10 Juli, 2008

HUT Koperasi Ke-61

Bupati :

KOPERASI JANGAN ALERGI

DENGAN FASILITAS DARI PEMERINTAH

Koperasi hendaknya jangan merasa alergi dengan fasilitas yang disediakan oleh pemerintah, karena fasilitas yang disediakan pemerintah semata-mata hanya untuk memajukan koperasi dan kesejahteraan anggotanya. Hal tersebut disampaikan oleh Bupati Kulon Progo H. Toyo S Dipo, sebagai key note speaker dalam Lokakarya “Koperasi dan Ekonomi Kerakyatan Sebagai Sistem Bukan Sebagai Kebijakan Makro” di Gedung Kaca, Selasa (8/7).

Menurut Toyo, selama ini koperasi merasa alergi dengan fasilitas yang disediakan oleh pemerintah karena takut akan campur tangan pemerintah terhadap koperasi. Hal tersebut sebenarnya tidak perlu ditakuti, karena fasilitas pemerintah yang telah diberikan kepada koperasi murni menjadi hak koperasi untuk mengelolanya untuk kemakmuran anggota dan masyarakat. “Memang idealnya koperasi harus bisa hidup tanpa fasilitas dari pemerintah. Tapi jika pemerintah menyediakan fasilitas, koperasi harus mengejarnya walau sampai ke ujung dunia”, ujar Toyo.

Koperasi telah terbukti dapat membangun ekonomi kerakyatan, hal ini terbukti saat krisis moneter yang melanda bangsa Indonesia pada akhir dekade 90-an yang lalu. Pada saat itu para kalangan ekonom internasional memprediksi Indonesia bangkrut, namun karena kekuatan ekonomi kerakyatan, maka bangsa Indonesia dapat terhindar dari kebangkrutan.

Selain Bupati H. Toyo S Dipo, Lokakarya tersebut juga menghadirkan Awan Santosa, dosen Universitas Mercu Buana Yogyakarta sekaligus peneliti dari Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM. Lokakarya yang dilaksanakan dalam rangka HUT Koperasi yang ke 61 tersebut di ikuti sekitar 125 orang dari kalangan pemerintahan dan praktisi koperasi dari kabupaten kota se DIY.

07 Juli, 2008

BANTUAN SOSIAL RP.445 JUTA DISERAHKAN

BUPATI : Bukan Uang Pribadi Tapi Pemkab

Bantuan sosial yang berasal dari dana APBD Kabupaten Kulonprogo Tahun 2008 meliputi bantuan keagamaan, kepemudaan, kesenian dan ormas diserahkan, Senin (7/7) di Gedung Kaca.

Bantuan secara simbolis diserahkan Bupati Kulonprogo H. Toyo Santoso Dipo kepada tujuh orang perwakilan penerima. Turut hadir Asisten Pembangunan Ir.H.Agus Anggono, Kadinas Kebudayaan dan Pariwisata Drs.Bambang Pidegso,M.Si.

Asisten Pembangunan Ir.H.Agus Anggono menjelaskan bantuan sosial yang bersumber dari APBD Kulonprogo 2008 jumlah keseluruhan Rp.445.650.000,- diperuntukkan 116 tempat ibadah sejumlah Rp.135.250.000,-, tujuh Desa Binaan Keluarga Sakinah (DBKS) Rp.7 juta, 8 Pondok Pesantren sejumlah Rp.65,5 juta, 26 kelompok pemuda dan karang taruna se-Kecamatan Girimulyo Rp.24 juta, 137 kegiatan pemuda dan olah raga Rp.110,9 juta, Kwarcab Pramuka Rp.50 juta, PEPADI Rp.7,5 juta, empat orang Sarjana Penggerak Pembangunan Pedesaan (SP3) Rp.10 juta, dan Rp.35,5 juta untuk 19 group kesenian serta dua kegiatan upacara adat

Bupati Kulonprogo H. Toyo Santoso Dipo menegaskan bantuan yang diberikan bukan berasal dari pribadinya atau dari siapapun termasuk anggota DPRD, tetapi berasal dari anggaran pemerintah kabupaten yang berarti uang rakyat.

