10 Mei, 2008

PENUTUPAN DIKLAT DHARMAIS

Dalam Usaha Diperlukan Hong Sui, Hoki, Hoping dan Hocwan

Bupati Kulon Progo H. Toyo Santoso Dipo mengharapkan Diklat yang dilaksanakan oleh Yayasan Dharmais mampu menjadi bekal dan pengalaman dalam mengelola usaha dengan lebih baik, karena dalam pelatihan telah diberikan berbagai kiat-kiat jitu yang dapat untuk mengembangkan usaha.Dengan ketekunan dan keuletan didukung dengan jiwa kemandirian dan motivasi yang kuat, seseorang akan berhasil dalam usahanya.

Hal tersebut dikatakan Toyo dalam sambutan tertulis yang dibacakan Asisten Pembangunan Setda, Ir.H.Agus Anggono dalam Penutupan Pendidikan dan Latihan Pesantren Singkat Usaha Produktif angkatan I tahun 2008 di Balai Diklat Yayasan Dharmais Sendangsari Pengasih, Sabtu (10/5).

“Dalam menjalankan usaha yang perlu mendapatkan perhatian adalah pertama Hong Sui yang mengandung lima syarat yakni tepat memilih focus bisnis, tepat memilih wilayah pasar, segemen pasar, startegi bisnis dan lokasi pusat kegiatan, kedua hoki yaitu adanya peluang untung kecil-kecilan, ketiga Hoping yaitu menerapkan 3 jalinan menjalin pertemanan dengan mitra kerja, menjalin kepercayaan dengan mitra kerja dan menjalin kepercayaan pelanggan dan keempat Hocwan merupakan sukses besar yang perlu ditindak lanjuti dengan 4 prinsip harmoni yakni menjaga hubungan baik dengan pelanggan, menjaga hubungan baik dengan teman seprofesi dan pihak yang punya posisi, menjaga hubungan baik dengan lingkungan dan dengan penguasa,”katanya.

Di tambahkan usaha yang dilakukan akan mampu mengurangi pengangguran yang sekarang masih banyak akibat kondisi Negara yang belum stabil. Dengan mengubah pola pikir masyarakat yang selama ini bahwa bekerja adalah menjadi karyawan suatu perusahaan harus dihilangkan dengan berusaha menciptakan lapangan kerja

Sementara Pjs. Kepala Dharmais, Bari HPdalam laporannya mengatakan peserta diklat sejumlah 40 orang telah mengikuti pelatihan tentang ketrampilan jahit menjahit, tata boga dan tata busana, berlangsung sejak Selasa (18/3).

09 Mei, 2008

Warga Taruban Gelar Tayub

Dalam rangka upacara tradisi bersih desa dan luwaran, warga Pedukuhan Taruban Wetan dan Taruban Kulon, Sabtu (10/5) akan menggelar kesenian tayub. Tradisi yang sudah berlangsung rutin setiap tahun itu akan digelar di rumah Dukuh Taruban Wetan, semalam suntuk.

Menurut ketua panitia AG Suryadi, upacara bersih desa dan luwaran merupakan tradisi utuk mengenang jasa tokoh desa tersebut, Ki Gede Tarub. Menurut kepercayaan warga setempat, Ki Gede Tarub adalah seorang tokoh sakti yang mempelopori Desa Taruban. Saat akan meninggal ia berpesan agar warga Taruban mau melestarikan kebiasaan yang dilakukannya, yakni nanggap tayub setelah usai panen padi.

Selain pagelaran tayub, ujar Suryadi, sebagai rangkaian upacara bersih desa, pada Minggu (11/5) akan dilaksanakan kirab sesaji dari rumah Dukuh Taruban Wetan ke Sendang Kamulyan dan makam Ki Gede Tarub. Sendang Kamulyan adalah sumber air yang tak pernah kering sepanjang tahun. Sendang itu sejak jaman dahulu dianggap sebagai tempat keramat oleh warga dan merupakan satu-satunya sumber air bila wilayah desa itu mengalami kekeringan.

Ditambahkan, sebagai kegiatan pendukung juga akan dilakukan pameran seni lukis dan tanaman hias, basar sembako, pasar malam, pertandingan bola voli serta pameran lukisan berukuran 4 x 7 meter.

