai,” kata Mastur. .

Pendaftaran peserta di Kantor Dinas Pendidikan Kulonprogo Unit II Jl.Terbahsari Wates. Nomor Undian/peserta diambil dan ditentukan pada saat pelaksanaan lomba (daftar ulang) di Alun-alun Wates mulai pukul 10.00 WIB.

Untuk regu SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/MA/SMK terdiri 31 siswa termasuk komandan pleton. Dinas/instansi dan peserta umum terdiri dari 15 termasuk komandan regu. Setiap sekolah, dinas/instansi dan peserta umum diharapkan mengirimkan lebih dari satu regu. Sedangkan untuk karnaval jumlah anggota satu regu minimal 15 orang dan maksimal tidak dibatasi asal teratur. Objek tampilan/tema adalah melalui Lomba Pawai dan Karnaval kita wujudkan generasi yang cerdas, santun, trampil dan mandiri sebagai refleksi satu Abad Kebangkitan Nasional, dengan sub tema berkaitan aspek pembangunan di bidang sosial, ekonomi, pendidikan, budaya, kesehatan, hukum serta keamanan, lebih menekankan unsur persatuan bangsa.

Para peserta karnaval dapat menggunakan kendaraan roda 4, 3, 2 ataupun berjalan kaki dan pengeras suara serta bunyi-bunyian yang tidak membahayakan. Selain memberikan penghargaan berupa trophy dan piagam bagi peserta pawai dan karnaval, khusus tahun ini karena peserta Drumb Band setiap tahun meningkat, panitia akan memberikan pernghargaan bagi penyaji terbaik atau terfavorit group Drum Band dari masing-masing sekolah.

Beberapa warga Pengasih merasa senang adanya route baru Pawai dan Karnaval tingkat Kabupaten melewati wilayahnya, yang akan memberikan hiburan tanpa harus ke Kota Wates. “Wah, senang sekali kalau Pawai dan Karnaval lewat Pengasih, selain tidak harus ke Kota Wates, dapat menjadi hiburan warga selama tiga hari berturut-turut, karena seperti biasanya tanggal 17 sore diadakan Pawai dan Karnaval tingkat Kecamatan yang routenya sebagaian besar sama dengan route kabupaten,”kata Irfan.

07 Agustus, 2008

KEGIATAN 17 AGUSTUS PEMKAB KULONPROGO

Upacara Detik – Detik Proklamasi di Alun-Alun Wates

Dalam rangka menyambut HUT RI, Panitia Peringatan tingkat Kabupaten Kulonprogo menyelenggarakan berbagai kegiatan untuk memeriahkan HUT RI yang ke 63 tahun 2008.

Sekretaris Daerah Kulonprogo selaku Ketua Umum Panitia HUT Proklamasi Kemerdekaan RI ke-63 tahun 2008, Drs.So’im,MM, Kamis (7/8) menjelaskan, panitia kabupaten dalam rangka HUT RI melaksanakan berbagai kegiatan yang telah berlangsung adalah pertandingan sepakbola antar instansi Toyo S Dipo Cup ke- VI di Alun-Alun Wates mulai Selasa (22/7), kemudian kegiatan selanjutnya mendengarkan Pidato Kenegaraan oleh Presiden RI di Gedung DPRD Jum’at (15/8) pukul 09.00 WIB, Pengukuhan Pasukan pengibar bendera (Paskibra) di Gedung Kaca Sabtu (16/8) pukul 10.00 WIB, Malam Tirakatan di Gedung Kaca Sabtu (16/8) pukul 19.00 WIB, Upacara Renungan Suci di TMP Giripeni Wates Sabtu (16/8) pukul 00.00 WIB, Upacara Detik-Detik Proklamasi di Alun-Alun Wates Minggu (17/8) pukul 10.00 WIB, Upacara Penurunan Bendera/Aubade di Alun –Alun Wates Minggu (17/8) pukul 17.00 WIB, Pawai Senin (18/8) start pukul 12.30 WIB, Karnaval Selasa (19/8) start pukul 12.30 WIB, dan Penutupan kegiatan di Gedung Kesenian Wates Jum’at (22/8).