Hal tersebut berulang kali dikatakan menginggat banyaknya laporan yang diterima Bupati adanya ulah segelintir orang yang memberikan informasi keliru yang bertujuan untuk kepentingannya menjelang Pemilu 2009 mendatang.

Ditambahkan kepada para penerima bantuan, dimanfaatkan sesuai dengan permintaan dalam proposal sehingga tidak terjadi penyimpangan yang akhirnya akan berurusan dengan pihak berwajib. ”Jangan ada penyimpangan dalam melaksanakan bantuan, kalau untuk membangun mushola ya gunakan untuk membangun musola, jangan untuk kepentingan pribadi, daripada harus berurusan dengan polisi, kalau merasa ada penyimpangan sebelum ketahuan cepat dikembalikan,”pintanya.

04 Juli, 2008

SENAM DAN JALAN SANTAI HARI KOPERASI

Dalam rangka memeriahkan Hari Koperasi ke 61 tahun 2008 . Panitia Kabupaten Kulonprogo menyelenggarakan kegiatan Senam Massal dan Jalan Santai. Kedua kegiatan berlangsung Jum'at (4/7). Senam di Alun-Alun Wates sedangkan Jalan santai mengelilingi kota Wates.
Bupati Kulonprogo, H.Toyo Santoso Dipo, Wabup Drs.H.Mulyono, Ketua DPRD Drs.Kasdiyono Muspida turut serta disamping para karyawan pemkab, Polri, Kodim dan masyarakat umum.
Peserta jalan santai disediakan ratusan hadiah doorprize yang diundi setelah usai acara.

PENYEBAB PERCERAIAN TERTINGGI KARENA SELINGKUH

Banyaknya kasus perceraian di Kabupaten Kulonprogo disebabkan karena selingkuh. Alasan tersebut menjadi factor dominan dalam setiap adanya penyebab keretakan rumah tangga yang berujung perceraian.

Bupati Kulon Progo, H.Toyo Santoso Dipo mengatakan hal itu, menanggapi adanya permohonan tanda tangan perceraian dari para PNS yang sering terjadi di lingkup karyawan Pemda.

“Banyaknya perceraian disebabkan adanya salah satunya karena selingkuh, namun demikian kalau surat permohonan ke Saya perceraian itu ditanda tangani, saya tidak mau, soalnya kasihan dengan anak-anaknya yang jadi korban dan Bupatinya ikut menanggung dosa karena menyetujui perceraiannya, jadi jangan harap akan saya tanda tangani ” kata Toyo.

Sesuai dengan data di Bawasda maupun BKD Kulonprogo, kasus perceraian para PNS kebanyakan dilakukan oleh para pendidik atau guru.

03 Juli, 2008

SARESEHAN DESA BUDAYA

Harus Membawa Manfaat dan Kesejahteraan

Untuk meningkatkan kemampuan SDM pengelola Desa Budaya di Kabupaten Kulonprogo. Dinas Kebudayaan Propinsi DIY bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kulon Progomenggelar Saresehan sehari dengan tema Nilai-nilai Budaya Jawa sebagai Landasan Pembangunan untuk mewujudkan masyarakat Yogyakarta Ayom-Ayem, Tata Tentrem, Karta Raharja.

Saresehan diikuti 100 peserta dari perwakilan 10 desa budaya di buka Sekda Drs.H.So’im,MM, di Gedung Kaca, Kamis (3/7). Dengan menampilkan pembicara Budayawan Ir.H.Yuwono Sri Suwito tentang Kearifan Lokal sebagai dasar pembangunan, Dosen Fakultas Ushuludin UIN Sunan Kalijaga Drs.Mohammad Damami M.Ag, tentang Manajemen Pengelolaan Desa Budaya dan Kabid Bina Program Dinas Kebudayaan Propinsi DIY Ir.H.Nuk Prasetyo,MM dengan materi Desa Budaya Komponen pembentuk predikat DIY pusat budaya terkemuka.