MINIM SISWA ASAL KULONPROGO BELAJAR DI SMKI

Untuk Menjaring Siswa Baru Sekolah Akan Lakukan Sosialisasi

Kepala Sekolah SMK Negeri 1 Kasihan Yogyakarta, Drs.Sunardi mengatakan sejak 1961 hingga sekarang baru tercatat 50 lulusan siswa asal Kulonprogo. Padahal para lulusan sekolah ini mampu menghasilkan orang –orang terkenal di bidang seni baik sebagai dalang maupun seniman dan penari. Bahkan dengan keahlian memainkan salah satu alat musik gamelan saja mampu terbang ke berbagai mancanegara.Tercatat beberapa nama alumni SMKI yang telah dikenal luas masyarakat seperti dalang kondang Ki Suranto, MC Nonot Sebastio yang keduanya asal Sentolo, pelatih Angguk Sri Lestari Kokap Wuryanti dan seorang seniman yang sekarang tinggal di Kanada.

Hal tersebut dikatakan Sunardi dalam Audiensi dengan Bupati Kulonprogo di Ruang Rapat Sekda, Jum’at (9/5). Dalam kesempatan tersebut Kasek SMKI diterima Sekda, Drs.H.So’im,MM mewakili Bupati Kulonprogo.Turut hadir Asek II Ir.H.Agus Anggono, Kadinas Pendidikan Muh Mastur,BA, Kabag Kesra Arief Sudarmanto,SH, Ka Kant Humas Drs.R.Agus Santosa, Kasubdin Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Drs.Sigit Wisnutomo dan Kasie Adat dan Kesenian Disbudpar, Drs.Yudono Hidriatmoko.

“Menggingat keberadaan sekolah yang telah mempunyai banyak fasilitas yang disediakan oleh negara dan juga disediakan beasiswa sehingga sangat dimungkinkan biaya sekolah siswa sedikit sekali, diharapkan dalam tahun ajaran baru yang tinggal menghitung hari, dengan bantuan pemkab untuk sosialisasi di lingkungan sekolah –sekolah, banyak lulusan siswa SMP di Kulonprogo untuk mau melanjutkan sekolah dengan mendaftarkan di SMK N 1, yang pada akhirnya dapat memperbanyak seniman yang berpendidikan formal di kabupaten Kulonprogo,”jelas Sunardi.

Hal senada dikatakan Kasie Adat dan Kesenian Disbudpar Kulonprogo, Drs.Yudono Hindriatmoko yang mengakui minimnya seniman yang berpendidikan formal asal Kulonprogo dibanding daerah lain, sehingga setiap adanya even kegiatan seni seperti Festival Sendratari kesulitan untuk mencari pemain.

Sementara Sekda, Drs.H.So’im,MM menyambut baik keinginan sekolah untuk melakukan sosialisasi sehingga banyak lulusan sekolah di Kulonprogo banyak belajar melanjutkan sekolah di SMK N 1, yang pada akhirnya Kulonprogo tidak kekurangan seniman. Diharapkan sosialisasi selain dilakukan secara tradisional dengan sedikit menampilkan karya lulusan seperti tari, karawitan untuk meyakinkan siswa yang punya minat mendaftar juga dapat dilakukan melalui Teknologi Informasi (TI) sesuai era kemajuan zaman yang sekarang anak sekolah SMP telah banyak mengakses di tempat siswa belajar.

08 Mei, 2008

SOSIALISASI PENGEMBANGAN AREAL TEBU RAKYAT

Sektor pertanian termasuk didalamnya bidang perkebunan di Kabupaten Kulonprogo mempunyai pengaruh yang cukup kuat terhadap perkembangan perekonomian dan peningkatan kesejahteraan masyarakat, serta merupakan sector yang paling besar peran kontribusinya dalam pembentukan PDRB dibanding sektor lain. Kondisi tersebut sangat didukung dengan adanya potensi sumberdaya alam yang mempunyai topografi beragam mulai daerah pegunungan, persawahan dan kawasan pesisir.

Hal tersebut dikatakan Wakil Bupati Kulonprogo, Drs.H.Mulyono dalam acara Sosialisasi Pengembangan Pencadangan Areal Tebu Rakyat Musim Tanam 2008/2009 di Gedung Kaca Pemda, Kamis (8/5). Narasumber dari Dinas Pertanian dan Kelautan Subdin Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Kulonprogo, Dinas Kehutanan dan Perkebunan Propinsi DIY dan Pabrik Gula Madu Baru Yogyakarta. Turut hadir Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat Kulonprogo, Ismartoyo, Ketua Koperasi Petani Tebu, Sudadi, para Kepala Desa, dan Cabang Dinas Pertanian dan Kelautanse-Kulonprogo.