“Untuk memeriahkan dan menyemarakkan HUT RI diharapkan warga masyarakat memasang bendera Merah Putih satu tiang penuh mulai Kamis (14/8) hingga Senin (18/8) dan umbul-umbul maupun rontek, “ kata So’im.

06 Agustus, 2008

Muscab BPC AKU 2008 di Kulon Progo

Ciptakan UPPKS Yang Tidak Tergantung Subsidi Pemerintah

Usaha Peningkatan Kesejahteraan Keluarga Sejahtera (UPPKS) selama ini identik dengan sebuah usaha kecil yang selalu tergantuing kepada subsidi dari pemerintah. Karena permodalan sering menjadi permasalahan yang selalu dihadapi dan menghambat perkembangan usaha kecil guna meningkatkan kesejahteraan keluarga. Untuk itu, dibutuhkan sebuah wadah organisasi yang mampu berperan menjadi fasilitator maupun penggerak usaha ekonomi keluarga produktif menjadi usaha yang mandiri dan tidak tergantung subsidi pemerintah.

Peran tersebut bisa dilakukan oleh Asosiasi Kelompok UPPKS (AKU) yang didalamnya menampung berbagai Kelompok UPPKS yang ada dari tingkat provinsi sampai ke kecamatan-kecamatan. Sehingga Muscab AKU yang salah satu agendanya adalah pemilihan pengurus untuk masa bhakti 2008-2012 bisa memilih kepengurusan yang berkualitas. Yaitu, pengurus AKU yang peduli terhadap perkembangan dan pengentasan permasalahan UPPKS.

Demikian dikatakan salah seorang pengurus AKU Provinsi DIY dr. Siswatiningsih Rabu (6/8), dalam acara Muscab BPC AKU Kulon Progo di RM. Kampoeng Resto, Wates. Acara tesebut juga dihadiri oleh Wakil Bupati Drs. H. Mulyono, Ketua Umum BPC AKU Kulon Progo Ny. Wiwik Ernawati Toyo S Dipo, Kepala Kantor KPDE Drs. Bisono Indrocahyo, Anggota UPPKS dan yang lainnya.

Pengurus yang memiliki kepedulian sangat diperlukan dalam kepengurusan AKU karena permasalahan UPPKS tidak hanya sebatas permodalan. UPPKS juga memerlukan dukungan baik berupa pelatihan, pembinaan sampai pemasaran dari produk-produk UPPKS. ”Sehingga pengurus AKU hendaknya mampu menjalankan perannya terhadap pengembangan UPPKS dari pembinaan sampai pada permasalahan pemasaran produk UPPKS,” katanya.

Sedangkan menurut Ketua Umum BPC AKU Kulon Progo Ny. Wiwik Ernawati Toyo S Dipo, kepengurusan AKU untuk periode 2004-2008 telah menunjukan upaya yang baik dalam mengembangkan UPPKS di Kulon Progo. Sesuai dengan tujuan pembentukan AKU yaitu, memperjuangkan aspirasi dan melindungi kelompok UPPKS dalam upaya mendukung pembangunan nasional, membantu pemecahan permasalahan UPPKS dan membangun jaringan kemitraan dan pemasaran produk UPPKS.

Sementara itu, Wabup Kulon Progo Drs. H. Mulyono mengharapkan AKU bisa menjadi wadah yang tepat dalam rangka memperjuangkan dan juga melindungi pemberdayaan ekonomi keluarga. Karena permasalahan perkembangan perekonomian diantaranya adalah pemberdayaan ekonomi yang belum berjalan dengan baik.

Karena mendorong masyarakat untuk bisa melakukan sebuah usaha ekonomi produktif bukanlah pekerjaan mudah. Namun memerlukan sebuah keseriusan dan kepedulian yang baik. ”Sehingga masyarakat bisa menerima dan mengembangkan usaha ekonomi produktif tersebut untuk mendukung terciptanya kesejahteraan dan perbaikan perekonomian keluarga,” katanya.