Bupati Kulonprogo H Toyo Santoso Dipo dalam sambutan tertulis yang dibacakan Sekda Drs.H.So’im,MM mengatakan setelah terbentuk desa budaya adalah menjadi desa wisata. Banyak hal yang perlu disiapkan baik fisik maupun non fisik. Fisik mudah diantisipasi seperti fasilitas transportasi, akomodasi sementara non fisik sulit seperti kesiapan sosial psykologis dari masyarakat. ”Walaupun jalan menuju terciptanya desa wisata relatif masih jauh namun perlu dipersiapkan matang, tidak merugikan masyarakat tetapi harus mampu membawa kemanfaatan atau kesejahteraan,”harapnya.

Menurut Kasie Adat Subdin Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kulonprogo, Drs.Yudono Hindriatmoko, jumlah desa budaya sesuai SK Gubernur DIY sejumlah 10 desa meliputi Desa Pagerharjo Kecamatan Samigaluh, desa Jatimulyo Kecamatan Girimulyo, desa Banjarharjo Kecamatan Kalibawang, desa Tanjungharjo Kecamatan Nanggulan, desa Sendangsari Kecamatan Pengasih, desa Sukoreno Kecamatan Sentolo, desa Sidorejo Kecamatan Lendah, desa Brosot Kecamatan Galur, desa Hargomulyo Kecamatan Kokap dan desa Glagah Kecamatan Temon. Untuk memberikan motivasi kepada desa-desa budaya, dalam bulan Agustus mendatang akan dilakukan Lomba Desa Budaya dengan peserta lima desa. Penilaian direncanakan Kamis (7/8) untuk Desa Pagerharjo Samigaluh, desa Jatimulyo Girimulyo, dan desa Banjarharjo Kalibawang dan Kamis (14/8) desa Sendangsari Pengasih dan desa Hargomulyo Kokap.

02 Juli, 2008

Pengurus PSTI Kulon Progo Dikukuhkan

Pengurus Persatuan Sepak Takraw Indonesia (PSTI) DIY Cabang Kulon Progo untuk masa bhakti 2008-2011 dikukuhkan. Pengukuhan dan pengambilan janji pengurus baru dilaksanakan Rabu (2/7), di Gedung Kaca komplek pemkab oleh Ketua Umum PSTI DIY Drs. Sukamto. Pelantikan juga dihadiri oleh Bupati Kulon Progo H. Toyo Santoso Dipo, Ketua DPRD Kulon Progo Drs. H. Kasdiyono, Ketua Umum PSTI DIY Drs. Sukamto, Ketua KONI Kulon Progo Drs. Djuwardi, Muspida, pengurus dan atlet sepak takraw Kulon Progo.

Pengurus PSTI masa bhakti 2008-2011 menggantikan pengurus lama dengan beberapa perubahan personel yang terjadi. Susunan pengurus terdiri atas, Ketua Umum Arif Sudarmanto, SH, Ketua I,II dan III masing masing : Drs. Sugeng, Drs. Sumiran dan Drs. Indriyanto, Sekretaris Umum Heri Darmawan, Sekretaris I dan II, Tumirah Rahayu,SIP dan Yuliana, SPd, Bendahara I dan II, Drs. Wasih Udiharto dan Sukardi,SPd. Kepengurusan juga di bantu oleh lima bidang yang lain yaitu, Bidang pembinaan prestasi, Bidang Perwasitan pertandingan, Bidang Litbangmas, Bidang Organisasi dan Bidang humas dan usaha dana.

Sementara itu, Bupati Kulon progo H. Toyo Santoso Dipo mengucapkan selamat atas pengukuhan pengurus baru PSTI. Bupati juga merasa bangga dengan prestasi maupun kaderisasi di sepak takraw. Karena kebanyakan atlet sepak takraw masih berusia muda.

Hal itu menujukkan bahwa pengurus sangat memperhatikan pendidikan bagi generasi muda. Dimana generasi generasi muda merupakan generasi penerus yang harus mendapatkan fasilitas dan perhatian. ”Dengan perhatian tersebut generasi muda akan memiliki kegiatan dan bisa menciptakan prestasi sesuai dengan kemampuan yang dimiliki,” katanya.