“Dari luas total Kulonprogo 58.627 hektar, yang terbagi atas lahan sawah 10.867 hektar, lahan kering 41.639 hektar dan penggunaan lainnya 6.121 hektar, apabila diperhitungkan dengan jumlah KK tani yang ada kepemilikan lahan petani relative sempit, yaitu kurang dari 1.000 M2, maka pemilihan jenis usaha yang benar-benar mampu memberikan tambahan pendapatan terhadap masyarakat tani merupakan hal yang penting sebagai pertimbangan penetapan program,”kata Mulyono.

Ditambahkan, kompetisi komoditas atas dasar nilai ekonomi yang diusahakan oleh masyarakat, menjadi tantangan terhadap komoditas strategis termasuk salah satunya tebu sebagai salah satu bahan baku gula. Sehingga dalam rangka pengembangannya diperlukan upaya-upaya yang mengarah pada peningkatan pendapatan petani tebu, antara lain bentuk –bentuk kerjasama kemitraan dan juga perbaikan aspek budidaya untuk meningkatkan rendemen. Hal ini merupakan wujud dukungan pemkab dalam rangka swasembada gula tingkat nasional di tahun 2010.

“Realisasi areal tanaman tebu di Kulonprogo MT 2007/2008 seluas 612,5 hektar, atau 76,56% dari pencadangan areal untuk MT sebesar 800 hektar, sedang MT 2008/2009 dicadangkan areal sebesar 891 hektar. Diharapkan ada langkah konkret dari PG selaku mitra petani tebu, baik aspek kemitraan maupun aspek budidaya sehingga rencana areal terealisasi dan yang penting pendapatan petani lebih meningkat, sehingga masyarakat tani akan lebih tertarik memilih usahatani tebu,”harap Mulyono.

Sementara General Manager Madu Baru Yogyakarta, Rahmat Edy Cahyono memperkirakan kebutuhan gula masyarakat DIY mencapai 45.000 ton, sedangkan hasil produksi gula dari petani tebu baru mampu memenuhi 38.000 ton. Sehingga masih diperlukan usaha untuk memperluas areal lahan tebu, meski pemerintah dalam tata niaga gula memberikan pajak rendah bagi gula impor.

06 Mei, 2008

Banyak Karyawan Pemkab Enggan Terlibat Pengadaan Barang

Perbandingan yang tidak seimbang antara resiko dengan besarnya kompensasi yang diperoleh panitia pengadaan barang dan jasa, memicu keengganan karyawan pemkab atau instansi pemerintah terlibat dalam proses pengadaan. Banyaknya penilaian tersebut memberikan dorongan pemkab untuk menerapkan sebuah proses pengadaan barang dan jasa yang berbasis komputer (e-procurement).

Karena dengan penggunaan aplikasi komputer panitia pengadaan akan mendapatkan beberapa kemudahan serta menurunkan tingkat resiko dari proses pengadaan. Beberapa kelebihan pengadaan barang yang berbasis komputer diantaranya, memudahkan proses pelelangan dan hubungan dengan rekanan serta menghilangkan proses yang berbelit selama proses pengadaan.

Demikian dikatakan oleh Kepala Kantor Pengelolaan Data Elektronik (KPDE) Drs. Bisono Indrocahyo Selasa (6/5), dalam acara pelatihan calon pelatih layanan pengadaan barang secara elektronik di Gedung Kaca Pemkab. Pelatihan tersebut akan dilaksanakan selama tiga hari yaitu, tanggal 5-7 Mei. Hadir dalam kesempatan tersebut, Sekretaris Daerah Drs.Soim,MM, Kepala BID J. Surat Djumadal, Kepala SKPD terkait serta peserta pelatihan yang lainnya.

Sesuai dengan perencanaan pengadaan barang dan jasa yang berbasis komputer ini akan dilaksanakan efektif di instansi pemerintah pada tahun 2010. Sedangkan untuk tahun 2008-2009 akan memasuki tahap sosialisasi dan uji coba. “Pada masa tersebut panitia pengadaan bisa melihat kelebihan-kelebihan yang diperoleh dengan penggunaan aplikasi tersebut,” katanya.