05 Agustus, 2008

agenda

DIALOG INTERAKTIF RADIO "BUPATI MENYAPA"
Di RRI Pro2 FM Yogyakarta
Setiap Hari Jum'at
Pukul 07.30 - 08.00 WIB

1. Tanggal : 6 Agustus 2008
Hari : Rabu
Waktu : Pukul 08.00 WIB
Tempat : Ruang Rapat Wakil Bupati
Acara : Audiensi apeserta Olimpiade Sains Nasional (OSN) Tingkat Nasional Tahun 2008

2. Tanggal : 7 Agustus 2008
Hari : Kamis
Waktu : Pukul 09.00 - 12.00 WIB
Tempat : Aula IKIP PGRI Wates
Acara : Seminar Media Massa dan PAUD

3. Tanggal : 7 Agustus 2008
Hari : Kamis
Waktu : Pukul 19.30 WIB
Tempat : Ponpes Bani Syafii, Jetis, Sogan, Wates
Acara : Tasyakuran Khotmil Qur'an

4. Hari/Tanggal : Kamis dan Rabu / 7 dan 13 Agustus 2008
Tempat :
Desa Budaya Jatimulyo, 7 Agustus 2008 pukul 09.00 - 10.30 WIB
Desa Budaya Pagerharjo, 7 Agustus 2008 pukul 11.30 - 12.30 WIB
Desa Budaya Banjarharjo, 7 Agustus 2008 pukul 14.00 - 15.00 WIB
Desa Budaya Sendangsari, 13 Agustus 2008 pukul 09.00 - 10.00 WIB
Desa Budaya Hargomulyo, 13 Agustus 2008 pukul 11.00 - 12.00 WIB
Acara : Festifal Desa Budaya Tingkat Provinsi DIY

5. Tanggal : 8 Agustus 2008
Hari : Jum'at
Waktu : Pukul 08.30 WIB
Tempat : Gedung Joglo Kabupaten Kulon Progo
Acara : Presentasi Calon Investor Rest Area dan Kegiatan Perdagangan Dinas Perindagkoptam Kulon Progo

6. Tanggal : 8 Agustus 2008
Hari : Jum'at
Waktu : Pukul 20.00 WIB
Tempat : Ponpes Ashomadiyah, Karangsewu, Galur
Acara : Pengajian Umum Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW

7. Tanggal : 9 Agustus 2008
Hari : Sabtu
Waktu : Pukul 09.00 WIB
Tempat : Gedung DPRD Kab. Kulon Progo
Acara : Pengucapan Sumpah Janji Anggota Antar Waktu

8. Tanggal : 15 Agustus 2008
Hari : Jum'at Kliwon Malam Sabtu Legi
Waktu : Pukul 19.30 WIB
Tempat : Ponpes Assalafiyyah Trukan, Ngrandu, Salamrejo, Sentolo
Acara : Tasyakuran Wal Ihtitam
Pembicara : KH. Abdul Basir dari Kuthoarjo, Jawa Tengah

04 Agustus, 2008

Dengan PTT, Produksi Padi Naik 2,2 Ton Perhektar

Dengan menggunakan teknologi Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) produksi padi mampu meningkat sebesar 2,2 ton Gabah Kering Panen (GKP) perhektar. Di lahan yang dikerjakan dengan sistem PTT produksi rata-rata mencapai 9,8 ton. Sedang yang dikelola dengan cara penanaman konvensional hanya sebesar 7,58 ton GKP.

Hal itu terungkap saat dilakukan panen perdana padi dem area PTT di Bulak Ngrandu dan Bulak Kemendung, Sentolo oleh Wagub DIY Sri Paduka Paku Alam IX dan Bupati Kulon Progo H Toyo Santoso Dipo, Sabtu (2/8). Hadir dalam acara itu Ketua DPRD Kabupaten Kulon Progo Drs H Kasdiyono, Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan DIY Ir Nanang Suwandi, Kepala Dinas Pertanian dan Kelautan Ir Agus Langgeng Basuki serta pejabat Pemkab lainnya.

Menurut Ketua Kelompok Tani (Klomtan) ‘Sedyo Makmur’ Gendingan, Tuksono, Muslih, dem area PTT di wilayahnya seluas 27 ha. Pada musim tanam (MT) II tahun 2008 ini ditanami varietas IR 64, Ciherang, Situbagendit dan Sintanur.

D idem area, jelasnya, seluruh lahan dikerjakan dengan PTT yang dikombinasikan dengan System Rice Intensivication (SRI) Legowo. Yakni dengan cara penanaman benih usia 15 hari, penanaman tidak terlalu dalam dan setiap tancep 2 batang bibit. Jarak tanam 25 x 25 cm, setiap 6 tancep diberi jarak yang disebut legowo.