Disisi lain, bupati juga mengharapkan agar porsi kaum perempuan baik sebagai pengurus maupun atlet bisa ditambah. Sesuai dengan jumlah penduduk di Kulon Progo yang saat ini juga lebih banyak kaum perempuannya. Hal tersebut akan semakin baik dan bisa menambah kesempatan bagi kaum perempuan. Namun PSTI yang sudah baik itu singkatannya jangan diganti, karena kalau Indonesianya diganti Nasional singkatanya bisa menjasi PERSETAN yang bisa berarti tidak peduli, lanjutnya berkelakar.

01 Juli, 2008

Bupati Harapkan Atlet Kulon Progo Tetap Perkuat Daerah

Bupati Kulon Progo H. Toyo Santoso Dipo berharap kepada atlet-atlet olahraga daerah untuk bisa memiliki komitmen memperkuat daerahnya di semua even olahraga. Hal ini sebagai bentuk komitmen dan kepedulian atlet terhadap perkembangan dan pembangunan di daerah. Dengan demikian, prestasi yang dicatatkan akan mampu memberikan citra positif bagi daerah sekaligus mempromosikan daerah ke dunia luar.

Meskipun sering terjadi seorang atlet berprestasi harus memperkuat daerah lain yang bisa memberikan kesejahteran sebagaimana yang diharapkan. Namun bagi daerah, segala bentuk prestasi yang diberikan akan memberikan sebuah contoh terutama generasi penerus untuk terus menciptakan prestasi.

Hat tersebut dikatakan Bupati Toyo Santoso Dipo Selasa (1/7) saat menerima audensi atlet PON Yogyakarta dari Kulon Progo untuk cabang olahraga panahan dan bola voli di Gedung Kaca komplek pemkab. Audensi tersebut juga diikuti oleh Sekda Kulon Progo Drs. So’im, MM, Assek I Drs. Sutedjo Wiharso, Kepala Dindiknas Mastur,BA, Kabag Kesra Arif Sudarmanto, SH serta para atlet.

Generasi penerus menjadi permasalahan yang saat ini muncul karena untuk cabang olahraga panahan kebanyakan atletnya sudah tua. Namun saat ini belum muncul atlet muda yang bisa menjadi penerus dan mengukirkan prestasi di even-even olahraga yang ada. “Kami harapkan KONI dan Dinas pendidikan untuk bisa mengkoordinasikan hal ini. Selanjutnya, Dinas Pendidikan bisa terus menyelenggarakan pekan olahraga bagi siswa sekolah sebagai salah satu langkah untuk terus menciptakan prestasi di olahraga,” katanya.

Selanjutnya, dengan memberikan pendidikan olahraga kepada generasi muda sekaligus memberikan wadah kepada generasi muda untuk mengekpresikan diri. Karena kalau genrasi muda tidak punya media untuk mengekpresikan bakatnya dikhawatirkan bisa berkembang ke arah tindakan yang tidak positif. Yang nantinya bisa menimbulkan permasalahan tersendiri bagi daerah dalam rangka melaksanakan pembangunanya.

Sementara itu, ada 7 orang atlet dari cabang olahraga panahan yang akan mewakili DIY di Pekan Olahraga Nasional (PON) di Kalimantan Timur tanggal 5-17 Juli 2008 adalah Esti Istiqomah dan Sukasih (Kulon Progo), Supadmi, Rahmat Sulistiawan, Cipto Sapto Wibowo dan Winarno (Bantul). Sedangkan seorang atlet PON Kulon Progo untuk cabang bola voli Martono, sudah mendahului berangkat ke Kaltim.