Saat ini, penggunaan aplikasi ini baru dilaksanakan efektif di dua tempat yaitu, Surabaya dan Bogor. Selanjutnya dua kabupaten/kota di DIY yaitu, Kota DIY dan Kulon Progo akan menyusul. Dengan demikian, Kulon Progo akan menjadi kabupaten yang menggunakan aplikasi ini nomor dua setelah kota dan nomor empat se-Indonesia, sambungnya.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Kulon Progo Drs. Soim,MM menyambut baik pelatihan penggunaan e-procurement di Kabupaten Kulon Progo. Menurut Sekda, penggunaan teknologi berbasis komputer ini sesuai dengan perkembangan jaman dan teknologi yang saat ini sudah mengalami kemajuan yang pesat.

Hal ini juga sejalan dengan semboyan pembangunan di Kulon Progo yaitu, Kulon Progo go international. Karena go international tidak mungkin kita wujudkan tanpa diimbangi dengaan pemahanan teknologi yang memadahi. “Sehingga pengembangan infrastruktur berbasis komputer, memang harus segera dilaksanakan agar efesiensi maupun efektifitas dari kinerja aparat dapat dilaksanakan,” katanya.

RSKB KHARISMA PARAMEDIKA MENINGKAT JADI RSU

Rumah Sakit Khusus Bedah (RSKB) Kharisma Paramedika di Jl.Khudori Wates mengalamai perubahan dan peningkatan pelayanan menjadi Rumah Sakit Umum (RSU). Perubahan tersebut diresmikan oleh Bupati Kulonprogo, H. Toyo Santoso Dipo, Selasa (6/5). Dalam kesempatan tersebut Bupati menyerahkan hadiah lomba yang diselenggarakan dalam memeriahkan peresmian RSU Kharisma Paramedika. Hadir dalam acara , Ketua DPRD Drs.H.Kasdiyono, Muspida, Kepala Dinas Kesehatan dr.Lestaryono, M.Kes.

Direktur Utama RSU Kharisma Paramedika, dr.Salamah menjelaskan berbagai kegiatan dalam peresmian RSU Kharisma Paramedika antara lain Lomba Balita Sehat, Lomba mewarnai dan pagelaran wayang kulit.

Bupati Kulonprogo,H.Toyo Santoso Dipo mengharapkan keberadaan RSU Kharisma Paramedika dapat menambah layanan kesehatan di wilayah kabupaten Kulonprogo, sehingga masyarakat mempunyai banyak pilihan dalam menentukan layanan kesehatan yang diinginkan, yang pada gilirannya ikut andil meningkatkan derajad kesehatan masyarakat.

“Adanya keterbatasan yang dimiliki pemerintah, maka tidak semua program di bidang kesehatan dapat dilakukan oleh pemerintah sendiri, karena itulah peran berbagai pihak, termasuk RSU Kharisma Paramedika, demi peningkatan derajat kesehatan bagi seluruh masyarakat Kulonprogo,”kata Toyo.

Toyo menginggatkan bahwa kadangkala kita ini lupa akan nikmat sehat, tetapi kalau sedang sakit barulah terasa betapa nikmatnya sehat itu. Oleh karena itu gunakanlah saat sehat sebelum sakit untuk kegiatan-kegiatan positif yang bermanfaat, tetapi secara preventif janganlah lupa menjaga kesehatan dengan sebaik-baiknya dan secara kuratif apabila sakit segeralah berobat.

05 Mei, 2008

Kunker DPD RI di Kulon progo

Pengangkatan CPNS dari Sekolah Swasta Tinggalkan Masalah

Banyaknya tenaga guru dari sekolah swasta yang diangkat menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) daerah meninggalkan permasalahan bagi sekolah swasta sendiri. Karena guru-guru swasta yang diangakat menjadi CPNS tersebut biasanya ditempatkan di sekolah-sekolah negeri. Sehingga sekolah swasta menjadi kekurangan tenaga guru.

Padahal, sekolah swasta juga menpunyai komitmen yang sama dengan sekolah-sekolah Negeri. Yaitu, ingin turut serta mencerdaskan kehidupan bangsa menjadi bangsa yang cerdas dan maju. Akibatnya, sekolah-sekolah swasta harus menjerit karena harus kehilangan tenaga pengajarnya yang diangkat menjadi CPNS.