“Dengan sistem ini ternyata hasilnya sangat bagus, jauh lebih baik dibanding dengan cara tanam biasa yang setiap tancep sebanyak 5-7 batang bibit dan tidak pakai legowo. Biaya pemeliharaannya pun lebih murah karena lebih hemat pupuk dan sama sekali tak menggunakan pestisida,” katanya.

Senada dengan Muslih, Ketua Klomtan Tri Daya Makmur, Kemendung, Sukoreno, Sugiyanto menyatakan, dengan PTT produksi padi kelompoknya mencapai 9,86 ton per ha. Dia optimistis dengan penggunaan teknologi itu nantinya produksi padi akan mencapai lebih dari 10 ton per ha. “Di MT ini kami masih belajar sudah mampu mencapai produksi 9 ton lebih, nanti kalau sudah mahir pasti akan lebih dari 10 ton,” ujarnya.

Wagub Paku Alam IX pada kesempatan itu membacakan sambutan tertulis Gubernur DIY Sri Sultan HB IX, antara lain mengatakan, untuk mengoptimalkan produksi padi, petani harus berupaya untuk meningkatkan perilaku usahanya. Yakni dengan memahami dan memiliki kemampuan untuk mengelola usaha tani sebagai usaha industri yang nantinya mampu bersweadaya sehingga dapat memberikan keuntungan dan kesejahteraan.

Petani, tambah Wagubn, harus termotivasi untuk bisa menentukan dan menjadi manajer dalam usaha taninya. Hal ini dapat ditempuh dengan penggunaan bibit unggul, pemupukan, pemberantasan hama, pengairan dan cara bercocok tanam yang baik dan benar.

Di bagian lain Wagub menjelaskan, luas lahan sawah di DIY mencapai 58.608 ha yang bisa ditanami padi, palawija dan hortikultura. Namun dengan bertambahnya penduduk dan berkembangnya daerah perkotaan luas sawah terus mengalami penurunan. Secara umum penurunan luas mencapai 182 ha (0,32 %) pertahun selama tahun 2008-2007. Penurunan ini terjadi di semua wilayah kabupaten/kota dan yang tertinggi di Kota Yogyakarta yang mencapai 7,74 %, tandas Wagub.

Dikatakan, pada tahun 2007 DIY mampu menghasilkan padi sebesar 709.294 ton Gababah Kering Giling (GKG). Naik 1,13 ton (0,16%) dibanding tahun 2007 lalu. “Kenaikan ini disebabkan karena naiknya luas panen sebesar 8.753 ha (6,56 % dan produktivitasnya sebesar 1,63 kwintal (3,07 %) per ha.

Sementara H Toyo Santoso Dipo mengatakan, di Kulon Progo laju peningkatan produksi pangan, khususnya beras saat ini belum mampu mengimbangi laju peningkatan kebutuhan akibat peningkatan jumlah penduduk. Namun secara umum selama 2 tahun terakhir selalu mengalami surplus. Pada tahun 2006 surplus mencapai 24,289 ton dan tahun 28,021 ton.

“Potensi peningkatan produksi padi di Kulon Progo masih sangat besar. Berbagai upaya telah dilakukan. Anatar lain dengan penggunaan bibit unggul, perbaikan budidaya, perbaikan penanganan panen dan pascapanen, pembangunan dan rehabilitasi jaringan irigasi serta pemberdayaan klomtan melalui fasilitasi Penguatan Modal Usaha Kelompok (PMUK),” jelas Toyo.

02 Agustus, 2008

WAGUB DIY RESMIKAN PABRIK WIG PT SUNCHANG

Perusahaan Semestinya Mengembangkan Program CSR

Setiap perusahaan sudah semestinya mengembangkan program Corporate Sosial Responsibility (CSR), sehingga masyarakat terutama yang tinggal di sekitar lokasi pabrik dapat pula menikmati manfaat dari keberadaan pabrik. Paling tidak rekruitmen pegawai yang memprioritaskan penduduk setempat akan mengurangi kesenjangan sosial. Di samping kepedulian terhadap lingkungan tidak boleh terlupakan. Begitu pula hubungan sosial kemasyarakatan dengan masyarakat sekitar perlu dikembangkan, sehingga kemungkinan timbulnya konflik akibat kurang harmonisnya hubungan antara perusahaan dengan masyarakat dapat diminimalisir.