30 Juni, 2008

PESERTA TFM PRAKTEK LAPANGAN DI 6 DESA

Sebanyak 34 peserta pelatihan tentang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang tergabung dalam Tim Fasilitator Masyarakat (TFM) gelombang II tingkat regional III mengadakan praktek lapangan di Kulonprogo sejak Minggu (29/6) hingga Kamis (24/7) mendatang. Peserta merupakan perwakilan dari kabupaten wilayah /regional III meliputi kabupaten Kulon Progo dan Gunung Kidul Propinsi DIY, kabupaten Wonogiri, Rembang, Cilacap dan Banjarnegara Propinsi Jawa Tengah, Kabupaten Sambas dan Ketapang Propinsi Kalimantan Barat masing-masing empat peserta. Lokasi praktek lapangan di enam desa meliputi desa Margosari dan desa Sidomulyo Kecamatan Pengasih, desa Sukoreno, Tuksono, Kaliagung Kecamatan Sentolo dan desa Tanjungharjo Kecamatan Nanggulan.

Sebelum ke lokasi peserta mengadakan audiensi dengan Bupati Kulonprogo H. Toyo Santoso Dipo di Gedung Kaca Pemkab, Senin (30/6). Turut hadir Kasubdit Kelompok Bermain, Direktorat PAUD Depdiknas Widarmi Wijana, Kadinas Pendidikan Kabupaten Kulonprogo Muh.Mastur,BA. dan Ketua Tim penggerak PKK Kabupaten Ny.Wiwik Toyo Santoso Dipo.

Widarmi menjelaskan praktek lapangan yang dilaksanakan merupakan realisasi dari pelatihan secara teori yang telah dilaksanakan selama empat minggu sebelumnya. Dengan teori dan praktek peserta yang lulus selanjutnya kembali ke daerah asalnya dapat mempraktekkan ilmu yang diperoleh untuk dikembangkan di daerahnya.

Sementara Bupati H.Toyo Santoso Dipo mengatakan bahwa pemerintah Kabupaten memberi perhatian serius terhadap PAUD. Bantuan yang telah terwujud berupa gedung PAUD, Laboratorium serta alat-alat edukatif. Hal ini menginggat dasar pendidikan yang utama sudah harus terbentuk sejak anak usia dini. Tingkat kecerdasan, bahkan sopan santun anak sangat dipengaruhi oleh keberhasilan dari PAUD.

28 Juni, 2008

Soal Alih Status Desa Wates, Masyarakat Hanya Butuh Kejelasan

Sampai saat ini masih terjadi tarik ulur tentang alih status Desa Wates yang akan berubah menjadi Kelurahan. Karena pemahaman masyarakat tentang dampak dari adanya perubahan tersebut masih belum jelas. Apakah dengan perubahan tersebut percepatan pembangunan benar-benar bisa dilaksanakan seperti dalam sosialisasi-sosialisasi yang dilakukan. Atau hanya sekedar ungkapan agar alih status tersebut dapat segera dilakukan.

Masyarakat hanya butuh kejelasan apa maksud dari percepatan pembangunan, perbaikan pelayanan dan semua bentuk bantuan yang akan disampaikan ke masyarakat Desa Wates. Karena percepatan pembangunan yang disampaikan dalam sosialisasi tak pernah dijelaskan seperti apa mekanismenya sehingga pembangunan bisa lebih baik dari pembangunan yang selama ini telah dilakukan oleh masyarakat.

Demikian dikatakan oleh salah seorang warga Desa Wates Cahyono, Sabtu (28/6), dalam sosialisasi Rencana alih status Desa Wates menjadi Kelurahan di Gedung Kaca komplek pemkab. Sosialisasi tersebut dihadiri oleh Bupati Kulon Progo H. Toyo Santoso Dipo, Assek I Drs. Sutedjo Wiharso, Assek III Muqodas Rozie,SH, Kabag Pemdes Setda Kulon Progo Drs. Riyadi Sunarto, para pejabat eksekutif pemkab dari instansi yang lain serta warga Desa Wates.

Pembangunan yang selama ini dilakukan, lanjut Cahyono, sudah berjalan dengan baik. Bahkan, seperti halnya pelayanan ke masyarakat di Desa Wates lebih baik daripada di Kecamatan. “Jadi percepatan pembangunan yang dimaksudkan dalam sosialisasi itu seperti apa dan kapan bisa dilaksanakan ? Begitu juga dengan peningkatan pelayanan sebenarnya perubahan alih status tersebut untuk merubah menjadi lebih baik atau malah sebaliknya,” tanya Cahyono.