Demikian dikatakan salah seorang Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia (RI) Drs. H. Aliwarsito saat melaksanakan Kunjungan Kerja (Kunker) Senin (5/5) di Kabupaten Kulon Progo. Pada kesempatan itu, Drs. H. Aliwarsito hadir bersama dengan anggota DPD yang lain, Drs. H. Abdul Hafidh Asrom dan beberapa stafnya. Rombongan diterima secara resmi oleh Bupati Kulon Progo H. Toyo Santoso Dipo yang didampingi, Assek I Setda Drs. H. Sutedjo Wiharso, Kepala Diknas Moh Mastur,BA, Kakandepag Syahrowardi serta beberapa staf lainnya.

Hal tersebut terjadi di sekolah-sekolah swasta seperti yayasan Bopkri, Muhammadiyah dan yang lain. Diharapkan, pemkab bisa memberikan solusi terhadap permasalah ini sehingga sekolah-sekolah swasta tetap bisa eksis dan ikut serta dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. “Paling tidak penempatan guru sawsta ini bisa fifty-fifty, sebagian ditempatkan di negeri dan sebagian lagi tetap di sekolah-sekolah swasta,” katanya.

Selain memantau perkembangan pembangunan di Kabupaten Kulon Progo, kunker tersebut juga bertujuan untuk penyerapan aspirasi dari masyarakat maupun pemkab Kulon Progo di berbagai bidang yang lain. Meliputi, Kesehatan, Agama, Sosial, pengembangan Sumber Daya Manusia (SDA) maupun Sumber Daya Ekonomi (SDE) di Kabupaten Kulon Progo. Selanjutnya, aspirasi tersebut akan digunakan sebagai usulan untuk menentukan kebijakan pembangunan bagi pengembangan Kabupaten Kulon Progo.

Sementara itu, Bupati Kulon Progo mengungkapkan bahwa sesungguhnya pengangkatan dan penempatan CPNS khususnya guru tidak seperti yang dibayangkan. Karena kenyataan yang terjadi banyak pula sekolah swasta yang kelebihan guru. Sehingga jam mengajar bagi guru-guru swasta menjadi berkurang.

Hal ini disebabkan, sekolah swasta juga mempunyai wewenang untuk mengangkat tenaga guru sesuai dengan kebijakan sekolah. Sehingga ada kejadian jumlah guru menjadi tidak rasional dengan jumlah siswa yang dimiliki. “Untuk itu, saya minta agar jumlah guru ini dirasionalkan agar tidak terjadi pengurangan jam mengajar guru dengan adanya pengangkatan guru yang baru,” kata Bupati.

Di sisi lain, Bupati mengatakan bahwa sampai dengan saat ini Kulon Progo memang telah menempuh berbagai kebijakan pembangunan. Seperti, pembangunan dermaga, penguatan modal melalui LKM, rencana pembangunan bandara maupun penambangan pasir besi.

MoU DENGAN PEMKOT BATAM

Untuk Memperluas Pemasaran Produk Kulon Progo

Penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Pemkab Kulon progo dengan Pemkot Batam Provinsi Riau merupakan langkah strategis untuk memperluas pemasaran produk warga Kulon Progo. Karena saat ini Batam merupakan pintu ekspor ke-3 setelah Jakarta dan Bali dan di masa mendatang diyakini akan menjadi pintu ekpor utama bagi Indonesia.

Demikian dikatakan Bupati H Toyo Santosa Dipo saat konferensi pers dengan wartawan dariberbagai media yang bertugas di Kulon Progo, Sabtu (3/5) di gedung Joglo Pemkab. Acara tersebut dihadiri oleh Wakil Ketua II DPRD Drs Sudarto dan segenap pejabat Pemkab.

Langkah ini, tambah Toyo, merupakan kebijakan makro yang berorientasi jangka panjang. Sehingga hasilnya belum akan terlihat dalam waktu dekat. Namun demikian, kata dia, melihat potensi Batam diyakini akan menguntungkan Kulon Progo. “Dan ini merupakan langkah Pemkab untuk menyongsong jaman, bukan sekedar ngintil. Sebab kalau selamanya hanya ngintil Kulon Progo akan sulit maju,” tandasnya.