Hal tersebut ditekankan Gubernur DIY Hamengku Buwana X dalam sambutan tertulis yang dibacakan Wakil Gubernur DIY Paku Alam IX dalam Peresmian Pabrik Pembuatan Rambut Palsu/Wig, PT Sung Chang Indonesia, di Dusun Tambak Desa Triharjo Kecamatan Wates, Sabtu (2/8). Turut hadir Bupati Kulonprogo,H.Toyo Santoso Dipo, Wabup Drs.H.Mulyono. Ketua DPRD Drs.H.Kasdiyono, Muspida, Direktur Utama PT Sung Chang Indonesia Kim Chang Keun serta kepala SKPD di lingkup pemkab Kulonprogo. Peresmian ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh Wagub DIY Paku Alam IX dan Bupati Kulonprogo H.Toyo Santoso Dipo. Sebelumnya Wagub bersama rombongan melakukan peninjauan ke dalam pabrik.

Gubernur meyakini bahwa apabila program CSR benar-benar dilaksanakan dengan baik oleh perusahaan, maka yang diuntungkan bukan hanya masyarakat saja, akan tetapi perusahaan pun juga diuntungkan karena proses produksi akhirnya akan dapat berjalan secara optimal, tanpa mengalami gangguan suatu apa pun.

Ditambahkan, peluang untuk melakukan investasi di wilayah DIY masih terbuka lebar. Dan setiap ada investor baru yang membuka usahanya di wilayah ini, kita semua selalu menaruh harapan yang besar akan adanya lowongan pekerjaan. Suatu harapan yang tidak keliru dan memang wajar karena di tengah kesulitan memperoleh lapangan pekerjaan ada perusahaan yang membuka usaha.

Sementara Bupati Kulonprogo H.Toyo Santoso Dipo berharap agar perusahaan dapat terus berkembang sehingga memberi andil besar bagi pembangunan di Kulonprogo khususnya memberi kesempatan kerja kepada masyarakat. Setelah diawali oleh PT Sung Chang ke depan diharapkan ada lagi perusahaan dari Korea Selatan yang masuk Kulonprogo dalam bidang kelautan seiring dengan dibangunnya pelabuhan samudra. Soal perijinan tidak perlu diragukan lagi, karena aparat pemkab siap menfasilitasi investor-investor yang masuk ke Kulonprogo.

Didukung 90 persen Pemain Kulon Progo

Tim DIY I Maju ke Final Kejurnas Sepakbola Wanita

Kontingen sepakbola wanita DIJ I yang sebagian besar anggotanya berasal dari pemain sepakbola Putri Binangun Kulon Progo berhasil maju ke babak final untuk menantang Jawa Barat. Pertandingan final akan digelar pada Minggu sore (3/8), di lapangan Senayan Jakarta.

Demikian dikatakan Ketua PSSI Kulon Progo Drs. H. Mulyono Sabtu ( 2/8), saat ditemui di ruang kerjanya. Kontingan DIY I yang dipimpin oleh official manager Hj. Wiwik Toyo Santoso Dipo berhasil melaju ke final setelah pada kualifikasi awal berhasil menyingkirkan lawan-lawanya.

Diantaranya, menghantam kesebelasan Bangka Belitung (Babel) dengan skor telak 7-2, mencukur Jawa Tengah dengan skor 19-0 dan menyudahi perlawanan Papua dengan skor 2-1. Selanjutnya, DIJ I memastikan langkah ke final setelah pada pertandingan terakhir melawan DKI Jakarta berhasil memetik kemenangan 3-1.

Pemenang dari partai final berhak untuk mewakili Indonesia di kejuaraan sepakbola wanita tingkat internasional di Beijing, China. ”Untuk itu, kami mohon bantuan dan doa restu dari segenap masyarakat agar kontingan DIJ I berhasil meraih juara dan selanjutnya melangkah ke ajang internasional di Beijing, China untuk waktu mendatang,” katanya.