Disisi lain, Cahyono juga mengingatkan tentang masih minimnya perhatian pemkab terhadap upaya pembangunan di masyarakat. Hal itu dibuktikan dengan minimnya dukungan yang diberikan pemkab pada saat Pedukuhan Wetan Pasar yang berhasil mewakili DIY dalam lomba kebersihan yang bertajuk ‘Yogyakarta Gren and Clean”. “Kami maju lomba di tingkat Propinsi membawa nama Kulon Progo namun dukungan dari pemkab seakan tidak maksimal. Masak truk pengangkut sampah yang kami datangkan bekerjanya juga tidak maksimal, padahal sudah kami beri ongkos bensin dan rokok,” tandasnya.

Sementara itu, Bupati Kulon Progo H. Toyo Santoso Dipo menjelaskan bahwa mekanisme pembangunan di era otonomi daerah menggunakan sistem ‘buttom up planing’. Yaitu, pembangunan yang didasarkan pada usulan masyarakat sebagai dasar untuk menentukan kebijakan pembangunan. Yang selama ini telah ditampung dalam Musbangdus, Musbangdes dan juga Musrenbang. “Jadi karena keterbatasan dana serta mekanisme yang saat ini ada mungkin menjadikan keinginan masyarakat yang mendadak menjadi tidak bisa diakomodir. Karena kalau tidak melalui mekanisme yang ada kami selalu pemrintah juga akan mendapatkan teguran seperti, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) atau Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK),” katanya.,

Sedangkan perbaikan pelayanan yang dimaksudkan jelas arahnya kepada perbaikan dari pelayanan yang selama ini telah dilakukan. Jadi kalau orang normal, tentu berfikir perbaikan pelayanan jelas dimaksudkan untuk memperbaikai pelayanan dari yang selama ini ada dan belum maksimal. Tidak mungkin peningkatan pelayanan malah akan menurunkan kualitas pelayanan yang selama ini telah dilakukan, lanjutnya.

Di sisi lain, Bupati menegaskan bahwa segala permasalahan yang menyangkut permasalahan pelaksanan pemerintahan bisa disampaikan langsung kepada bupati melalui media yang ada. Seperti, melalui surat, Telepon atau SMS. “Pada prinsipnya kami siap 24 jam dan semua permasalahan pelaksanaan pemerintahan bisa disampaikan ke kami. Seperti kalau ada truk pengangkut sampah yang masih meminta uang bensin dan rokok laporkan langsung saja ke kami pasti akan kami tindak lanjuti,” katanya.

TK ABA Diponegaran Lepas 19 Siswa

Taman Kanak-Kanak Aisyiyah Bustanul Atfal (TK ABA) Diponegaran yang berlokasi di Pedukuhan Dukuh, Desa Bumirejo, Kecamatan Lendah, melepas 19 siswa yang dinyatakan lulus. Pelepasan dilakukan Kamis (26/6) di kompleks TK setempat yang dimeriahkan dengan pentas seni dan pembagian hadiah bagi siswa berprestasi. Menurut Kepala TK ABA Diponegaran Rukiyem, pada tahun ajaran 2007/2008 jumlah siswa sebanyak 39 anak, yang terdiri dari 19 siswa B2 dan 20 B1. Seluruh siswa B2 dinyatakan lulus, dan tahun ini siap menerima 20 anak untuk duduk di kelas B1. Dikatakan, untuk menunjang pendidikan siswa, selain melaksanakan pelajaran pokok TK ABA Diponegaran menyelenggarakan beberapa pelajaran ekstrakurikuler yakni melukis, menggambar, menari dan drumband. ”Tahun ini prestasi siswa yang paling menonjol adalah juara I tingkat Provinsi DIY di bidang melukis yang diraih oleh Henri,” tutur Rukiyem.