Mengenai rencana pendirian trading house di kota tersebut, Toyo menjelaskan, itu merupakan upaya untuk mendekatkan produk Kulon Progo kepada konsumen internasional. Dikatakan, selaku institusi Pemkab Kulon Progo mendapat kesempatan untuk membeli lahan di Batam dengan harga murah dari Otorita Batam. Setiap 1 meter persegi hanya dihargai Rp. 10.000,-. Padahal harga umum mencapai Rp. 1 juta, ujarnya.

Dikatakan, perajin Kulon Progo mengalami stagnasi pemasaran sangat hebat saat terjadi peristiwa bom Bali beberapa waktu lalu. Saat itu banyak produk perajin hanya tertumpuk di gudang perajin dan tak bisa dipasarkan. Karena Bali sebagai satu-satunya pintu ekspor bagi produk Kulon Progo aktivitas ekspornya terhenti.

Dengan merintis pemasaran di Batam, masih kata Toyo, selain dapat meningkatkan volume penjualan barang juga dapat berfungsi untuk membagi resiko saat pintu ekspor yanglain mengalami kemacetan. Sehingga kontinyuitas ekspor akan tetap terjaga.

“Beberapa pedagang dan pengepul barang sering mengajukan permintaan agar Pemkab memperluas pamasaran berbagai jenis produk yang ada di Kulon Progo. Dan ini merupakan kesempatan yang harus mendapat dukungan semua pihak,” pinta Toyo.

Lebih jauh Toyo menjelaskan, Nota Kesepahaman yang ditandatanganinya bersama Walikota Batam Ahmad Dahlan belum merupakan pwerjanjian kerja sama. Sehingga belum mempunyai akibat-akibat hukum bagikedua belah pihak.

“Oleh karenanya Pemkab belum perlu mendapat persetujuan DPRD. Nanti kalau sudah meningkat menjadi perjanjian kerja sama baru kami wajib mendapat persetujuan dewan, agar tidak melanggar hukum,” tandasnya.

Meski dmikian, Toyo berjanji selama 2 tahun berlakunya MoU pihaknya segera akan melakukan aksi riil dalam berbagai bentuk seperti yang tercantum dalam naskah Mou. Yaitu bidang promosi, investasi, perindustrian dan perdagangan, bidang pariwisata dan kebudayaan, bidang penddidikan, ilmu pengetahuan dan ketenagakerjaan, bidang pertanian dan kelautan serta bidang-bidang lain yang disepakati kedua belah pihak, imbuhnya.

SERTIJAB KEPALA BKD DAN ARSIP

Drs.Djulistyo, Plt Kepala BKD, Drs.Marsinggih Plt Kepala Kantor Arsip

Kepala Bidang Perencanaan dan Pengembangan Pegawai Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kulonprogo, Drs.Djulistyo sebagai Pelaksana tugas (PLt) Kepala BKD setelah Drs.H.Moch Maknun, mulai 1 Mei memasuki purna tugas, dan Kasubag Tata Usaha Kantor Arsip, Drs.Marsinggih sebagai PLt Kantor Arsip menginggat pejabat lama Dra. Harmintarti,MM dimutasi sebagai Camat Pengasih.

Acara serahterima jabatan kedua pimpinan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) BKD dan Arsip berlangsung di Joglo Pemkab, Senin (5/5). Hadir Bupati Kulonprogo, H.Toyo Santoso Dipo, Wakil Bupati Drs.H.Mulyono, Sekda, Drs.H.So’im,MM, para asisten Sekda, serta beberapa pejabat dilingkup pemkab.

Dalam kata sambutannya Moch Maknun masih selalu ingat dan merasakan adanya perlakuan yang tidak semestinya dari anggota dewan, sebelum memangku jabatan kepala BKD masih di bagian pemerintahan yakni tentang pembahasan Laporan Pertanggungjawaban Bupati (LKPJ) yang semestinya sebagai bawahan seharusnya yang bertindak adalah Bupati. “Dalam menjalankan tugas selama ini yang masih selalu saya ingat adalah sewaktu dimarahi DPRD, terkait LKPJ, kalau yang memarahi DPRD saya tidak terima, tetapi kalau Bupati saya terima karena saya adalah bawahannya,” kata Maknun.

Di bagian lain Maknun, menjelaskan masih banyaknya tugas di Kepegawaian yang belum tuntas, diantaranya pengangkatan CPNS 2007 dan peraturan bupati tentang pengaturan guru negeri di sekolah swasta, yang siswanya sangat minim, terutama tingkat SMP, yang apabila diberlakukan sistem regrouping SD maka sekolah SMP swasta akan habis.

Bupati Kulonprogo H Toyo Santoso Dipo mengucapkan terima kasih atas kerja keras dan ketelitian dalam pengelolaan kepegawaian terutama penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil yang dapat berjalan baik. Dalam kaitannya dengan guru negeri di sekolah swasta, memang diperlukan ketegasan sehingga tenaga pendidik yang diperbantukan dengan gaji negara tidak sia-sia. Semestinya guru negeri dapat meringankan beban orang tua siswa, karena yayasan tidak mengaji. Namun demikian adanya sekolah yang minim siswa apabila tidak dipikirkan bagaimana sebaiknya, akan sangat merugikan guru negeri yang bersangkutan.

02 Mei, 2008


Perkembangan Dunia Pendidikan Masih Fluktuatif

Perkembangan dunia pendidikan pada saat ini masih fluktuatif. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya prestasi yang muncul dan telah diukir, namun banyak juga hal yang bersifat kemunduran dari dunia pendidikan kita. Hal ini harus kita sadari dan harus segera difikirkan bagaimana cara untuk memperbaiki sekaligus mempertahankan prestasi-prestasi yang telah kita raih. Untuk itu, secara bersama-sama kita harus selalu berjuang untuk melakukan perubahan dan perbaikan agar peningkatan mutu maupun pemerataan pendidikan bisa terwujud.
Demikian dikatakan Bupati Kulon Progo H. Toyo Santoso Dipo yang bertindak sebagai inspektur upacara dalam acara Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) Jumat (2/5), di Halaman Pemkab Kulon Progo. Dalam kesempatan tersebut, upacara juga diikuti oleh Ketua DPRD Kulon Progo Drs. H. Kasdiyono, Wabup Drs. H. Mulyono, Muspida, jajaran eksekutif Pemkab Kulon Progo, karyawan-karyawati maupun anak-anak sekolah.
Perbaikan sistem pendidikan juga telah didengungkan oleh Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) yang tertuang dalam Rencana Stratejik (Renstra) pendidikan 2005-2009. Dimana Mendiknas telah menetapkan tiga pilar kebijakan yaitu, Pemerataan dan perluasan akses pendidikan, Peningkatan mutu, relevansi dan daya saing pendidikan serta Penguatan tata kelola, akuntabilitas dan berbaikan citra publik pendidikan.
Untuk mewujudkan hal tersebut, pemerintah telah melakukan sembilan terobosan yang berskala massal untuk tahun 2005-2007. Sembilan terobosan tersebut adalah, pendanaan pendidikan melalui berbagai bantuan pendidikan seperti, Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan Bantuan Khusus Muris (BKM), peningkatan kualitas kompetensi dan sertifikasi, penetapan penggunaan Teknologi Informasi, pembangunan sarana dan prasarana, rehabilitasi perbukuan, reformasi perbukuan dan administrasi, peningkatan mutu dan relevansi pendidikan, penguatan tata kelola dan akuntabilitas serta dilaksanakannya intensifikasi dan ekstensifikasi pendidikan.
Disisi lain, Bupati juga menyampaikan keterkaitan antara membangun dunia pendidikan dengan sistem Otonomi Daerah yang saat ini telah dilaksanakan. Karena peringatan Hardiknas yang hampir bersamaan dengan Peringatan Otda (25 April 2008). “Karena pelaksanaan Otda salah satunya bertujuan untuk memperbaiki sistem pelayanan kepada masyarakat. Yang membutuhkan sumberdaya yang baik dan berkualitas. SDM yang berkualitas idi bisa diciptakan melalui pendidikan yang baik dan bermutu,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Bupati juga menyerahkan hadiah serta bea siswa pendidikan dari berbagai perlombaan yang dilaksanakan pemerintah melalui Dinas Pendidikan. Yaitu, Lomba Sekolah Sehat tingkat Sekolah Dasar (SD), Lomba Sekolah Sehat untuk tingkat Taman Kanak-Kanak (TK), Lomba Gugus tingkat SD, Lomba Gugus Tingkat TK dan beasiswa bagi anak-anak sekolah dari PNS golongan II sebanyak 8 anak.